Dua Pebulu Tangkis RI yang Terlibat Match Fixing Ajukan Banding ke CAS

11 Januari 2021 17:33
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Dua Pebulu Tangkis RI yang Terlibat Match Fixing Ajukan Banding ke CAS (182812)
searchPerbesar
Ilustrasi Bulu Tangkis. Foto: freepik.com
Dua pebulu tangkis RI yang terlibat dalam pengaturan skor atau match fixing berniat mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Kedua pebulu tangkis itu adalah Agripinna Prima Rahmanto dan Mia Mawarti.
ADVERTISEMENT
Keduanya mengajukan banding karena merasa tidak bersalah melakukan rekayasa hasil pertandingan atau berjudi. Mereka telah menghadap PBSI untuk meminta bantuan dalam pengajuan banding ke CAS pada Senin (11/1).
Sebelumnya, Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) mengungkap bahwa ada delapan pebulu tangkis RI yang melakukan match fixing. Semua atlet itu mendapat hukuman beragam, dari yang paling berat adalah skors seumur hidup hingga skors berjangka dengan denda.
BWF menjatuhi Agripinna dan Mia dengan hukuman yang lumayan berat. Agripinna mendapat skors dari kegiatan bulu tangkis selama enam tahun dan denda tujuh ribu USD atau setara Rp 98 juta. Sementara, Mia diskors skors dari kegiatan bulu tangkis selama sepuluh tahun dan denda sepuluh ribu USD atau setara Rp 140 juta.
ADVERTISEMENT
Agripinna dituduh BWF melakukan pertaruhan dengan Hendra Tandjaya dalam pertandingan bulu tangkis dan tidak melaporkan kejadian perjudian kepada BWF. Sementara, Mia dituduh menyetujui serta menerima uang sebesar Rp 10 juta dari hasil perjudian, tidak melaporkan terjadi perjudian kepada BWF, dan tidak hadir dalam wawancara atau undangan investigasi oleh BWF.
"Terhadap hukuman itu, saya mengajukan banding agar Pengadilan CAS membatalkan keputusan BWF," ujar Mia yang kini membela klub Semen Baturaja, Palembang, dalam keterangan resmi PBSI, Senin (11/1).
Dua Pebulu Tangkis RI yang Terlibat Match Fixing Ajukan Banding ke CAS (182813)
searchPerbesar
Bulu Tangkis (Ilustrasi) Foto: Reuters/Russell Cheyne
Adapun soal pelaporan kepada BWF, Agripinna dan Mia satu suara. Mereka mengaku tidak mengetahui bahwa tidak melaporkan hal tersebut kepada BWF adalah pelanggaran kode etik.
"Selain itu, BWF tidak pernah melakukan investigasi langsung kepada saya, sehingga saya tidak dapat menjelaskan apa yang terjadi sesungguhnya. Dengan demikian putusan BWF dilakukan secara sepihak tanpa mendengar penjelasan dan pembelaan dari saya sebagai korban," beber Mia.
ADVERTISEMENT
Mia meminta agar CAS menerima permohonan banding dan membatalkan keputusan BWF. Sebabnya, dia berharap bisa terus berkarier sebagai atlet.
Sementara, Agripinna menyebut bahwa BWF telah salah dalam menjatuhkan hukuman tersebut. Menurut dia, BWF menjatuhkan vonis tidak berdasarkan fakta sebenarnya.
"Hukuman BWF itu keliru dan tidak berdasarkan fakta yang sebenarnya. Oleh karena itu, saya meminta agar Pengadilan CAS memeriksa, mengadili dan memutuskan saya tidak melanggar kode etik BWF dan dinyatakan tidak bersalah dengan menyatakan putusan BWF dinyatakan batal," tulis Agri dalam memori banding yang akan dikirim ke Pengadilan CAS.
"Apabila yang mulia CAS berpendapat lain, saya mohon minta keadilan karena hukuman yang dijatuhkan kepada saya terlalu berat. Profesi pemain bulutangkis merupakan satu-satunya mata pencaharian saya dan keluarga," tandasnya.
ADVERTISEMENT
***
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020