kumparan
10 April 2019 12:39

Riset: Rasa Pedas Cabai Bisa Hambat Penyebaran Kanker Paru-Paru

Cabai Pasar Kramat Jati
Gejolak harga cabai terus terjadi. Foto: Rivi Satrianegara/kumparan
Cabai tidak hanya mampu membuat masakan menjadi pedas. Sekelompok ilmuwan percaya bahwa salah satu senyawa di cabai, terutama yang memberikan sensasi pedas, dapat dikembangkan menjadi obat untuk pengobatan kanker paru-paru.
ADVERTISEMENT
Hipotesis tersebut berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Jamie Friedman dan koleganya di Marshall University, AS. Penemuan mereka dipresentasikan dalam konferensi tahunan American Society for Investigative Pathology di Orlando, Florida, pada 6 sampai 9 April 2019.
Studi ini fokus efek senyawa capsaicin pada penyakit paru-paru adenocarcinoma, yang menyumbang sekitar 40 persen dari semua kasus kanker paru-paru. Friedman, selaku pemimpin riset berkata, kemampuan sel kanker yang menyebar ke bagian tubuh lain, atau metastasis, bertanggung jawab untuk kematian pada penyakit ini.
"Saat kanker menyebar ke lokasi sekunder, membuat penyakit ini sulit diobati. Terapi apa pun untuk memerangi metastasis dapat sangat bermanfaat untuk mengobati pasien kanker paru-paru. Yang menarik dari penelitian kami adalah capsaicin, yakni senyawa alami yang digunakan sebagai agen anti metastasis," katanya, seperti dikutip Newsweek.
Ilustrasi cabai
Ilustrasi cabai. Foto: Pixabay
Para peneliti studi ingin menunjukkan berdasarkan bukti yang memperlihatkan capsaicin tampaknya mampu menghentikan penyebaran melanoma, prostat, dan kanker saluran empedu. Sayangnya, capsaicin dapat menyebabkan efek samping yang buruk, seperti kemerahan pada kulit, mual, muntah, kram perut, dan diare.
ADVERTISEMENT
Oleh sebab itu, para peneliti kemudian melakukan pencocokan senyawa yang mirip capsaicin dengan kemampuan melawan kanker yang sama tapi tanpa efek samping, yakni capsiate dan capsiconiate.
Hasil pengujian pada sel kanker paru-paru menunjukkan, capsiate mampu menghentikan sel kanker menyerang sel lain, yang prosesnya sebelum metastasis, sedangkan capsiconiate tidak memiliki efek sama sekali. Sementara itu, eksperimen pada tikus mengungkap hewan yang makan capcaisin memiliki lebih sedikit sel kanker yang metastatis dibanding tikus yang tidak mengonsumsi senyawa tersebut.
Ilustrasi paru-paru
Ilustrasi paru-paru Foto: bykst
Dari percobaan tersebut, capcaisin tampaknya bekerja melawan bentuk umum kanker paru-paru ini dengan menghentikan protein yang disebut Src agar tidak aktif.
"Studi saat ini di lab kami telah menunjukkan bahwa capsaicin memiliki kemampuan untuk menyadarkan kanker paru-paru terhadap efek agen kemoterapi," jelas Friedman. "Penelitian kami di masa depan ditujukan untuk merancang analog capsaicin yang tidak pedas dan mempertahankan aktivitas anti tumor capsaicin."
ADVERTISEMENT
Para peneliti tertarik melakukan studi ini berdasarkan riset observasional soal kasus kanker paru-paru yang rendah di beberapa negara, seperti Thailand dan India, pada masa lalu. Riset itu menunjukkan, penyebabnya mungkin berasal dari kebiasaan masyarakat di sana yang mengonsumsi makanan pedas.
"Kami berharap suatu hari capsaicin dapat dijadikan terapi pengobatan kanker paru-paru," kata Friedman.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan