Tekno & Sains
·
8 November 2020 9:04

Studi: Corona Ganggu Indera Pendengaran Pasien, Telinga Berdenging

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Studi: Corona Ganggu Indera Pendengaran Pasien, Telinga Berdenging (100921)
Ilustrasi gangguan pendengaran. Foto: RobinHiggins via Pixabay
Sebuah studi baru menyebutkan, sejumlah pasien virus corona mengalami masalah pendengaran. Bahkan, 40 persen penderita tinnitus, semacam gangguan telinga berdenging dalam waktu lama atau singkat, yang terinfeksi virus corona mengaku indera pendengarannya semakin buruk.
ADVERTISEMENT
Riset juga menemukan, sekitar sepertiga penderita tinnitus mengalami tekanan yang lebih berat karena pandemi semakin meluas, termasuk isolasi mandiri, lockdown, kondisi keuangan yang memburuk, dan ketakutan jatuh sakit, terutama bagi wanita dan orang dewasa yang lebih muda.
Studi ini dilakukan oleh sekelompok ilmuwan di Anglia Ruskin University (ARU) yang menyurvei lebih dari 3.000 penderita tinnitus dari 48 negara di seluruh dunia, sebagian besar di Eropa dan Amerika Serikat. Penelitiannya dilaporkan dalam jurnal Frontiers in Public Health.
Sekitar 8 persen dari peserta pernah terinfeksi corona. Dari jumlah tersebut, 40 persen orang mengaku bahwa gejala COVID-19 telah memperburuk kondisi tinnitus yang mereka idap. Sementara 54 persen peserta mengaku tidak mengalami perbedaan, sedangkan 6 persennya justru percaya bahwa COVID-19 telah memperbaiki gejala tinnitus. Peneliti juga menemukan tujuh orang yang terinfeksi corona mengembangkan gejala tinnitus.
Studi: Corona Ganggu Indera Pendengaran Pasien, Telinga Berdenging (100922)
Ilustrasi virus corona di Bolivia. Foto: David Mercado/Reuters
Tinnitus adalah sensasi telinga berdenging yang bisa berlangsung dalam waktu yang lama atau dalam waktu singkat. Penderita tinnitus biasanya mengalami gangguan di telinga, seperti muncul suara berdengung, menderu atau mendesis.
ADVERTISEMENT
Tidak ada penyebab pasti, namun sering kali dikaitkan dengan paparan suara keras, infeksi telinga, stress atau faktor usia. Penderita tinnitus bisa merasa sangat tersiksa dan memengaruhi kehidupan sehari-hari. Sejumlah penelitian mengaitkan penderitaan tinnitus dengan risiko bunuh diri yang lebih tinggi, kecemasan, dan depresi.

Kenapa COVID-19 bisa memperburuk gejala tinnitus?

Faktanya, gejala tinnitus yang lebih parah telah dikaitkan dengan infeksi ‘long covid’. Long covid adalah istilah yang digunakan untuk mereka yang terinfeksi corona dengan waktu yang cukup lama, bisa berminggu-minggu atau berbulan-bulan, dan sering mencakup sejumlah gejala yang tak terduga, seperti kelelahan, kehilangan indera perasa, dan kesulitan konsentrasi.
Dalam satu kasus yang jarang terjadi, seorang pria mengalami gangguan pendengaran permanen selama berbulan-bulan setelah terinfeksi COVID-19. Dengan begitu peneliti menduga, infeksi corona dapat memicu gejala yang mirip tinnitus. Selain itu, gaya hidup yang berubah juga bisa memicu terjadinya gejala tinnitus.
Studi: Corona Ganggu Indera Pendengaran Pasien, Telinga Berdenging (100923)
Ilustrasi Virus Corona. Foto: Shutter Stock
“Temuan penelitian ini menyoroti kompleksitas terkait dengan tinnitus dan faktor internal, seperti peningkatan kecemasan dan perasaan kesepian, dan faktor eksternal, seperti perubahan rutinitas sehari-hari, dapat memicu efek yang signifikan,” ujar Dr. Eldre Beukes, penulis utama studi dan Research Fellow di ARU dan Lamar University di Texas, mengatakan dalam sebuah pernyataan seperti dikutip IFL Science.
ADVERTISEMENT
“Beberapa perubahan yang ditimbulkan oleh COVID-19 tampaknya berdampak negatif pada penderita tinnitus. Peserta dalam penelitian ini juga melaporkan bahwa gejala COVID-19 memburuk gejala yang ditimbulkan, bahkan memicu tinnitus dan gangguan pendengaran. Ini adalah sesuatu yang perlu diperiksa secara cermat oleh layanan klinis.”
Kendati tinnitus sangat sulit diobati, namun sejumlah penelitian baru-baru ini telah membuka jalan bagi penderita tinnitus untuk memiliki pendengaran yang lebih baik. Bulan lalu, para peneliti di Irlandia berhasil memperbaiki pendengaran pasien tinnitus dengan menggunakan perangkat non-invasif, di mana pasien bisa mendengar dengan normal selama kurang lebih satu tahun.