kumparan
28 Februari 2018 16:47

Menerka Lawan Pelita Jaya dan Satria Muda di Semifinal IBL

PJ vs Stapac
Laga Pelita Jaya vs Stapac di Solo. (Foto: Dok. IBL)
Musim reguler Indonesian Basketball League (IBL) 2018 telah resmi berakhir. Dari 10 tim yang terbagi ke dalam Divisi Merah dan Divisi Putih, muncul enam tim yang berhak melaju ke babak playoff.
ADVERTISEMENT
Satria Muda (SM) Pertamina Jakarta, Garuda Bandung, dan BSB Hangtuah Sumsel jadi tiga tim perwakilan dari Divisi Merah yang melaju ke babak tersebut. Sedangkan Pelita Jaya (PJ) Jakarta, Stapac Jakarta, dan Pacific Caesar Surabaya jadi tim asal Divisi Putih yang lolos ke babak playoff.
Sistem playoff musim 2017/18 tak jauh berbeda dengan sistem di IBL 2016/17. Tim peringkat 1 di masing-masing divis akan langsung menuju semifinal, sedangkan peringkat 2 dan 3 akan bertemu di babak pertama playoff. Oleh karena itu bagi SM dan PJ yang berstatus sebagai juara di divisi masing-masing, mereka berhak melaju langsung ke babak semifinal.
Sementara itu, empat tim lainnya harus saling sikut terlebih dulu. Garuda Bandung akan menghadapi Hangtuah, sedangkan Stapac mendapat lawan tangguh Pacific Caesar. Laga antara Garuda dan Hangtuah sendiri akan berlangsung di C-Tra Arena Bandung pada 2,3, dan 5 Maret, Garuda yang berada di posisi kedua mendapatkan tiga laga kandang.
ADVERTISEMENT
Meski posisi Garuda lebih baik dari Hangtuah yang hanya di tempat ketiga, bukan berarti langkah Diftha Pratama dan kolega di laga ini akan berjalan mudah. Karena menilik tiga pertemuan mereka di musim reguler, Hangtuah unggul 2-1 dari Garuda. Bahkan di pertemuan pertama pada seri dua di Solo, Hangtuah bisa menang dengan skor mencolok 83-62.
Di pertemuan kedua pada seri lima di Surabaya, Garuda mulai bisa mengimbangi permainan Hangtuah dan hanya kalah tipis 71-74. Barulah di pertemuan terakhir pada seri enam di Cirebon, Garuda bisa meraih kemenangan 77-75. Namun, meski kalah head to head, secara konsistensi penampilan sepanjang musim reguler, Garuda lebih unggul.
Dari 17 laga yang dimainkan, Garuda bisa meraih sembilan kemenangan dan delapan kali kalah untuk mengumpulkan 26 poin. Sedangkan Hangtuah hanya meraih tujuh kemenangan dan menelan 10 kekalahan. Dari 17 laga itu rata-rata memasukkan Garuda mencapai 71,18 poin. Sedangkan Hangtuah rata-rata mencetak 70,47 poin per gim.
ADVERTISEMENT
Selain lebih konsisten, ketajaman menyerang Garuda juga lebih apik ketimbang Hangtuah setelah mengganti pemain asing mereka, Devin Matthews dengan Gary Jacobs. Meski baru bermain sebanyak 10 kali, Jacobs rata-rata membukukan 25,2 poin dan 3,8 assist per laga.
Bima Perkasa Jogja vs Garuda Bandung
Bima Perkasa Jogja vs Garuda Bandung (Foto: Aditia Rizki Nugraha/kumparan)
Hadirnya Jacobs juga membuat performa pemain asing Garuda lainnya yaitu Roderick Flamings kian menanjak. Sempat tak terlalu menonjol di awal musim, statistik pemain berusia 31 tahun itu kian meningkat. Rata-rata ia membukukan 19,4 poin dan 14 rebound per laga.
Apiknya penampilan Garuda musim ini juga tak bisa dilepaskan dari peran para pemain lokal. Dengan tidak terlalu mengandalkan pemain asing, pemain macam Diftha Pratama, Galang Gunawan, dan Surliyadin muncul sebagai penyeimbang permainan.
ADVERTISEMENT
Diandalkannya para pemain lokal Garuda terlihat dari menit bermain mereka yang terbilang cukup banyak. Dari 12 pemain lokal, ada delapan pemain yang punya menit bermain lebih dari 10 menit dengan lima di antaranya lebih dari 15 menit.
Lain hal dengan Hangtuah di mana peran pemain asing sangat mendominasi. Selain itu, minimnya skuat yang dimiliki membuat rotasi pemain tidak berjalan lancar. Kelly Purwanto yang jadi pelapis Keenan Palmore dan Abraham Wenas pun tidak tampil terlalu maksimal musim ini, rata-rata ia hanya mencetak 2,3 poin. Hanya Hangtuah bisa memanfaatkan pengalaman dan umpan Kelly yang rata-rata mengirim 3,1 assist per laga.
Akan tetapi, langkah Hangtuah dipastikan tak akan berjalan mudah karena Garuda bermain di hadapan publik sendiri di C-Tra Arena Bandung. Dengan pergantian pemain asing dan solidnya para pemain lokal Garuda, hal-hal tersebut bisa menjadi batu sandungan besar Hangtuah untuk meloloskan diri ke semifinal.
ADVERTISEMENT
Pacific vs Stapac
Pacific vs Stapac. (Foto: Dok. IBL)
Hal serupa juga dialami oleh Stapac yang akan menghadapi Pacific di Surabaya. Pacific punya modal bagus karena pernah mengalahkan Stapac di DBL Arena pada seri lima musim reguler. Secara keseluruhan rekor pertemuan pun Pacific unggul 2-1 dari Stapac.
Namun, laga kedua tim ini terbilang akan berjalan sengit karena seperti Garuda. Pacific dan Stapac tak pernah ragu untuk memaksimalkan skuat lokal mereka. Pacific punya Nuke Saputra, Indra Muhamad, dan Muhammad Hardian Wicaksono, yang memiliki menit bermain lebih dari 25 menit. Sedangkan Stapac punya Prastawa, Abraham Damar, dan Vincent Kosasih yang rata-rata bermain lebih dari 20 menit per gim.
Soal agresivitas dalam menyerang pun kedua tim cukup berimbang, Stapac rata-rata membukukan 76,24 poin per laga. Sedangkan Pacific berselisih cukup dekat dengan 73,65 poin per gim. Stapac pun tak bisa sembarangan menganggap remeh penembak jitu Pacific, meski Stapac rata-rata melepas 28,47 tembakan tripon per laga dengan persentase mencapai 29%. Pacific pun memiliki keunggulan serupa di sektor ini, rata-rata ada 6,82 tripoin masuk dari 25,53 percobaan.
ADVERTISEMENT
Salah satu faktor yang bisa jadi penentu di laga Stapac versus Pacific ini bisa jadi ada pada stamina dan konsistensi ketika bermain, dan kedua tim punya masalah yang sama soal ini. Stapac rata-rata melakukan 11,35 turn over per laga, sedangkan Pacific lebih mending dengan 10,59 turn over.
Dengan berimbangnya kekuatan kedua tim di semua sektor, maka konsistensi saat beramain menjadi kunci utama ketika berlaga nanti. Hanya, bermain di kandang sendiri akan menjadi faktor x bagi Pacific. Jika mereka bisa memaksimalkan kondisi tersebut, bukan tidak mungkin memori manis mengalahkan Stapac di musim reguler akan terulang.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan