Tekno & Sains18 Maret 2018 19:34

Merokok Dapat Tingkatkan Risiko Gangguan Pendengaran

Konten Redaksi kumparan
Merokok Dapat Tingkatkan Risiko Gangguan Pendengaran (12820)
Ilustrasi rokok. (Foto: REUTERS/Eric Gaillard)
Sudah banyak studi yang menunjukkan kaitan antara merokok dan masalah kesehatan. Bahkan pemerintah Indonesia menggunakan gambar-gambar penyakit yang diakibatkan oleh merokok dalam produk rokok, seperti gambar mulut dan gigi yang rusak akibat kanker mulut, tenggorokan yang bolong akibat kanker tenggorokan, dan paru-paru yang menghitam akibat kanker paru-paru serta bronkitis.
ADVERTISEMENT
Penelitian terbaru di Jepang menambah lagi daftar bahaya yang disebabkan merokok, yaitu meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami gangguan pendengaran atau tuli.
Partisipan penelitian itu menjaring hampir 50 ribu pekerja di Jepang yang berusia antara 20 hingga 64 tahun dengan pendengaran yang sehat. Setelah diawasi selama delapan tahun, 5.100 di antara mereka mengalami kehilangan pendengaran.
Ternyata, kemungkinan terjadinya ketulian paling tinggi terjadi pada mereka yang merokok. Para partisipan yang merokok memiliki kemungkinan mengalami ketulian 60 persen lebih besar dibandingkan mereka yang tidak merokok. Mereka kesulitan untuk memahami pembicaraan saat orang berbisik.
Selain itu, merokok juga meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami ketulian frekuensi rendah sehingga mereka sulit memahami suara yang berat.
“Semakin sering merokok, semakin besar kemungkinan mereka mengalami ketulian,” kata salah satu penulis studi, Huanhuan Hu dari Department of Epidemiology and Prevention di National Center for Global Health and Medicine, Tokyo, seperti dilansir Reuters.
Merokok Dapat Tingkatkan Risiko Gangguan Pendengaran (12821)
Telinga anak (Foto: Pixabay)
Di awal penelitian, rata-rata partisipan berusia sekitar 40 tahun, yang 19 ribu di antaranya adalah perokok (sudah merokok lebih dari seratus batang seumur hidup), lalu sekitar 9.800 orang mantan perokok, dan 21 ribu lainnya tidak pernah merokok.
ADVERTISEMENT
Perokok berat cenderung mengalami kelebihan berat badan, memiliki masalah kesehatan kronis seperti hipertensi dan diabetes, dan memiliki pekerjaan dengan tingkat kebisingan kerja yang lebih tinggi. Setiap tahun selama penelitian, peserta menjalani tes pendengaran yang komprehensif.
Dibandingkan dengan bukan perokok, orang yang merokok hingga 10 batang rokok seharinya 40 persen lebih mungkin mengalami gangguan pendengaran frekuensi tinggi dan 10 persen lebih besar kemungkinan mengalami gangguan pendengaran frekuensi rendah.
Lalu, penelitian itu juga menunjukkan perokok yang mengkonsumsi 11 sampai 20 batang rokok sehari 60 persen lebih berisiko mengalami gangguan pendengaran frekuensi tinggi dan 20 persen lebih berisiko mengalami gangguan pendengaran frekuensi rendah.
Dan bagi perokok berat, yang mencapai lebih dari 20 batang rokok sehari, 70 persen di antaranya lebih berisiko mengalami gangguan pendengaran frekuensi tinggi dan 40 persen untuk gangguan pendengaran frekuensi rendah.
Merokok Dapat Tingkatkan Risiko Gangguan Pendengaran (12822)
Ilustrasi rokok (Foto: Thinkstock)
Penyebab belum diketahui
ADVERTISEMENT
Namun, penelitian tersebut belum bisa menemukan penyebab mengapa merokok dapat meningkatkan risiko ketulian.
Untungnya, menurut Hu, efek kehilangan pendengaran ini masih bisa dikurangi apabila para perokok mulai berhenti merokok.
“Risiko mengalami gangguan pendengaran meningkat seiring dengan jumlah rokok yang dihisap per hari, jika berhenti merokok tidak mungkin, cobalah mengurangi jumlah rokok yang dihisap," kata Hu.
Dr. Matteo Pezzoli, dokter spesialis pendengaran di Rumah Sakit San Lazzaro di Alba, Italia, juga mengatakan bahwa mengurangi rokok dapat membantu menjaga telinga agar tetap sehat.
"Studi tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa ada hubungan langsung antara jumlah rokok yang dihisap dan ketulian," kata Pezzoli.
"Untuk tetap memiliki pendengaran sehat, selain berhenti merokok, penting untuk menjalani gaya hidup sehat dan meningkatkan aktivitas olahraga," tambah Pezzoli. "Penting untuk melindungi telinga Anda dari paparan suara keras yang berkepanjangan."
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white