kumparan

Komentar Rasialis Bikin Calon Mahasiswa Ini Gagal Kuliah di Harvard

Kyle Kashuv, remaja yang gagal masuk Harvard karena bikin komentar bernada rasialisme.
Kyle Kashuv, remaja yang gagal masuk Harvard karena pernah bikin komentar bernada rasialisme. Foto: AP Photo/Michael Conroy, File
Impian seorang remaja 18 tahun asal Florida, Amerika Serikat, untuk kuliah di Harvard University kandas. Kegagalannya disebabkan oleh komentar rasialis yang ia buat sendiri di internet sekitar 1,5 tahun sebelumnya.
ADVERTISEMENT
Komentar bernada rasialisme yang remaja itu buat antara lain berisi tentang pandangan antisemit, sikap permusuhan atau prasangka terhadap kaum Yahudi. Selain itu, komentarnya juga berisi cercaan untuk orang-orang kulit hitam.
Remaja yang menulis komentar rasialis itu bernama Kyle Kashuv. Sebenarnya, Kashuv telah diterima masuk ke Harvard University untuk tahun ajaran 2019 ini. Namun pihak Harvard kemudian memutuskan untuk membatalkan penerimaan Kashuv karena komentar rasialisnya itu.
Pada 3 Juni 2019 lalu, Harvard University mengirimkan surat pembatalan penerimaan Kashuv. Dalam surat itu, Harvard University menulis bahwa pihak komite penerimaan menilai dengan serius kualitas kedewasaan serta moral calon mahasiswa Harvard.
Menurut Kashuv, Harvard University telah menanyakan langsung kepada dirinya perihal komentar rasialisnya itu. Kashuv mengatakan bahwa ia telah meminta maaf atas komentarnya.
ADVERTISEMENT
"Kami waktu itu masih berusia 16 tahun. Kami berusaha untuk terlihat ekstrem dan mengejutkan dengan membuat komentar-komentar bodoh, yang menggunakan bahasa kasar dan menyakitkan," tulis pernyataan minta maaf Kashuv yang dilansir ABC News.
Kashuv juga telah mengirimkan penjelasan kepada Harvard atas komentar rasialisnya. Kashuv menjelaskan bahwa komentar itu tidak menggambarkan siapa dia sekarang.
Kashuv mengungkapkan kekecewaannya di Twitter. Menurutnya, pembatalan ini menunjukkan bahwa Harvard University menganggap seseorang tidak bisa berkembang menjadi lebih baik.
"Sikap Harvard yang memutuskan bahwa seseorang tidak bisa berkembang, terutama setelah kejadian yang mengubah hidup, seperti menjadi korban penembakan massal, sangat mengkhawatirkan," tulis Kashuv.
"Seharusnya Harvard, yang dianggap sebagai puncak dari institusi edukasi tinggi, memahami hal ini. Meski, Harvard juga memiliki sejarah yang buruk juga," lanjut dia.
ADVERTISEMENT
Kashuv adalah korban selamat dari kejadian penembakan di Marjory Stoneman Douglas High School, Florida, AS, para 14 Februari 2018 lalu. Sejak saat itu, Kashuv menjadi salah satu aktivis yang gencar mendorong hak kepemilikan senjata. Dan menurutnya, kejadian itu pulalah yang membuat dirinya pada saat itu kerap melontarkan komentar bernada rasialisme di internet.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan