Tekno & Sains
·
13 Agustus 2019 19:15

Salju di Antartika Terdeteksi Mengandung Debu Radioaktif Luar Angkasa

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Salju di Antartika Terdeteksi Mengandung Debu Radioaktif Luar Angkasa  (110315)
Salju di Antartika. Foto: euphro via Wikimedia Commons
Tak ada yang mengherankan dari hujan salju yang turun di Antartika. Tapi, bagaimana jika sekelompok peneliti internasional menemukan material dari luar sistem tata surya kita pada tumpukan salju tersebut?
ADVERTISEMENT
Itulah yang terjadi belum lama ini. Tim peneliti internasional menemukan material langka dari luar tata surya kita di Antartika. Hasil temuan ini telah dipublikasikan di Physical Review Letters pada 12 Agustus 2019.
Menurut peneliti, material datang dalam bentuk debu luar angkasa. Pada salju itu, para peneliti menemukan besi-60 yang memiliki 26 proton dan 34 neutron di intinya. Besi itu agak bersifat radioaktif.
Elemen itu terbentuk dan menyebar ke seluruh alam semesta berkat supernova atau ledakan bintang. Besi-60 banyak ditemukan di daerah di luar tata surya kita. Tapi, keberadaannya juga ditemukan di dasar laut di Bumi dan permukaan Bulan. Hal itu memberi dugaan bahwa dalam beberapa juta tahun terakhir, Bumi mendapat “kiriman” material dari suatu supernova yang terjadi lumayan dekat.
Salju di Antartika Terdeteksi Mengandung Debu Radioaktif Luar Angkasa  (110316)
Ilustrasi debu luar angkasa. Foto: pixabay
Dalam riset ini, para peneliti ingin mempelajari apakah “kiriman” dari supernova itu tetap terjadi sampai sekarang. Untuk melakukannya, tim peneliti harus menganalisis material dari lokasi yang belum terkontaminasi. Karena itu, selama 20 tahun terakhir, tim peneliti mengambil sampel sebanyak 500 kilogram salju dari Antartika.
ADVERTISEMENT
Salju itu mereka lelehkan untuk dipelajari komposisinya. Dari situ, tim peneliti menemukan besi-60 pada salju di Antartika. Kesimpulan bahwa besi-60 pada salju berasal dari luar angkasa diungkap setelah periset mempelajari skenario lain yang mungkin menjadi penyebab kehadiran banyaknya elemen itu.
Menurut penjelasan tim peneliti, sebagaimana dilansir IFL Science, pembangkit listrik tenaga nuklir dan senjata nuklir juga bisa memproduksi besi-60 ini. Tapi, tidak ada kejadian global yang mendukung keberadaan besi-60 di sampel dari Antartika. Ini membuat tim peneliti menganggap sumber besi-60 di Antartika berasal dari luar angkasa.
Menurut tim peneliti, riset ini bisa memberikan kita pemahaman serta gambaran baru pada awan debu di luar angkasa. Mereka mengatakan bahwa tata surya kita melintasi kumpulan debu luar angkasa itu sekitar 40.000-50.000 tahun lalu. Tim peneliti menduga bahwa tata surya kita baru mulai meninggalkannya sekitar 3.000 tahun lalu dan sekarang kita masih berada di pinggirannya.
ADVERTISEMENT
Tim peneliti menjelaskan bahwa temuan ini bisa membantu kita memahami struktur alam semesta dan bahkan awal mula debu kosmik yang menghiasi galaksi Bima Sakti kita.