kumparan
search-gray
Tekno & Sains5 Desember 2018 11:00

Mengenal Calon Observatorium Terbesar se-Asia Tenggara di NTT

Konten Redaksi kumparan
Ilustrasi observatorium yang besar
Ilustrasi observatorium yang besar (Foto: ESO/José Francisco Salgado via Wikimedia Commons)
Indonesia bakal punya observatorium baru. Observatorium Nasional Timau di pegunungan Timau, Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), ini akan membantu para peneliti Indonesia mempelajari rahasia alam semesta dan digadang-gadang akan menjadi observatorium terbesar se-Asia Tenggara.
ADVERTISEMENT
Peneliti Pusat Sains Antariksa Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Pussainsa LAPAN) Rhorom Priyatikanto mengatakan bahwa gedung teleskop utama observatorium terbaru LAPAN ini diharapkan bisa selesai pada akhir 2019 nanti.
"Kami sudah secara resmi akan memulai pembangunan gedung untuk teleskop yang paling besar. Proses konstruksi itu direncanakan dimulai tahun ini (2018) hingga berakhir kira-kira akhir tahun 2019," ujarnya saat dihubungi kumparanSAINS, Selasa (4/12).
Lantas apa saja kehebatan Observatorium Nasional Timau di NTT?
Observatoirum Bosscha, Lembang
Observatoirum Bosscha, Lembang (Foto: Dok. bossch.itb.ac.id)
Menurut Rhorom, observatorium baru itu akan memiliki teleskop yang jauh lebih besar dibandingkan dengan teleskop di Observatorium Bosscha di Lembang, Bandung.
"Untuk saat ini direncanakan Observatorium Nasional Timau itu akan dilengkapi teleskop optik dengan diameter 3,8 meter. Artinya enam kali lipat lebih besar dibandingkan dengan (teleskop) yang ada di Observatorium Bosscha sekarang," tutur Rhorom.
ADVERTISEMENT
Observatorium di NTT ini akan memiliki teleskop utama Teleskop Ritchey-Chrétien berdiameter 3,8 meter yang dilengkapi dengan cermin tersegmentasi serta Nasmyth foci yang mirip dengan teleskop luar angkasa milik Kyoto University, Jepang.
"Teleskop yang ada di Okayama (Jepang) adalah kakaknya teleskop yang akan dibangun di Kupang," kata Rhorom.
Pembangunan Observatorium Nasional Timau
Pembangunan Observatorium Nasional Timau (Foto: LAPAN)
Rhorom menjelaskan bahwa teleskop di Observatorium Nasional Timau mampu mendeteksi objek yang lebih redup 40 kali lipat lebih baik dibanding teleskop di Observatorium Bosscha.
Di samping itu, observatorium akan dilengkapi dengan teleskop-teleskop lain yang lebih kecil. Ada teleskop kelas diameter satu meter atau lebih rendah untuk mendukung pengamatan. Selain itu, observatorium akan dilengkapi dengan radio teleskop untuk melakukan pengamatan galaksi.
Rhorom juga mengatakan bahwa nanti teleskop di Observatorium Nasional Timau bisa diprogram untuk bekerja otomatis. "Ini bisa dikatakan sebagai pengamatan secara otonom. Astronom atau pengguna hanya tinggal kasih perintah dalam bentuk daftar yang bisa dilakukan setiap sebulan atau bahkan satu tahun sekali," ujar dia.
Lokasi observatorium di Kupang, NTT
Lokasi observatorium di Kupang, NTT (Foto: Dok. LAPAN)
Di samping itu, Observatorium Nasional Timau juga bisa memeriksa cuaca antariksa di bagian ionosfer. Menurut Rhorom, nyaris semua komunikasi menggunakan radio terpengaruh ionosfer.
ADVERTISEMENT
"Ionosfer itu adalah salah satu komponen cuaca antariksa yang penting sekali. Radio komunikasi, navigasi, dan juga misalkan cara ATC (air traffic control) berkomunikasi dengan pesawat itu melakukan gelombang radio," papar Rhorom.
"Gelombang radio ini terpengaruh oleh ionosfer. Jadi kalau seandainya ada gangguan pada ionosfer, maka sinyal komunikasi itu juga terganggu. Maka dari itu, ionosfer perlu dipelajari dan senantiasa dimonitor," pungkasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white