Tekno & Sains
·
26 Agustus 2020 21:17

Juru Wabah Sebut Pembukaan Bioskop Sangat Berisiko Corona, Potensi Jadi Klaster

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Juru Wabah Sebut Pembukaan Bioskop Sangat Berisiko Corona, Potensi Jadi Klaster (126815)
Suasana bioskop CGV yang tutup di Grand Indonesia, Jakarta, Senin (23/3). Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Rencana pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk membuka kembali bioskop sangat berisiko untuk menciptakan klaster baru corona, kata ahli epidemiologi. Potensi penularan tersebut ada karena bioskop konvensional adalah ruangan tertutup (indoor).
ADVERTISEMENT
Menurut Dicky Budiman, seorang epidemiolog dari Universitas Griffith di Australia, protokol kesehatan yang akan diterapkan di bioskop tak menjamin mencegah orang tertular virus corona. Karena transmisi penularan di masyarakat masih relatif tinggi, protokol kesehatan tidak akan sangat efektif dalam mencegah penularan.
"Apa yang terjadi di masyarakat ini, pola penularan yang masih serius ini akan mempengaruhi dan terefleksi dalam seluruh kegiatan yang sifatnya indoor. Mau di bioskop, kantor, sekolah, segala macam," kata Dicky saat dihubungi kumparan, Rabu (26/8).

"Oleh karena itu, risiko dalam pembukaan bioskop tentu akan merefleksikan apa yang terjadi transmisi di masyarakat. Artinya, potensi terjadinya klaster bioskop akan besar."

- Dicky Budiman, Epidemiolog Universitas Griffith

Dicky menambahkan, sejauh ini belum ada dasar epidemiologi yang kuat untuk pemerintah provinsi DKI Jakarta membuka kembali bioskop. Dia pun mengingatkan bahwa kasus virus corona di Indonesia masih dalam tren yang meningkat dan sedang masuk fase kritis sampai akhir tahun 2020.
Juru Wabah Sebut Pembukaan Bioskop Sangat Berisiko Corona, Potensi Jadi Klaster (126816)
Ilustrasi menonton bioskop. Foto: WANG ZHAO / AFP
Kritik yang dilontarkan Dicky ini muncul setelah pemerintah provinsi DKI Jakarta kembali berencana membuka bioskop dalam waktu dekat.
ADVERTISEMENT
"Dalam waktu dekat ini kegiatan bioskop di Jakarta akan kembali dibuka," kata Gubernur Anies Baswedan saat konferensi pers virtual di BNPB, Rabu (26/8). "Protokol kesehatan akan ditegakkan lewat regulasi detail dan pengawasan yang ketat sehingga pelaku industri memberikan jasa tanpa memberikan risiko besar dan bagi warga ketika berkegiatan akan aman."
Anies menjelaskan, regulasi aktivitas di bioskop tengah disusun secara detail. Dia berpesan kepada para pengusaha dan masyarakat harus mentaati semua protokol yang ditetapkan.

Disiplin Masyarakat Masih Rendah

Rencana pembukaan bioskop, bagaimanapun, bukan satu hal yang baru. Pada Juli 2020, Pemprov DKI Jakarta sempat mengizinkan bioskop kembali beroperasi. Namun, izin tersebut tak berlangsung lama karena menuai polemik.
Anies sendiri mengaku bahwa para pelaku industri dan pengusaha bioskop sudah berkomunikasi intens dengan pihaknya sejak Juni 2020. Saat itu, Jakarta baru mulai memasuki Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Transisi.
Juru Wabah Sebut Pembukaan Bioskop Sangat Berisiko Corona, Potensi Jadi Klaster (126817)
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberikan keterangan pers di Balai Kota, Jakarta. Foto: Pemprov DKI Jakarta
Pembicaraan dengan pengusaha bioskop tersebut terkait dengan kesiapan mereka dalam menyiapkan protokol kesehatan ketat saat bioskop kembali dibuka. Sejak itu, kata Anies, para pengusaha sudah siap dan tinggal menunggu Pemprov DKI memberikan lampu hijau agar bioskop dibuka kembali.
ADVERTISEMENT
Meski pengusaha bioskop mengaku siap mematuhi aturan, para pakar justru sangsi bahwa masyarakat mampu disiplin melakukannya.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), misalnya, sempat berdiskusi dan mengimbau Pemprov DKI Jakarta untuk menunda pembukaan bioskop sampai dengan waktu yang belum dapat ditetapkan.
Menurut Dekan FKUI, Ari Fahrial Syam, imbauan itu didasari dari kedisiplinan masyarakat yang masih rendah dalam mematuhi protokol kesehatan, serta bukti ilmiah baru bahwa virus corona dapat menyebar lewat udara, sehingga meningkatkan risiko penyebaran di ruangan tertutup seperti bioskop.
“Tanggung jawab masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan seperti menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan sampai saat ini masih kurang,” kata Ari pada akhir Juli 2020. “Peningkatan jumlah kasus di DKI Jakarta saat masa transisi PSBB selain karena adanya active case finding tetapi juga ada faktor masyarakat abai menerapkan protokol kesehatan.”
Juru Wabah Sebut Pembukaan Bioskop Sangat Berisiko Corona, Potensi Jadi Klaster (126818)
Ilustrasi menonton bioskop. Foto: WANG ZHAO / AFP
Tantangan pembukaan bioskop di masa corona tak hanya soal kepatuhan pada protokol kesehatan. Menurut Dicky, jika izin pembukaan bioskop sah, orang yang pergi ke sana perlu dipantau secara berkala.
ADVERTISEMENT
"Harus dipantau dalam satu-dua minggu. Dicatat orangnya, setelah dua minggu diperiksa. Nah ini, apakah kita bisa melakukan itu?" kata dia.
Jakarta sendiri memang memiliki tingkat tes PCR di atas minimum yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dalam sepekan terakhir, DKI Jakarta telah memeriksa 44.635 orang dari batas minimum 10.645 orang yang ditetapkan WHO.
Meski kemampuan tes DKI Jakarta sudah melampaui batas minimum WHO, rasio orang yang positif corona dari tes PCR itu mencapai 10 persen. Dicky pun menyebut bahwa mencegah lebih baik ketimbang terinfeksi.

Alternatif Pembukaan Bioskop

Menurut dia, satu-satunya solusi dalam polemik pembukaan bioskop di masa pandemi corona adalah dengan inovasi. Sebagai contoh, alih-alih membuka bioskop konvensional di ruang tertutup, kita bisa membuka bioskop terbuka di mana penontonnya menyaksikan dari kendaraan masing-masing.
ADVERTISEMENT
"Solusi yang bisa dilakukan sebenarnya adalah melakukan inovasi. Seperti yang terjadi di beberapa tempat di luar (negeri), bioskop yang terbuka, outdoor. Jadi, seperti penontonnya membawa mobil. Ini yang dulu di beberapa tempat di Indonesia ada. Itu akan relatif lebih meminimalisir terjadinya penularan. Jadi outdoor. Kalau indoor, sangat berisiko," kata Dicky.
"Sekali lagi, jangan ambil risiko ini penyakit yang sembuh dengan sendirinya, tapi ingat fakta bahwa penyakit ini adalah penyakit baru, di mana orang tidak bergejala pun memiliki risiko untuk mengalami gangguan organ tubuh, penurunan kualitas kesehatan. Jadi, tetap, mencegah lebih baik daripada terinfeksi," pungkasnya.
Juru Wabah Sebut Pembukaan Bioskop Sangat Berisiko Corona, Potensi Jadi Klaster (126819)
Dua orang pengunjung menyaksikan pemutaran film dari dalam mobil di area parkir Mall Alam Sutera, Kota Tangerang, Banten, Sabtu (1/8/2020). Foto: FAUZAN/ANTARA FOTO