Virus Corona-Italia-Cover 1:1

Lockdown karena Virus Corona, Polusi Udara di China dan Italia Berkurang Drastis

18 Maret 2020 13:10 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Staf medis menggelar perayaan setelah pasien corona dipulangkan ke rumah dari Rumah Sakit Sementara di Wuhan, Hubei, China. Foto: AFP/STR
zoom-in-whitePerbesar
Staf medis menggelar perayaan setelah pasien corona dipulangkan ke rumah dari Rumah Sakit Sementara di Wuhan, Hubei, China. Foto: AFP/STR
Virus corona menciptakan mimpi buruk bagi penduduk bumi. Namun siapa sangka, virus tersebut rupanya punya konsekuensi positif untuk lingkungan. Berdasarkan citra satelit NASA, jumlah polusi udara di langit China berkurang drastis.
Data yang dikumpulkan dari satelit Sentinel-5 ESA, misalnya, menunjukkan penurunan nitrogen dioksida yang signifikan. Gas yang sebagian besar dihasilkan mobil, truk, pembangkit listrik dan sejumlah pabrik itu lenyap saat dilihat pada 20-25 Februari 2020.
"Ini pertama kalinya saya melihat penurunan drastis di area seluas itu untuk satu waktu tertentu," kata Fei Liu, peneliti kualitas udara di Goddard Space Flight Center NASA, seperti dikutip Science Alert, Senin (2/3)
Beda kadar polusi di China sebelum dan sesudah pandemi virus corona. Foto: Dok. Joshua Stevens/Copernicus Sentinel 5P/ESA
Padahal satu bulan sebelumnya, 1-20 Januari 2020, citra satelit menangkap kadar polusi di udara masih cukup tinggi. China sendiri mulai memberlakukan lockdown di Provinsi Hubei pada 23 Januari 2020.
Berdasarkan analisis Liu, tak ada faktor lain di luar virus corona yang mampu membuat langit menjadi lebih bersih. Lockdown, kata dia, menyebabkan aktivitas manusia yang menggunakan karbon menjadi lebih sedikit.
"Saya tidak terkejut karena banyak kota di seluruh negeri telah mengambil langkah-langkah untuk meminimalkan penyebaran virus," katanya.
Perbandingan polutan di Kota Wuhan, China, saat ada pandemi virus corona. Foto: Dok. Joshua Stevens/Copernicus Sentinel 5P/ESA
Menurut Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (CREA), sejak 3 Februari- 1 Maret 2020, emisi CO2 di negeri tirai bambu itu turun 25 persen. Hal ini jelas merupakan kabar baik. Sebabnya, China selama ini tercatat sebagai negara dengan tingkat pencemaran udara tertinggi dunia.
China sedikitnya menyumbang 30 persen dari total emisi CO2 di dunia setiap tahunnya. Pengurangan emisi dalam negeri yang besar pun berdampak positif pada kadar CO2 di tataran global.
“Ini lebih dramatis daripada apa pun yang saya lihat dalam upaya mengurangi emisi," kata Lauri Myllyvirta, pemimpin analis CREA, seperti dilansir CNN, Senin (17/3).
Suasana di kota Wenzhou, China. Foto: BORIS CAMBRELENG / AFP
Berdasarkan data Kementerian Ekologi dan Lingkungan China, jumlah rata-rata hari udara berkualitas baik pun naik 21,5 persen sepanjang Februari. Kenaikan itu dihitung saat dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya.
Bukan Hanya di China
Hong Kong juga menjadi negara yang terdampak positif akibat memutuskan lockdown. Di negara itu, polusi udara utama turun hampir sepertiganya. Terhitung dari Januari hingga Februari.
Berdasarkan hasil pemantauan di tiga daerah tersibuk di Hong Kong, yaitu Ibu Kota, Cause Way Bay, dan Mongkok, polutan partikel halus PM2.5 menurun sebesar 32 persen.
Sementara itu, polutan partikel besar PM10 turun hingga 29 persen. Nitrogen dioksida (NO2) pun berkurang hingga 22 persen.
Warga menggunakan masker di Mongkok, Hong Kong. Foto: REUTERS/Tyrone Siu
"Ada banyak orang yang bekerja dari rumah. Hal ini mengurangi kemacetan lalu lintas," kata Patrick Fung, ketua Jaringan Udara Bersih.
Colosseum di Roma, Italia, ditutup imbas virus corona. Foto: AFP/Filippo Monteforte
Sama halnya dengan China dan Hong Kong, Italia juga kini menikmati udara yang lebih bersih. Berdasarkan citra satelit ESA's Sentinel-5P, konsentrasi nitrogen dioksida di Italia yang diproduksi oleh mobil dan pembangkit listrik mengalami penurunan drastis sejak 1 Januari hingga 12 Maret 2020.
Italia kini merupakan negara dengan jumlah kasus corona terbesar kedua setelah China. Per 18 Maret 2020, 31.506 orang positif corona, 2.503 orang meninggal dunia, dan 2.941 sembuh. Sejak 11 Maret 2020, Italia sudah menerapkan lockdown total.
"Saya rasa (pengurangan karbon) akibat sebagian besar mobil diesel tidak berjalan," kata Emanuele Massetti, seorang ahli ekonomi perubahan iklim di Georgia Tech University seperti dilansir Global News.
Suasana sepi di Naples, Italia. Foto: REUTERS/Ciro de Luca
"Dalam beberapa hari, mereka akan menikmati udara terbersih yang pernah ada di Italia utara,"imbuhnya.
Pembunuh Itu Bernama Polusi
Menurut WHO,polusi udara merupakan masalah lingkungan yang dapat menimbulkan risiko serius bagi kesehatan. Setiap tahunnya polusi udara menyebabkan 7 juta kematian.
Kematian akibat polusi udara tercatat tiga kali lipat lebih besar dibandingkan dengan kematian yang ditimbulkan oleh malaria, tuberkulosis, dan AIDS.
Suasana jalan tol di Delhi, India, yang diselimuti polusi. Foto: Reuters/Anushree Fadnavis
Polusi udara menyebabkan 26 persen kematian akibat penyakit jantung dan 24 persen kematian akibat stroke. Selain itu, polusi udara juga menyebabkan 43 persen penyakit paru obstruktif kronik dan 29 persen kanker paru-paru.
Berdasarkan data Global Alliance on Health and Pollution (GAHP) yang dirilis tahun 2019, India dan China menempati posisi paling atas dengan angka kematian tertinggi akibat polusi udara. Masing-masing sebesar 2,3 juta dan 1,9 juta jiwa.
Kondisi langit Jakarta ketika berpolusi. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Sementara itu, Indonesia berada di posisi empat, dengan jumlah kematian 233 ribu jiwa setiap tahun. Posisi ketiga ditempati oleh Nigeria dengan jumlah kematian mencapai 280 ribu jiwa per tahun.
Erat kaitannya dengan itu, ilmuwan di Pusat Penelitian Iklim Internasional di Oslo (Cicero) mengungkapkan bahwa penuruanan polusi udara di China akibat pandemi corona telah menyelamatkan 50 ribu hingga 100 ribu orang dari kematian dini akibat polusi udara.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten