kumparan

Marquez soal Rivalitas dengan Rossi: Itu Normal di MotoGP

GP Argentina
Valentino Rossi dan Marc Marquez di podium MotoGP Argentina 2019. Foto: Juan MABROMATA/AFP
Sudah berulang kali Marc Marquez dan Valentino Rossi bersitegang. Meski sempat berbaikan, hubungan antara kedua pebalap itu masih dalam tensi panas.
ADVERTISEMENT
Kisah rivalitas Marquez dan Rossi berawal sejak MotoGP 2015. Saat itu, The Baby Alien kerap melakukan aksi provokasi terhadap Rossi di lintasan. Rivalitas itu berujung 'tendangan' Rossi ke pebalap Repsol Honda itu pada MotoGP Malaysia.
Lalu, keduanya memutuskan berdamai usai MotoGP Catalunya 2016. Sialnya, rivalitas keduanya kembali mengarah ke hal yang tidak sehat sejak MotoGP Argentina 2018. Saat itu, gaya balap agresif Marquez membuat Rossi terjatuh.
Seperti apa kelanjutan hubungan keduanya bisa ditebak. Perang komentar menjadi repetisi. Situasi semakin memanas karena banyak pihak ikut mengeluarkan pendapatnya soal rivalitas keduanya.
Valentino Rossi dan Marc Marquez
Momen insiden Marc Marquez dan Valentino Rossi pada MotoGP Argentina 2018 Foto: twitter/motogp
Namun, setelah sekian lama, ada indikasi positif yang diperlihatkan Rossi dan Marquez usai balapan MotoGP Argentina 2019. Saat keduanya bersiap-siap untuk naik ke podium usai balapan, The Doctor terlihat mengajak Marquez untuk berjabat tangan.
ADVERTISEMENT
"Hubungan dengan Valentino baik-baik saja. Terpenting adalah hasil di lintasan. Rivalitas adalah hal normal dan berlaku untuk semua pebalap. Jika Anda memiliki rival, Anda tak bisa berteman dengan mereka. Tapi hubungan saya dan Vale baik-baik saja," ujar Marquez, dilansir Speedweek.
Menurut Marquez, rivalitas dengan seorang pebalap tak perlu disikapi secara berlebihan. Ia lebih menginginkan rivalitas yang sehat seperti yang ia alami saat masih di kelas Moto2.
Pada musim 2011, Marquez dan Stefan Bradl terlibat persaingan dalam perebutan gelar juara dunia Moto2. Meski jadi rival, keduanya tak pernah terlibat dalam perseteruan. Pada akhirnya, Bradl yang memenangi persaingan usai unggul 23 poin atas Marquez.
"Saat bersaing dengan Stefan, kami tak bertarung wheel-to-wheel dan tak punya hubungan buruk. Meski ada ketegangan, kami saling menghormati. Ini juga berlaku di MotoGP. Wajar jika ada ketegangan dalam perebutan gelar. Itu karena mereka menginginkan yang sama, yakni jadi juara," Marquez menambahkan.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan