kumparan
search-gray
Tekno & Sains27 Mei 2020 15:25

Penyakit Ginjal Jadi Risiko Kematian Tertinggi Akibat Virus Corona di Indonesia

Konten Redaksi kumparan
Makam khusus COVID-19
Petugas menyiapkan liang lahat untuk jenazah kasus COVID-19 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Keputih, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2020). Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Risiko komplikasi timbul ketika pasien virus corona SARS-CoV-2 memiliki riwayat masalah kesehatan sebelumnya, bahkan dapat berujung kematian. Kondisi ini disebut sebagai faktor komorbid atau penyakit penyerta.
ADVERTISEMENT
Adanya riwayat penyakit terdahulu memang tidak serta merta membuat seseorang lebih berisiko terinfeksi. Namun jika terpapar virus corona, ada kemungkinan pasien bakal mengalami gejala yang lebih parah. Faktor komorbid ini juga dialami pasien COVID-19 di Indonesia.
Menurut data dari Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Doni Monardo, pasien di Indonesia dengan faktor komorbid paling banyak merupakan penderita hipertensi. Penyakit penyerta ini mendominasi di antara seluruh total kasus yakni 23.165 orang hingga Selasa (26/5).
“Kelompok masyarakat yang memiliki komorbid paling tinggi terpapar itu adalah penderita hipertensi kemudian diikuti oleh diabetes melitus, penyakit jantung, penyakit paru obstruktif kronis, gangguan napas lainnya, penyakit ginjal, asma, kanker, TBC, penyakit hati, dan gangguan imun,” ujar Doni dalam konferensi pers di Kantor Sekretariat Presiden, Rabu (27/5).
ADVERTISEMENT
Di antara seluruh penyakit penyerta yang diderita pasien COVID-19, penyakit ginjal membawa risiko kematian tertinggi. Dengan kata lain, dari total angka kematian sebesar 1.418 kasus, mayoritas korban jiwa dengan penyakit penyerta memiliki riwayat penyakit ginjal.
Komorbid dengan risiko kematian tertinggi setelah penyakit ginjal adalah penyakit imun, antara lain HIV/AIDS. Disusul kemudian kanker, penyakit jantung, diabetes melitus, hipertensi, gangguan napas, kehamilan, penyakit hati, penyakit paru obstruktif kronis, asma, dan TBC.
Di tengah meluasnya pandemi, pemerintah Indonesia terus menggaungkan wacana new normal kepada masyarakat kendati kurva kasus virus corona SARS-CoV-2 belum melandai. Pelonggaran pembatasan sosial mulai bergulir. Sejumlah mal di Jakarta dilaporkan akan kembali dibuka dan beroperasi.
Berbagai sektor juga telah dipersiapkan untuk kembalinya masyarakat beraktivitas, antara lain penetapan protokol kesehatan untuk operasional transportasi publik, pusat perbelanjaan, hingga perkantoran.
ADVERTISEMENT
Ahli epidemiologi dari Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Pandu Riono, menyangsikan masyarakat dapat disiplin dalam menerapkan kewajiban saat new normal.
“Selama pembatasan sosial tidak diedukasi masyarakat supaya patuh. Jadi mau dilepas kaya gini ya gimana? Di zaman ada pembatasan saja, masyarakat enggak patuh,” ujarnya.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)
***
Yuk! Bantu donasi atasi dampak corona.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white