kumparan
13 September 2019 10:09

Tim Mahasiswa ITB Bikin Alat Pendeteksi Kondisi Aki Kendaraan

Mahasiswa ITB ciptakan alat pendeteksi kondisi aki kendaraan. Dok: ITB
Tim mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) membuat sebuah alat yang bisa mempermudah hidup para pengendara mobil. Mereka merancang alat yang bisa membuat pengendara mampu mendeteksi kondisi aki mobil tanpa perlu repot ke bengkel.
ADVERTISEMENT
Alat ini adalah ciptaan Bondan Ari Rahmawan, Charlie Tahar, dan M. Salman Galileo. Ketiga mahasiswa ITB itu membuat alat ini sebagai tugas akhir syarat kelulusan kuliah mereka. Mereka menamakan alat ini sebagai CbDiag.
Menurut mereka, alat ini dibuat dengan tujuan mencegah terjadinya soak aki mendadak akibat pengendara mobil tidak mengetahui kondisi akinya. Mereka memamerkan alat ini di acara Electrical Engineering Days 2019 pada 7 Agustus 2019. Electrical Engineering Days 2019 sendiri adalah acara pameran tugas akhir mahasiswa Teknik Elektro ITB yang dilakukan di Aula Timur ITB.
“Alat ini juga dibuat karena banyak pengendara mobil saat ini cuma bisa tahu kondisi akinya kalau dibawa ke bengkel,” kata Charlie, seperti dilansir laman resmi ITB.
Alat pendeteksi kondisi aki kendaraan. Dok: ITB
Ia menjelaskan bahwa alat pendeteksi aki yang sudah banyak dijual masih kurang efektif. Sebab, alat itu hanya mengecek kondisi tegangan aki. Ia mengatakan bahwa itu tidak cukup mengetahui apakah aki masih bisa digunakan atau tidak. Selain itu, menurut Charlie, alat yang sudah lebih dulu ada saat ini juga lumayan berbahaya.
ADVERTISEMENT
“Alat tersebut berbahaya karena menarik arus tinggi dan akan membuat aki yang hampir rusak menjadi rusak berdasarkan pengalaman tim kami. Selain itu, penggunaan alat tersebut juga tidak mudah,” tutur Charlie.
Salah satu keunggulan CbDiag adalah pengguna bisa mengecek sendiri kondisi aki mobilnya tanpa perlu ke bengkel. Berkat alat ini, pemakainya tak perlu menghabiskan waktu dan menghindari kerugian akibat aki tiba-tiba soak saat berkendara.
Alat ini punya sejumlah fitur menarik. Dia bisa memberikan info tambahan, seperti tegangan dan kapasitas aki, bisa dipasang secara fleksibel, bisa disinkronkan dengan ponsel android untuk notifikasi serta hasil diagnosis data. Selain itu, alat ini mudah dirawat dan tidak perlu diganti baterainya.
Alat pendeteksi kondisi aki kendaraan. Dok: ITB
Cara kerja alat ini cukup simpel. Dia memiliki tiga indikator yang menandakan kondisi aki, yaitu Baik, Hati-Hati, dan Buruk. Indikator Baik berarti aki masih dalam kondisi prima, Hati-Hati berarti aki perlu diganti dalam waktu dekat, sedangkan Buruk berarti aki harus segera diganti.
ADVERTISEMENT
“Kami mempertimbangkan bahwa alatnya harus bersifat portable dan aman bagi pengguna. Akhirnya, diputuskan bahwa metode ini yang digunakan,” kata Charlie.
Tim ini menggunakan teknologi pengukuran hambatan pada baterai. Mereka memodelkan baterai sebagai sumber tegangan dan hambatan dalam. Hambatan dalam ini nantinya akan diukur dan menjadi acuan kondisi aki mobil. Sebab, pada proses mobil menyala, ada arus listrik yang sangat tinggi yang akan ditarik dari aki.
Selain itu, ada juga proses charge dan discharge aki yang mengakibatkan efek sulfasi atau penumpukan timbal akibat reaksi yang tidak sempurna. Karena itu, nilai hambatan dalam aki akan meningkat dan mengurangi kemampuan penghantaran arus pada aki.
Ke depannya, para mahasiswa ITB ini berharap bahwa alat mereka bisa digunakan dan bermanfaat untuk kehidupan masyarakat. Selain itu, mereka juga memiliki rencana untuk mengembangkan CbDiag agar juga memiliki kemampuan untuk memprediksi waktu soak aki, yang tentunya akan sangat membantu para pengguna kendaraan.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan