Tekno & Sains
·
31 Oktober 2020 12:32

Ini Penyebab Turki Rawan Dihantam Gempa dan Tsunami

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Ini Penyebab Turki Rawan Dihantam Gempa dan Tsunami (33004)
Warga dan petugas mencari korban selamat di sebuah bangunan yang runtuh setelah gempa bumi, di provinsi pesisir Izmir, Turki, Jumat (30/10). Foto: Tuncay Dersinlioglu/REUTERS
Jumat 30 Oktober 2020, wilayah Turki dan Yunani diguncang gempa dahsyat berkekuatan 7,0 magnitudo, menurut survei geologi AS. Akibatnya, 20 bangunan di kota pesisir Izmir, Turki, roboh dan setidaknya 14 orang dilaporkan tewas, dua di antaranya adalah warga Yunani.
ADVERTISEMENT
Gempa tersebut terjadi pada pukul 14.51 waktu setempat. Pusat gempa berada di kedalaman 16,5 kilometer dan 17 kilometer lepas pantai Turki. Rekaman detik-detik bangunan roboh dan air laut tumpah ke pemukiman banyak tersebar di media sosial Twitter.
Menurut sebuah kantor berita Turki, Anadolu Agency, hingga saat ini upaya pencarian korban yang tertimbun di reruntuhan bangunan di Izmir masih terus dilakukan. Sementara dilaporkan The Washington Post, Gubernur Izmir, Yavuz Selim Kosger, mengatakan sejauh ini sudah ada 70 korban gempa Turki yang diselamatkan di balik puing-puing bangunan.
Selain menimbulkan guncangan keras, menurut Haluk Ozner, direktur Institut Penelitian Gempa dan Observatorium Kandilli yang berbasis di Istanbul, gempa tersebut juga menyebabkan tsunami kecil di distrik Seferihisar, Izmir.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan laporan sementara Turkey's Disaster and Emergency Management Presidency (AFA), total ada 438 orang yang mengalami luka-luka, baik ringan maupun berat. Sementara di Yunani, 19 orang dilaporkan mengalami luka-luka sejumlah bangunan rusak, dan dua orang dinyatakan tewas karena tersapu gelombang tsunami.
Hingga saat ini sudah terjadi lebih dari 100 aktivitas gempa susulan (aftershocks) sejak terjadinya gempa utama (mainshock).

Aktivitas Sesar Sisam

Turki menjadi salah satu negara paling rawan gempa karena berada di garis patahan Bumi. Gempa kali ini dipicu aktivitas Sesar Sisam (Sisam Fault) di Laut Aegea. Episenter gempa ini berada di Laut Aegea, tepatnya pada jarak 17 kilometer dari pesisir barat Turki.
Menurut Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Indonesia, mekanisme sumber gempa di Turki kali ini berupa patahan atau sesar dengan mekanisme pergerakan turun (normal fault).
ADVERTISEMENT
"Gempa ini dipicu oleh adanya aktivitas Sesar Sisam, sebuah sesar aktif dengan mekanisme pergerakan turun (normal fault) dengan panjang jalur sesar sekitar 30 km," kata Daryono.
Sesar Sisam berada dekat dengan Pulau Samos di Yunani. Ia juga dekat dengan Menderes Graben, sebuah wilayah patahan aktif dengan sejarah panjang gempa dengan sesar turun (normal fault).
"Karena mekanisme patahannya yang bergerak turun dan hiposenter gempanya sangat dangkal hanya sekitar 6 km, maka wajar jika gempa ini memicu terjadinya tsunami. Kejadian tsunami akibat gempa ini didokumentasikan dengan baik oleh banyak alat pengukur pasang surut dan saksi mata di beberapa pulau di Yunani dan pantai di Turki," ujar Daryono.
Di masa lalu, catatan sejarah telah membuktikan terjadi beberapa kali gempa kuat di sana. Pada 1999, gempa bumi berkekuatan 7,6 magnitudo melanda Izmit, tenggara Istanbul. Kejadian itu menewaskan setidaknya 17.000 orang.
ADVERTISEMENT
Pada 2011 gempa kembali mengguncang Van, sebuah kota di Turki timur, menewaskan lebih dari 500 orang. Tercatat, 29 gempa bumi berkekuatan 6,0 atau lebih magnitudo telah melanda Turki sepanjang abad 21.