kumparan
18 Sep 2019 9:29 WIB

BOPI Panggil PASI terkait Korban Jiwa di Ajang Marathon

Ilustrasi lomba marathon. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) memanggil Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) dan Run ID—penyelenggara berbagai perlombaan lari di Indonesia—pada Selasa (17/9/2019). Pemanggilan tersebut terkait jatuhnya korban jiwa pada lari maraton dalam setahun terakhir.
ADVERTISEMENT
“Ada enam orang kehilangan nyawa dalam lomba lari di Indonesia selama setahun terakhir. Ini menjadi perhatian serius kami. Dari sudut pandang pemerintah, kami mau duduk bersama agar hal serupa tidak terulang lagi,” kata Richard Sam Bera, Ketua Umum BOPI, lewat rilis yang diterima pada Selasa (17/9/2019).
Insiden terbaru terjadi di ajang Maybank Bali Marathon 2019 pada 8 September 2019. Pelari asal Jepang, Atsushi Ono (56 tahun), meninggal dunia di kawasan Gianyar, Bali.
Ilustrasi marathon. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Ini merupakan kali kedua pergelaran Maybank Bali Marathon menelan korban. Pada penyelenggaraan tahun lalu, Denny Handoyo (50) menjadi korban meninggal. Ia terjatuh sekitar 100 meter menjelang garis finis.
Korban jiwa juga jatuh pada perhelatan Surabaya Marathon 2019. Dua peserta meninggal atas nama Husnun Nadhor Djuraid (60/asal Malang) dan Oentoeng P. Setiono (55/asal Jakarta).
ADVERTISEMENT
Meski beberapa nyawa melayang, PB PASI menyebut penyelenggaraan ajang lari di Tanah Air sudah memenuhi berbagai persyaratan.
“Kesiapan cukup memadai. Apalagi, Maybank Bali Marathon mengejar predikat sertifikasi perunggu (bronze certification) pada kalender lari dunia," ujar Umaryono—Wakil Kepala Bidang Organisasi PB PASI.
"Bahkan, penyelenggara menyiapkan delegasi teknis IAAF (Federasi Atletik Internasional) dari Jepang. Demikian pula penyediaan toilet, sarana kesehatan, dan lain-lain,” jelas Umaryono.
Setali tiga uang dengan penjelasan Direktur Run ID, Bertha Gani. Ia menuturkan kelengkapan medis di ajang Maybank Bali Marathon lebih dari rata-rata.
“Kami menyediakan 10 mobil ambulans dan 15 mobil-motor ambulans sesuai zona,” tutur Bertha.
Pertemuan BOPI dengan PB PASI dan Run ID. Foto: Ferry Adi/kumparan
Penanganan medis pun terbilang sigap. Dalam kasus Atsushi Ono, ketika sang pelari ambruk tidak sadarkan diri, petugas medis langsung melakukan pertolongan.
ADVERTISEMENT
Ono dipindahkan ke tempat teduh sambil pengecekan jalan napas dengan memeriksa nadi karotis. Setelah diketahui henti napas, petugas medis melakukan RJP (resusitasi jantung paru) dengan pijat jantung 5 siklus dalam satu menit dan memberikan oksigen. Begitu Ono mulai bernapas, ia lantas dibawa ke ambulans.
Sayang, nyawa Ono tidak tertolong dalam perjalanan menuju rumah sakit. Ia kembali henti napas. RJP di dalam ambulans pun tak mampu menyelamatkan.
Pihak Rumah Sakit Umum Kasih Ibu menyatakan korban meninggal karena dehidrasi dan cardiac arrest (henti jantung).
Walaupun ada penegasan dari PB PASI dan pihak penyelenggara ajang lari soal kelengkapan medis, BOPI tetap kepada niat awal untuk memperbaiki tata kelola dalam dunia lari Indonesia. Richard meminta PB PASI proaktif melakukan pembinaan kepada seluruh pemangku kepentingan lari, mulai dari komunitas hingga event organizer.
ADVERTISEMENT
"PB PASI harus menjadi regulator awal dalam hal pengawasan dan penanggung jawab semua kegiatan olahraga lari di Indonesia sesuai UU SKN. Mereka harus bersikap tegas, tetapi mengayomi terhadap seluruh pemangku kepentingan olahraga lari. Tujuannya supaya industri olahraga lari berkembang dengan baik di Indonesia dan berjalan dengan aman," ujar Richard.
Tak cuma itu, Richard mengingatkan pentingnya mengetahui medan lari dan kondisi diri sendiri. Pasalnya, iklim tropis di Indonesia menjadi tantangan berat untuk para pelari.
“Masyarakat agar tidak memaksakan diri jika mengikuti lomba serupa, terutama jenis olahraga-olahraga ketahanan. Banyak peserta beralasan ikut serta hanya untuk eksistensi di media sosial. Bagi peserta maraton, cuaca di daerah tropis sangat berat. Apalagi kalau ditambah kondisi personalnya kurang baik,” kata Richard.
ADVERTISEMENT
Ketua BOPI juga mewanti-wanti kesehatan peserta menjadi fokus perhatian. Ia merujuk penelitian Arie Sutopo—pakar kesehatan olahraga—soal korban meninggal pada ajang lari jarak jauh di Inggris dan Amerika Serikat.
“Kalau dirata-rata, usia korban meninggal sekitar 42 tahun, dengan 80 persen di antaranya laki-laki. Penyebab kematian umumnya kardiomiopati hipertrofi (suatu kondisi yang terjadi ketika salah satu bagian dari jantung menebal tanpa sebab yang jelas berakibat jantung tidak dapat memompa darah secara efektif),” tuturnya.
Pertemuan BOPI dengan PB PASI dan Run ID. Foto: Ferry Adi/kumparan
Di luar insiden meninggal dunia dalam ajang lari, BOPI juga menaruh perhatian kepada atlet asing yang turut berpartisipasi. Richard mengungkapkan banyaknya atlet lari asal Afrika juga mesti jelas persoalan visa dan pajak pemenang.
“Jangan sampai keikutsertaan pelari asing menutup kans prestasi bagi atlet-atlet nasional. Euforia lomba lari begitu terasa, tapi mengapa tidak berbanding lurus dengan prestasi atlet lari jarak jauh Indonesia?” ujar Richard.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan