kumparan
30 September 2018 10:29

Cibiran Teman Jadi Cambuk Karisma Evi untuk Berprestasi di Atletik

Karisma Evi Tiarani
Atlet Boccia Karisma Evi Tiarani (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
Remaja berambut panjang itu bernama Karisma Evi Tiarani. Dia lahir di Boyolali, Jawa Tengah, tepatnya 19 Januari 2001 lalu.
ADVERTISEMENT
Evi, begitu dia disapa, seperti banyak anak lain juga bergaul bersama teman-teman sebayanya di kampung halaman. Namun, rasa sedih kerap menyelimuti hati Evi kala dia tengah bermain. Dia sering merasa minder.
“Pas kecil kan sering main sama teman-teman itu dilihatin dulu. Dilihat-lihat itu kenapa kayak gitu,” Evi berkisah saat berbincang dengan kumparan di Stadion Sriwedari, Solo, Selasa (11/9).
Sikap teman-temannya ini terjadi karena kondisi Evi yang berbeda. Kaki kiri Evi memiliki kekurangan yang membuat cara berjalannya agak tertatih.
Meski didera pilu dan rasa malu, Evi tak ingin terus terpuruk. Orang tuanya selalu memberi dorongan untuk bangkit dan semangat menjalani hidup. Evi pun lama-lama mulai terbiasa dengan sikap teman-temannya.
ADVERTISEMENT
Justru, kekurangan Evi tersebut kelak akan membawanya pada satu masa jaya yang tak pernah dikira sebelumnya. Dalam satu hari yang tak disangka, tetangga Evi melihat kekurangan yang dimilikinya adalah sebuah potensi tersendiri. Tetangganya itu juga memiliki kekurangan layaknya Evi.
KONTEN SPESIAL, Atlet Asian Para Games 2018, Karisma
Atlet Asian Para Games 2018, Karisma. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
Dia lantas mengajak Evi untuk bergabung ke sebuah organisasi yang menaungi para penyandang disabilitas untuk ditempa dan berprestasi di bidang olahraga. Waktu itu Evi menjatuhkan pilihan pada cabang olahraga atletik.
“Kan diajak sama tetangga ada yang ikut NPC (National Paralympic Committee) juga. Itu pertamanya ikut Pepaperda (Pekan Paralimpiade Pelajar Daerah). Jadi setelah Pepaperda itu ada yang ngajakin ikut klub. Klubnya itu PPLP (Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar) difabel Jawa Tengah,” Evi mengenang.
ADVERTISEMENT
Saat memulai debut di lintasan atletik usia Evi baru menginjak 15 tahun. Dia turun di lari jarak pendek 100 dan 200 meter, serta di nomor lompat jauh. Dua nomor itu menjadi spesialisasi Evi. Hampir semua kejuaraan yang dia ikuti Evi berhasil mendulang medali.
Sebut saja, di Peparnas Jawa Barat 2016. Evi berhasil menorehkan catatan gemilang dengan meraih 3 medali emas di lari jarak 100 dan 200 meter serta lompat jauh. Pun setahun berikutnya, Evi kembali mengulang prestasi apiknya itu di Peparpenas.
Cinta mati itu bernama atletik
Meski bergelimang prestasi di awal kariernya, Evi tak ingin jemawa. Dia pun terus berlatih untuk memperbaiki catatan rekornya.
“Dari situ latihan-latihan terus akhirnya bisa sampai ini dipanggil Pelatnas,” ujar Evi.
ADVERTISEMENT
Pelatnas atletik yang diikuti Evi bertempat di Solo. Bisa dikatakan lumayan dekat dengan kampung halaman Evi, tapi meninggalkan keluarga pada usia dini adalah beban tersendiri baginya.
Beranjak ke Pelatnas Evi harus melahap semua porsi latihan yang diberi pelatih. Dua waktu latihan, pagi dan sore adalah menu setiap Senin hingga Sabtu bagi Evi.
Kadang rasa letih dan jenuh datang melanda. Namun, Evi tak mau terus dikurung rasa-rasa itu. Dia selalu mengingatkan dirinya bahwa perjuangan masih panjang.
Dan, satu hal yang selalu membuatnya bangkit adalah mengingat rasa cinta mendalam pada atletik. Sampai-sampai Evi mengaku tak mau berpaling dari olahraga yang menjadi “ibu” dari semua olahraga ini.
“Kayaknya atletik itu sudah menyatu jadi mau pindah itu susah. Dari awal masuk ke olahraga itu kan atletik dulu kalau mau pindah kan kayaknya rasanya aneh,” tutup Evi.
ADVERTISEMENT
kumparan akan menyajikan story soal atlet-atlet penyandang disabilitas kebanggaan Indonesia dan hal-hal terkait Asian Para Games 2018 selama 10 hari penuh, dari Kamis (27/9) hingga Sabtu (6/10). Saksikan selengkapnya konten spesial dalam topik ‘Para Penembus Batas’.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan