kumparan
29 November 2019 19:38

Tips Mudah Cegah Penularan Penyakit Hepatitis A

Ilustrasi virus (Square)
Ilustrasi virus Foto: qimono via Pixabay
Wabah hepatitis A yang melanda Depok patut diperhatikan. Sejauh ini, Dinas Kesehatan setempat melaporkan sudah ada 72 kasus penderita hepatitis A yang kebanyakan adalah murid dan guru.
ADVERTISEMENT
Angka ini diperkirakan akan terus bertambah. Oleh karena itu, sebagai upaya pencegahan, pengelola program hepatitis dan penyakit infeksi saluran kencing Dinkes Depok mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Terutama terkait kebersihan lingkungan sekitar dan penanganan medis yang tepat bagi pasien.
Menanggapi hal ini, Ketua Perhimpunan Dokter Umum Indonesia Depok, dr Dewangga Gegap Gempita, mengatakan penyakit hepatitis A paling sering dipicu faktor buruknya kepedulian terhadap kebersihan dan sanitasi. Hal ini menjadi permasalahan utama dalam menangani kasus hepatitis A. Kesadaran masyarakat untuk hidup bersih dan sehat masih sangat rendah.
Ilustrasi Hepatitis A
Ilustrasi Hepatitis A. Foto: Shutter Stock
“Misalnya, ada yang habis buang air besar tapi dia ternyata terindikasi terkena penyakit hepatitis dan dia enggak cuci tangan. Atau, dia cuci tangan tapi tidak bersih, lalu langsung mengambil makanan atau menyentuh benda-benda (untuk) makan. Sedangkan benda-benda itu juga digunakan oleh orang-orang sekitarnya. Nah, itu bisa terjadi penularan (hepatitis A),” ujar dr Dewangga, saat dihubungi kumparanSAINS, Jumat (29/11).
ADVERTISEMENT
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pencegahan penyakit hepatitis A, berikut ini tips-tips dari dr Dewangga. Apa saja yang perlu dilakukan untuk mencegah penularan penyakit hepatitis A.
Cuci Tangan dengan Baik dan Benar
Ada hal kecil yang tak banyak orang tahu, yakni cara mencuci tangan dengan baik dan benar. “Banyak cara-cara dalam mencuci tangan, bisa di-searching, sudah banyak informasinya, untuk meminimalisir adanya infeksi yang menular. Sebenarnya cukup sederhana,” ujarnya.
Nah, lantas, apakah cuci tangan ini bisa digantikan dengan penggunaan hand sanitizer?
Menurutnya, penggunaan disinfektan atau hand sanitizer sebenarnya sudah cukup, tapi maksimal hanya 5 kali dalam sehari. Selebihnya, wajib membilas tangan dengan air.
“Yang terbaik tetap membersihkan tangan dengan air yang mengalir,” lanjutnya.
perempuan, cuci tangan
Ilustrasi cuci tangan Foto: Shutterstock
Tidak Makan dan Minum Satu Wadah dengan Orang Lain
ADVERTISEMENT
Banyak kasus penyakit hepatitis A menyerang anak-anak, terutama yang berusia di bawah 12 tahun. Pada masa-masa usia tersebut, anak-anak masih kurang sadar mengenai perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti berbagi satu wadah makanan dan minuman untuk dipakai ramai-ramai. Kebiasaan serupa juga masih sering dilakukan orang dewasa dan dianggap hal sepele. Padahal, praktisi kesehatan melihatnya sebagai perilaku yang menyimpang.
“Contoh misalnya, di sekolah beli minum satu sedotan bisa dipakai buat banyak orang, ‘Bagi dong, bagi dong’, atau satu tempat makan bisa dipakai temen-temen yang lain. Nah, itu termasuk sebenarnya perilaku yang menyimpang, harusnya tempat makan tempat minum itu hanya untuk dirinya sendiri,” kata dr Dewangga.
Konsumsi Makanan Bergizi Seimbang
Seperti dalam upaya pencegahan penyakit lainnya, asupan makanan menjadi faktor penting dalam menangkal virus hepatitis A. Tubuh yang kekurangan gizi seimbang akan berakibat pada menurunnya imunitas sehingga mudah terinfeksi virus, parasit, maupun bakteri.
Ilustrasi makanan sehat.
Ilustrasi makanan sehat. Foto: Thinkstock
Vaksin
ADVERTISEMENT
Pemberian vaksin disebut sebagai cara paling efektif untuk mencegah penyakit hepatitis A. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan pemberian imunisasi hepatitis A setelah anak berusia 2 tahun dalam 2 dosis. Dosis kedua diberikan setelah 6 bulan sampai 12 bulan berikutnya.
Selain untuk anak-anak, vaksin hepatitis A juga bisa diberikan kepada orang dewasa yang rentan terinfeksi, seperti pada penderita penyakit terkait imunitas.
Perlu dicatat, pemberian vaksin untuk setiap usia tetap harus melalui konsultasi dokter untuk menghindari masalah lain seperti terjadinya reaksi alergi terhadap vaksin.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan