Tekno & Sains14 September 2020 11:14

Peneliti Temukan Risiko Penularan Corona saat Makan di Restoran

Konten Redaksi kumparan
Peneliti Temukan Risiko Penularan Corona saat Makan di Restoran (302483)
Ilustrasi dapur restoran Foto: Shutter Stock
Riset terbaru yang dibuat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat menemukan potensi penularan corona saat orang makan di restoran. Mereka menemukan, orang dewasa dengan hasil tes positif corona kira-kira dua kali lebih mungkin dilaporkan makan di restoran daripada mereka yang hasil tesnya negatif.
ADVERTISEMENT
Riset yang dipublikasikan pada Kamis (10/9) ini didasarkan pada data 314 orang dewasa yang dites PCR pada Juli 2020 karena mereka mengalami gejala COVID-19. Di antara mereka, 154 orang dinyatakan positif corona dan 160 dinyatakan negatif. Tes dilakukan di 11 fasilitas perawatan kesehatan yang berbeda di 10 negara bagian AS, kata peneliti.
Para peneliti kemudian mencermati kedisiplinan para responden terkait protokol kesehatan. Selain itu, mereka juga menanyakan apakah mereka baru-baru ini makan di restoran, nongkrong di bar, atau pergi ke gym.
Dari pertanyaan tersebut, peneliti menemukan kalau 71 persen pasien positif corona selalu memakai masker. Di kelompok orang yang negatif corona, 74 persen di antaranya mengaku selalu memakai masker.
Selain itu, data juga menunjukkan kalau 42 persen orang dewasa yang positif virus corona mengaku telah melakukan kontak dekat dengan setidaknya satu orang yang diketahui mengidap COVID-19. Sebanyak 51 persen dari mereka mengaku kalau kontak dekat itu berasal dari anggota keluarga. Adapun dari sisi orang yang negatif corona, hanya 14 persen dari mereka yang mengaku telah kontak dekat dengan orang terinfeksi COVID-19.
Peneliti Temukan Risiko Penularan Corona saat Makan di Restoran (302484)
Ilustrasi dapur restoran Foto: Shutter Stock
Peneliti menemukan, pada dasarnya tidak ada perbedaan yang signifikan antara mereka yang dites positif corona dan yang negatif saat berbelanja, berkumpul dengan orang di rumah, pergi ke kantor, pergi ke gym, pergi ke salon, hingga menggunakan transportasi umum. Namun, peneliti menemukan, orang yang positif corona lebih banyak melaporkan makan di restoran dalam dua minggu sebelum mereka mulai merasa sakit.
ADVERTISEMENT
"Selain makan di restoran, pasien kasus lebih mungkin melaporkan pergi ke bar atau kedai kopi, tetapi hanya ketika analisis dibatasi pada peserta tanpa kontak dekat dengan orang yang diketahui COVID-19 sebelum timbulnya penyakit," tulis peneliti.
“Makan dan minum di tempat di lokasi yang menawarkan opsi seperti itu mungkin merupakan faktor risiko penting yang terkait dengan infeksi SARS-CoV-2. Upaya untuk mengurangi kemungkinan paparan di mana penggunaan masker dan jarak sosial sulit dipertahankan, seperti saat makan dan minum, harus dipertimbangkan untuk melindungi pelanggan, karyawan, dan komunitas.”
Peneliti menyebut, laporan paparan virus corona di restoran punya kaitan erat dengan sirkulasi udara. Dalam hal ini, arah, ventilasi, dan intensitas aliran udara dapat mempengaruhi penularan virus, bahkan jika orang telah menjaga jarak dan memakai masker.
ADVERTISEMENT
"Masker tidak dapat dipakai secara efektif saat makan dan minum, sedangkan berbelanja dan banyak aktivitas dalam ruangan lainnya tidak menghalangi penggunaan masker,” kata peneliti.
Bagaimanapun, riset ini memiliki keterbatasan. Sebagai contoh, peneliti tidak menanyakan apakah pasien COVID-19 itu makan di dalam atau di luar ruangan. Riset ini juga didasari oleh jumlah data yang kecil, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan apakah temuan serupa akan muncul di antara kelompok pasien yang lebih besar.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white