kumparan
21 Agustus 2018 6:54

Nyamuk Lebih Suka Menggigit Tubuh Manusia yang Seperti Ini

Ilustrasi Nyamuk (Foto: FotoshopTofs/Pixabay)
Dari sekitar 3.000 jenis nyamuk yang ada di Bumi, ternyata hanya sedikit yang menyukai darah manusia. Dua di antara sedikit nyamuk tersebut adalah Aedes aegypti yang menyebabkan DBD dan Anopheles gambiae yang menyebabkan malaria.
ADVERTISEMENT
Selain hanya sedikit jenis nyamuk yang suka menghisap darah manusia, ternyata nyamuk-nyamuk ini juga suka memilih tubuh manusia yang akan mereka hisap darahnya. Oleh karena itu, ada orang-orang yang rupanya lebih “dicintai” nyamuk alias lebih rentan digigit oleh nyamuk.
Orang-orang seperti apa yang darahnya lebih rentan dihisap oleh nyamuk?
Richard Halfpenny, dosen ilmu biologi di Staffordshire University menjelaskan di The Conversation bahwa semua spesies nyamuk menggunakan karbon dioksida sebagai indikator jarak jauh bahwa ada mangsa di dekatnya, termasuk manusia. “Namun, CO₂ ada di mana-mana dan hanya memberikan sedikit informasi untuk membantu spesialis nyamuk mengidentifikasi target yang lebih disukai (nyamuk),” tulisnya.
Jadi, Halfpenny menjelaskan bahwa selain CO₂, hal lain yang dapat menarik perhatian nyamuk adalah asam laktat yang terdapat pada bau tubuh manusia. Selain asam laktat, beberapa senyawa seperti amonia, asam karboksilat, aseton, dan sulcatone juga membuat manusia beraroma menarik bagi nyamuk.
Ilustrasi Bau Badan (Foto: Thinkstock)
Bukan hanya senyawa-senyawa kimia tersebut, mikrobiota alias kumpulan mikroorganisme berupa bakteri dan jamur non-patogen yang hidup di pori-pori kulit dan folikel rambut juga bisa menarik perhatian nyamuk. Pasalnya, bau yang mereka keluarkan dalam bentuk senyawa organik yang mudah menguap bisa menambah perhatian nyamuk terhadap tubuh orang yang dihinggapi mikrobiota tersebut.
ADVERTISEMENT
Komposisi mikrobiota pada kulit seseorang ini tergantung pada lingkungan orang tersebut, apa yang ia makan, dan di mana ia tinggal. Apa pun yang seseorang sentuh, makan, minum, dan cuci dapat mempengaruhi jumlah mikroba dalam tubuhnya.
Nyamuk Anopheles (Foto: Wikimedia Commons)
Selain dipengaruhi faktor lingkungan, Halfpenny juga menambahkan bahwa faktor genetik seseorang juga dapat sedikit mempengaruhi mikrobiota kulit. Variasi genetik dapat mempengaruhi apakah kulit kita dapat menjadi tempat hidup bagi mikrobiota.
Sebagian orang memiliki kondisi genetik yang bisa membuat tubuhnya memproduksi protein yang yang bertindak untuk menghalangi dan mencegah mikroba terbentuk dan tumbuh di kulitnya. Namun sebagian orang lainnya juga memiliki kondisi tubuh yang banyak mengeluarkan keringat dan bau keringat tertentu.
Bau badan akibat berkeringat (Foto: Thinstock)
Nah, tingkat produksi keringat dan variasi dalam komposisi kimia dalam keringat dapat menyebabkan tubuh manusia menjadi lebih menarik bagi mikroba. Dan semakin banyak mikroba pada tubuh seseorang, maka orang tersebut akan semakin menarik bagi nyamuk.
ADVERTISEMENT
Jadi, orang-orang yang pada tubuh mereka terdapat banyak senyawa kimia seperti yang disebut di atas dan banyak mikrobiota itulah yang ternyata lebih diminati untuk digigit oleh nyamuk.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan