Tekno & Sains15 September 2020 10:07

Virus Corona Mungkin Bisa Rusak Sel Otak, Ini Hasil Risetnya

Konten Redaksi kumparan
Virus Corona Mungkin Bisa Rusak Sel Otak, Ini Hasil Risetnya (417)
ilustrasi virus corona PTR Foto: Shutterstock
Studi baru menyebut bahwa virus corona SARS-CoV-2 penyebab penyakit COVID-19 berpotensi dapat menginfeksi sel-sel otak yang disebut neuron. Penelitian ini menjadi bukti dari hipotesis sebelumnya yang mengaitkan virus corona dengan berbagai bentuk kerusakan otak, mulai dari peradangan mematikan hingga penyakit otak ensefalopati yang bisa menyebabkan kebingungan dan delirium.
ADVERTISEMENT
Untuk melihat apakah virus corona dapat masuk ke dalam sel otak, para peneliti mengautopsi dan memeriksa jaringan otak pasien corona yang sudah meninggal. Mereka juga melakukan eksperimen pada tikus yang terinfeksi COVID-19 dan organoid--organ menyerupai otak berbentuk tiga dimensi yang ditumbuhkan di laboratorium.

Penelitian corona pada tiga objek: Organoid, tikus, dan otak manusia

Menurut penjelasan penulis penelitian sekaligus ahli imunologi di Yale University, Akiko Iwasaki, dalam organoid ditemukan virus dapat memasuki neuron melalui reseptor ACE2, yakni protein pada permukaan sel yang digunakan virus untuk memasuki sel dan memicu infeksi.
Peneliti kemudian menggunakan mikroskop elektron untuk mengintip ke dalam sel yang terinfeksi. Dari situ, tim melihat partikel virus corona tumbuh dan bertunas, menandakan bahwa mereka telah menguasai organoid untuk berkembang biak.
Virus Corona Mungkin Bisa Rusak Sel Otak, Ini Hasil Risetnya (418)
Ilustrasi otak manusia. Foto: pixabay/TheDigitalArtist
Virus juga menyebabkan perubahan metabolisme di neuron terdekat yang tidak terinfeksi. Sel-sel di dekatnya bahkan mati dalam jumlah besar. Ini menandakan sel yang terinfeksi mungkin telah mengambil oksigen dari sel terdekat untuk terus memproduksi virus baru.
ADVERTISEMENT
Sementara dari jaringan otak pasien corona yang diautopsi, tim menemukan SARS-CoV-2 telah menginfeksi beberapa neuron di korteks serebral. Didekat sel yang terinfeksi ini, mereka menemukan bukti telah terjadi “stroke kecil” yang menandakan bahwa virus telah mencuri atau mengambil oksigen dari sel-sel terdekat di otak seperti yang terjadi pada organoid. Menurut peneliti, neuron yang rusak akibat corona dapat memicu reaksi berantai dalam sistem saraf, salah satunya menyebabkan peradangan berbahaya.
Sementara dalam percobaan tikus, peneliti memodifikasi satu kelompok tikus secara genetik untuk mengekspresikan reseptor ACE2 manusia di otaknya. Sementara kelompok kedua hanya membawa reseptor di paru-paru mereka.
Hasilnya, tikus di kelompok pertama mengalami penurunan berat badan sangat cepat dan mati dalam enam hari. Sementara berat badan tikus di kelompok kedua terpantau stabil dan berhasil bertahan dari virus corona. Selain itu, pada tikus dengan infeksi otak, susunan pembuluh darah di otak juga berubah sangat drastis.
Virus Corona Mungkin Bisa Rusak Sel Otak, Ini Hasil Risetnya (419)
Ilustrasi tikus. Foto: jarleeknes via Pixabay
Menurut Iwasaki, studi organoid dan tikus ini telah memberikan petunjuk kepada kita tentang seberapa mematikan SARS-CoV-2 ketika mereka memasuki otak. Kendati, belum diketahui apakah hasil yang sama juga terjadi pada manusia.
ADVERTISEMENT
“Setiap sistem eksperimental memiliki batasannya sendiri," kata Iwasaki. “Misalnya, infeksi COVID-19 dapat berkembang secara berbeda pada tikus dan manusia. Sementara organoid agak menyerupai otak mini, mereka tidak mengandung sel kekebalan atau pembuluh darah seperti organ berukuran penuh.”
Selain itu, kata Iwasaki, virus pada manusia biasanya tidak langsung masuk ke otak seperti apa yang dilakukan dalam uji coba pada tikus. Para ilmuwan perlu memeriksa lebih banyak jaringan yang diautopsi dari pasien COVID-19 untuk menentukan apakah penelitian pertama ini bisa menjadi rujukan untuk penelitian selanjutnya.
Saat ini para ilmuwan masih mencari tahu bagaimana virus corona bisa masuk ke otak, termasuk apakah virus dapat dikeluarkan dari otak atau tidak. Hipotesis sementara menyebut bahwa mungkin virus corona dapat masuk ke otak melalui hidung atau aliran darah. Penelitian ini belum ditinjau oleh peneliti sejawat dan dipublikasikan dalam jurnal peer-review. Namun sudah di-posting pada 8 September 2020 di database jurnal bioRxiv.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tim Editor
drop-down
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white