kumparan
6 Des 2017 18:21 WIB

Resolusi Terbaru PBB Soroti Masalah Sampah Plastik di Lautan

Sampah plastik di perairan Indonesia (Foto: Dok. Orb Media)
PBB mengeluarkan resolusi terbaru pada Selasa, 6 Desember 2017. Dalam resolusi tersebut PBB menyatakan komitmennya untuk fokus pada upaya menghentikan pembuangan sampah plastik ke laut.
ADVERTISEMENT
Meski resolusi itu tak memiliki kekuatan hukum, para menteri lingkungan dari berbagai negara yang menghadiri UN Environment Summit pada 4-6 Desember 2017 di Kenya itu meyakini, resolusi itu akan menjadi dasar hukum baru untuk mencegah masuknya sampah ke laut.
Duta Kemaritiman Swedia Lisa Svensson mengatakan, pemerintah, perusahaan-perusahaan, dan setiap individu harus bergerak lebih cepat lagi untuk menangani masalah polusi plastik di lautan.
“Ini adalah krisis dunia,” kata Svensson sebagaimana dilansir BBC. “Dalam beberapa dekade saja sejak manusia mengetahui fungsi dari plastik, kita sudah mengacaukan ekosistem lautan.”
Peraturan untuk menghentikan polusi lautan tidak akan berjalan bila tidak melibatkan para pelaku bisnis. Karena sampai saat ini, industri masih sangat mengandalkan plastik sebagai kemasan berbagai produk mereka.
ADVERTISEMENT
“Kita harus lebih memperhatikan pelaku usaha yang mau mengubah hal ini, lalu membuat aturan dan pajak untuk perusahaan yang mau mendaur ulang,” kata Menteri Lingkungan Norwegia Vidar Helgesen.
Sampah Plastik di Tepi Laut (Foto: Wikimedia Commons)
Indonesia Penyumbang Sampah Terbesar Kedua
Indonesia tidak bisa menutup mata pada masalah polusi lautan. Karena pada tahun 2010, Indonesia tercatat sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah China. Lebih dari 3 juta metrik ton sampah plastik yang berasal dari Indonesia mencemari lautan dunia.
Sampah plastik yang masuk laut berasal dari sungai dan empat dari 20 sungai terkotor di dunia terdapat di Indonesia. Bahkan, Sungai Citarum di Jawa Barat pernah mendapat sorotan khusus dari Channel 4 Inggris dan dinobatkan sebagai sungai terkotor di dunia akibat pencemaran dari limbah pabrik tekstil yang membuat air sungai jadi berwarna-warni.
ADVERTISEMENT
Kesadaran untuk mendaur ulang penggunaan plastik dan produk berbahan plastik yang masih sangat rendah merupakan penyebab tingginya sampah plastik di Indonesia. Selain itu, buruknya pengelolaan sampah di darat mengakibatkan banyak sampah berakhir di lautan.
Merek Sampah Plastik Terbanyak di Indonesia (Foto: Faisal Nu'man/kumparan)
Makhluk Laut pun Menderita
Kamu mungkin masih ingat pada foto kuda laut mungil di lautan Indonesia yang membawa-bawa korek kuping yang terkait di ekornya.
Meski dianugerahi sebagai foto terbaik, foto itu membuat dunia pilu karena ternyata masalah sampah plastik juga menyakiti makhluk penghuni lautan.
Lisa Svensson yang berbicara di UN Environmental Summit di Kenya memberikan beberapa contoh lain, seperti seekor kura-kura bernama Kai yang ditemukan nelayan mengapung. Kai hampir mati karena menelan plastik. Untungnya, Kai bisa diselamatkan.
ADVERTISEMENT
Masalah sampah plastik tidak hanya akan menjadi masalah satu negara, melainkan juga masalah global. Sebab, plastik dapat hanyut jauh dari tempat ia dibuang dan tidak akan terurai meski sudah lama berada di dalam air.
Setiap orang, termasuk kamu, juga bisa jadi bagian dari upaya membersihkan lautan dari sampah plastik dengan mengurangi penggunaan kantong plastik dan alat-alat berbahan plastik lainnya, serta mulai mendaur ulang untuk mencegah menumpuknya sampah tersebut.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan