Tekno & Sains
·
17 Juli 2021 15:34
·
waktu baca 2 menit

LIPI Buat Ventilator Sendiri, Punya 2 Mode Bantuan Napas Pasien Covid

Konten ini diproduksi oleh kumparan
LIPI Buat Ventilator Sendiri, Punya 2 Mode Bantuan Napas Pasien Covid (1060652)
searchPerbesar
Ilustrasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi (P2ET) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tengah mengembangkan ventilator untuk penanganan pasien COVID-19. Ventilator tersebut, yang diberi nama Sivenesia (Smart Innovative Ventilator Indonesia) sedang fase uji klinis agar mendapat izin edar penggunaan.
ADVERTISEMENT
Eko Joni Pristianto, peneliti P2ET LIPI, menyebut bahwa Sivenesia memiliki dua mode operasi, yakni CPAP dan BiPAP. Kedua mode tersebut bekerja berdasarkan tekanan (pressure based), yang bertujuan mencegah tersumbatnya napas yang banyak dialami oleh penderita COVID-19, serta untuk melatih otot-otot pernapasan sebelum pasien bisa bernapas secara normal.
“CPAP dan BiPAP ini tergolong dalam sistem pengobatan non-invasif (tanpa pembedahan) yang paling efektif dan merupakan pilihan pertama serta paling banyak digunakan untuk pasien yang mengalami gangguan pernapasan,” jelas Eko dalam keterangan resminya.
Mode CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) merupakan ventilator yang menghasilkan satu level tekanan udara positif secara konstan dan terus menerus diberikan kepada pasien dengan tujuan supaya saluran pernapasan pasien tetap terbuka.
ADVERTISEMENT
Sedangkan mode BiPAP (Bi-level Positive Airway Pressure) merupakan ventilator yang dapat menghasilkan dua level tekanan udara positif yang berbeda, yaitu pada saat menarik napas (inspirasi) dan pada saat mengembuskan napas (ekspirasi).
Dalam keterangan resminya LIPI menjelaskan bahwa mode BiPAP lebih nyaman digunakan oleh pasien corona dibanding mode CPAP. Sebab, mode BiPAP membantu tekanan udara pasien saat menarik dan mengembuskan napas, berbeda dengan mode CPAP yang hanya membantu tekanan udara saat bernapas.
Menurut Eko, ventilator dengan mode CPAP dan BiPAP biasanya disarankan oleh dokter untuk pasien penderita sleep apnea (gangguan tidur serius), yaitu gejala di mana sistem pernapasan pasien akan berhenti beberapa saat selama tidur. Selain itu, tujuan penggunaan ventilator ini adalah menjaga supaya saluran pernapasan pasien tetap terbuka, sementara perbedaan mendasar dari mode CPAP dan BiPAP ini adalah masalah kenyamanan pada saat pasien bernapas.
ADVERTISEMENT
“Karena ventilator ini merupakan peralatan medis yang berfungsi sebagai alat bantu pernapasan, maka penggunaan ventilator mode ini harus dengan saran, petunjuk dan pantauan dokter,” terangnya.

Ventilator Sivenesia buatan LIPI masuk tahap uji klinis

Sivenesia telah melalui serangkaian tahapan pengujian, di antaranya adalah pengujian skala laboratorium sebagai tahap awal pengujian. Dalam fase ini, pengujian menitik beratkan kepada masalah teknis dengan mengacu pada standar yang telah ditetapkan.
LIPI Buat Ventilator Sendiri, Punya 2 Mode Bantuan Napas Pasien Covid (1060653)
searchPerbesar
Ilustrasi ventilator Foto: Maulana Saputra/kumparan
“Kemudian, uji fungsi telah kami lakukan di Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Kementerian Kesehatan RI dan telah lulus uji serta mendapat sertifikasi dengan nomor YK.01.03/XLVIII.2/PK/2021 (025 untuk CPAP & 026 untuk BiPAP). Uji fungsi ini meliputi serangkaian pengujian seperti kinerja sistem (performance), ketahanan sistem (endurance) dan keamanan kelistrikan selama 21 hari tanpa berhenti,” kata Eko.
ADVERTISEMENT
“Tahap selanjutnya, kami akan melakukan uji klinis Sivenesia sebagai tahapan selanjutnya untuk mendapatkan izin edar sebagai wujud diseminasi hasil penelitian kami,” pungkasnya.
Ventilator sendiri merupakan alat bantu pernapasan yang penting bagi pasien corona bergejala berat. Ketersediaan ventilator sangat penting, khususnya tatkala Indonesia tengah mengalami lonjakan corona dalam 2 bulan terakhir.
Pada Jumat (16/7), Indonesia mencatat rekor pertambahan kasus corona hingga 54.517 orang dan kematian 991 pasien corona dalam waktu 24 jam.