kumparan
17 Feb 2019 12:41 WIB

WHO: Penyakit Campak Naik Signifikan di 2018

Petugas menyuntikan Vaksin Campak dan Rubella (MR) kepada bayi saat dilakukan imunisasi. Foto: ANTARA FOTO/Ampelsa
Kasus campak di dunia mengalami peningkatan dan jumlahnya signifikan.
ADVERTISEMENT
Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mencatat ada 170.000 kasus campak yang dilaporkan pada 2017. Lalu di 2018, WHO memprediksi jumlah kasus campak meningkat jadi 229.000 di seluruh dunia. Perlu dicatat, angka tersebut adalah proyeksi sementara WHO atas kasus campak di dunia.
Vaksinasi campak berdampak positif membuat penurunan 80 persen kematian akibat campak pada 2000 sampai 2017 di seluruh dunia. Namun, kemajuan tersebut tergelincir di tahun 2018.
Profesor Katherine O'Brien, Direktur Imunisasi dan Vaksin WHO, mengatakan dalam jumpa pers bahwa dunia sedang mengalami "kemunduran" dalam upaya menghentikan penyebaran campak. Data WHO telah menunjukkan ada peningkatan substansial dalam kasus campak.
"Kami melihat ini di semua wilayah, ini bukan masalah yang terisolasi. Wabah campak di mana saja yang berarti kasus campak di mana-mana," kata Profesor O'Brien, dikutip IFL Science. "Virus dan kuman lain tidak memiliki paspor. Mereka tidak peduli dengan perbatasan geografis... Mereka agnostik terhadap lingkungan politik dan geografis kita."
Petugas menunjukan Vaksin Campak dan Rubella (MR) sebelum melakukan imuniasasi kepada anak. Foto: ANTARA FOTO/Ampelsa
ADVERTISEMENT
Campak merupakan penyakit dari virus yang sangat menular, namun dapat dicegah sepenuhnya. Ia menyebabkan demam, ruam, batuk, diare, dan berbagai gejala lain. Tahun lalu, penyakit ini menyebabkan sekitar 136.000 kematian di seluruh dunia.
Peningkatan campak dipicu oleh wabah di setiap wilayah di dunia. Dr Katrina Kretsinger, kepala program imunisasi WHO, mengutip peningkatan wabah campak yang signifikan terjadi di Ukraina, Madagaskar, Republik Demokratik Kongo, Chad, dan Sierra Leone. Amerika Serikat dan Eropa Barat juga mengalami pertumbuhan wabah.
Penyebab utama dari peningkatan ini adalah “kegagalan untuk vaksinasi.” Walaupun ada banyak faktor di balik ini, namun WHO mencatat ada ketidakpercayaan yang semakin besar terhadap vaksinasi karena publik menerima informasi yang salah, terutama di negara-negara kaya.
ADVERTISEMENT
"Tingkat kesalahan informasi menyebabkan ancaman terhadap keberhasilan itu di banyak bagian dunia," tambah O'Brien. "Ada banyak informasi yang salah yang telah menyebabkan kerusakan pada upaya campak."
Sebagian besar keraguan muncul dari sebuah penelitian pada tahun 1998 yang menghubungkan vaksin campak, gondok, dan rubela (MMR), dengan timbulnya autisme. Studi tersebut sejak itu telah dilabeli oleh ilmuwan lain sebagai "penipuan" dan "tipuan medis paling merusak dalam 100 tahun terakhir."
Andrew Wakefield, pria di balik penelitian itu, telah dilarang berpraktik sebagai dokter di Inggris setelah lembaga kesehatan publik di sana, General Medical Council, menyatakan orang ini bersalah atas "kesalahan profesional yang serius." Ada juga panggilan baginya untuk menghadapi tuduhan kriminal terkait penelitian tersebut.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan