kumparan
Tekno & Sains6 Mei 2020 13:49

Indonesia Disebut Mustahil Bisa 10.000 Tes PCR Corona Per Hari, Ini Alasannya

Konten Redaksi kumparan
Swab test di Stasiun Bogor. Dok PT KCI
Swab test di Stasiun Bogor. Foto: Dok PT KCI
Beberapa pekan yang lalu, Presiden Joko Widodo pernah menargetkan Indonesia bisa menguji spesimen virus corona hingga 10 ribu tes per hari melalui uji swab dahak atau tes reverse-transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR).
ADVERTISEMENT
Namun hingga saat ini, target itu belum juga tercapai. Alih-alih meningkatkan, pemeriksaan yang dilakukan justru mengalami penurunan dari hari-hari sebelumnya. Per 4 Mei 2020, jumlah spesimen yang diperiksa 3.896, dan total spesimen yang dicek adalah 116.861.
Pemeriksaan spesimen pada Senin (4/5) kemarin mengalami penurunan dari hari sebelumnya, yakni 5.022‬ spesimen. Angka itu bahkan menjadi yang terendah dalam sepekan terakhir. Beberapa waktu lalu, uji spesimen sempat mengalami peningkatan sebanyak 7.000 dalam tiga hari. Namun belakangan, pengujian kembali turun di kisaran 5.000-6.000 dan kini 3.000 tes, dari target pemerintah 10 ribu tes per hari.
Menurut dr Teguh Haryo Sasongko, Ahli Genetika Molekuler dari Human Genome Center, Perdana University RCSI School of Medicine, target tes PCR COVID-19 10 ribu per hari tidak mungkin dicapai dalam waktu dekat, meski Indonesia melibatkan seluruh laboratorium yang ditunjuk pemerintah.
Tes swab stasiun Bekasi
Petugas medis mengambil sampel penumpang KRL Commuter Line saat tes swab di Stasiun Bekasi, Jawa Barat. Foto: ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah
Ini tak lain karena terbatasnya reagen atau cairan pereaksi kimia yang digunakan untuk mendeteksi virus. Kalaupun reagen telah tersedia, maka tenaga ahli yang terlatih untuk melakukan pengujian di laboratorium masih sangat terbatas.
ADVERTISEMENT
“Hitungan saya menunjukkan tes sebanyak itu tidak mungkin dicapai dalam waktu dekat walau melibatkan semua laboratorium yang telah ditunjuk di Indonesia,” tulis dr Teguh dalam The Conversation.
Berdasarkan data yang diperoleh per 28 April 2020, Indonesia telah melakukan tes 62.544 spesimen dengan PCR untuk mendeteksi virus corona. Dari jumlah tersebut, 84,8 persen dinyatakan negatif COVID-19 dan 15,2 persen atau 9.511 orang positif corona.
“Dengan memperhatikan pertambahan spesimen harian antara 23-28 April, saya menghitung kapasitas alat tes PCR Indonesia saat ini sekitar 3.000 spesimen per hari,” paparnya.
Jika data itu berasal dari 12 laboratorium yang ditunjuk, maka rata-rata kapasitas pengetesan setiap laboratorium berkisar 250 spesimen per hari. Dengan asumsi rata-rata yang sama, jika 60 laboratorium yang dilibatkan, maka Indonesia mampu melakukan 15.000 tes spesimen per hari.
ADVERTISEMENT
Riset berbasis pemodelan yang dilakukan oleh simcovID menggunakan data per 31 Maret menunjukkan, saat ini terdapat 32.000 kasus positif di Jakarta yang tidak terdeteksi. Sedangkan per 28 April 2020, kasus positif COVID-19 yang terkonfirmasi di Jakarta mencapai 4.002 orang.
Artinya, 42 persen dari total kasus virus corona di seluruh Indonesia disumbang oleh jakarta. Riset itu juga mengungkapkan bahwa Indonesia diperkirakan memiliki 76.190 kasus positif COVID-19 yang tersebar di masyarakat.
Dengan merujuk pada riset tersebut, Indonesia seharusnya melakukan tes PCR setidaknya 761.190 untuk mendapatkan angka kasus positif 76.190, sesuai riset tersebut. Angka ini merujuk standar rata-rata global bahwa 10 persen dari total PCR adalah positif. Sedangkan pemerintah, per 28 April 2020, hanya memiliki sekitar 8,2 persen kapasitas atau 62.544 tes dari yang seharusnya 761.190 tes.
RS Pertamina Jaya
Seorang dokter menunjukkan alat tes swab virus Corona berupa Polymerase Chain Reaction diagnostic kit (PCR) di Laboratorium Rumah Sakit Pertamina Jaya. Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
“Dengan kapasitas tes harian di angka 3.000 tes, tidak cukup hanya mengejar hingga 3-5 kali lipat atau 10.000-15.000 tes per hari, tapi diperlukan peningkatan 12 kali lipat atau 36.000 tes per hari dari saat ini. Dan mencapai angka itu sungguh sulit untuk Indonesia sekarang ini,” tulis dr Teguh.
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu, selain meningkatkan kapasitas tes harian PCR yang realistis, pemerintah juga harus melakukan karantina wilayah terfokus dan masif, dengan mengisolasi orang tanpa gejala (OTG), orang dalam pemantauan (ODP), dan pasien dalam pengawasan (PDP), di satu wilayah yang terpusat.
“Pemerintah harus melakukan kebijakan yang benar-benar memisahkan orang-orang dengan risiko infeksi dari masyarakat luas,” ujarnya.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)
****
Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan