Relief di Candi Borobudur Ungkap Ilmu Astronomi Kuno

20 Mei 2024 12:02 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.  Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Studi soal Candi Borobudur tidak melulu dikaitkan dengan tradisi dan budaya masyarakat di masa lampau. Candi yang terletak di Magelang, Jawa Tengah, itu juga sering dihubungkan dengan benda langit oleh sejumlah peneliti.
ADVERTISEMENT
Relief di Candi Borobudur menyingkap kehidupan manusia ketika bangunan kuno itu didirikan sekitar abad k-8 dan ke-9 Masehi di era Dinasti Syailendra, salah satunya pengetahuan astronomi.
Endang Soegiartini, Kelompok Keilmuan Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB), mengatakan Candi Borobudur, berdasarkan penelitian terdahulu, telah menyiratkan bahwa masyarakat kala itu telah memahami langit dan gerak benda langit. Selain itu, bangunan Candi Borobudur juga secara tepat dapat menunjukkan arah Timur-Barat.
Relief pada candi juga banyak menceritakan tentang keterkaitan astronomi dengan kehidupan pada saat itu. Keberadaan sembilan relief pada candi, misalnya, menggambarkan berbagai jenis perahu layar yang digambarkan sebagai fungsi navigasi.
Stupa utama Candi Borobudur yang berada di titik tengah dari keseluruhan candi disebut sebagai gnomon yang berfungsi sebagai penanda waktu atau musim. Menilik studi yang telah dilakukan sebelumnya, terlihat bahwa hubungan benda-benda langit dengan kehidupan di Bumi dapat dikaji dari berbagai disiplin ilmu.
ADVERTISEMENT
Menurut Peneliti Pusat Riset Antariksa (PRA), Gerhana Puannadra Putri, bagaimana tabir ini terbongkar tak lain karena peran arkeoastronomi sebagai multi disiplin ilmu. Ia bilang, astronomi pada budaya kehidupan masa lalu sangat berpengaruh bagi masyarakat. Dengan mengamati benda-benda langit, masyarakat masa lalu dapat menemukan peralihan musim dan menentukan waktu tanam dan panen, serta sebagai ritual kepercayaan.
Sementara terkait astronomi dan tradisi budaya lokal, Peneliti Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL) BRIN, Agus Iswanto, mengatakan penggunaan pengetahuan astronomi dalam masyarakat Jawa salah satunya tertuang dalam hal periodisasi waktu 1 tahun dalam 12 mangsa berdasarkan peredaran matahari, yang menghubungkan masyarakat Jawa dengan lingkungannya. Pengetahuan pranata mangsa ini mengajarkan orang-orang untuk berperilaku ilmiah membaca tanda dari alam yang dikenal dengan ilmu titen.
ADVERTISEMENT
Peneliti PR MLTL BRIN, Suyami, menjelaskan aspek astronomi dalam tradisi Jawa memiliki pengaruh pada penanggalan, perbintangan, mitologi hari saat lahir bagi kehidupan manusia, serta mitologi pengaruh kosmos langit dalam kehidupan manusia. Mitologi hari saat baik dan saat buruk untuk melakukan sesuatu, seperti salah satu contohnya menikah, juga ada di dalamnya.
Sedangkan Turita Indah Setyani, peneliti dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, mengatakan tradisi Jawa masyarakat menaruh perhatian besar terhadap petungan, yaitu perhitungan yang menjadi dasar kegiatan ritual dan tindakan sehari-hari.
"Masyarakat Jawa juga mempunyai tradisi meditasi selama bulan purnama yang disebut manekung," ungkap Turita dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra), beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT