kumparan
4 Agustus 2018 10:46

Mengapa Clash Royale Pantas Masuk Asian Games 2018?

Clash Royale
Clash Royale (Foto: clashroyale.com)
Game bertemakan kartu tentu bukan suatu hal yang benar-benar baru. Pada tahun 1999, misalnya, Konami merilis gim Yu-Gi-Oh! Forbidden Memories untuk konsol PlayStation 1. Game ini adalah salah satu pionir video game kartu. Namun, di tangan Supercell, game kartu pun dibawa menuju level baru.
ADVERTISEMENT
Usai sukses keras dengan merilis gim bertema real-time strategy yang mereka beri judul 'Clash of Clans', Supercell pun merilis 'Clash Royale' pada 2016. Bedanya dengan game kartu sebelumnya, Supercell berhasil menggabungkan dua genre ke dalam satu gim: permainan kartu dan multiplayer online battle arena (MOBA)
Reaksi pasar terhadap apa yang disuguhkan Supercell bisa dibilang bagus, karena gim ini memang menyenangkan dalam kesederhanaannya. Gim ini sudah diunduh 23 juta kali pengguna di Play Store-nya Google per Juli ini. Di App Store-nya Apple, Clash Royale masih berada di peringkat ketujuh untuk game strategi.
Wujud kesuksesan Clash Royale juga bisa dilihat dari hadirnya gim ini di berbagai kompetisi eSports dunia. Salah satunya adalah Asian Games 2018. Lantas, seseru apa, sih, Clash Royale itu? Dalam tulisan kali ini, kumparanSPORT akan menjelaskan tentang plus-minus dari game ini.
ADVERTISEMENT
Ayo Berpikir: Kartu Mana yang Harus Digunakan
Sebelum menjelaskan lebih jauh, rasanya perlu bagi kami untuk menjelaskan apa itu MOBA dan apa yang dimaksud game kartu. Sesuai namanya, MOBA ada sebuah genre gim yang mengharuskan seorang gamer bereaksi cepat dan tepat terhadap tantangan dalam gim yang sifatnya real-time.
Misalnya di DOTA 2. Tujuan permainan gim MOBA rilisan Valve itu adalah untuk meruntuhkan markas lawan dengan sumber daya yang ada. Tantangannya, gamer harus menyerang dan memikirkan kemungkinan tower-nya diserang.
Sementara, game kartu punya karakter yang bertolak belakang. Game kartu tak mengharuskan untuk bertindak cepat, karena tiap gamer akan mendapatkan kesempatannya setelah lawannya mengeluarkan kartunya. Namun, bukan berarti segalanya jadi mudah.
ADVERTISEMENT
Video
Di Yu-Gi-Oh! Forbidden Memories, misalnya, gamer harus berhitung dengan cermat bagaimana keluarnya satu kartu punya impak yang besar terhadap pertahanan lawan. Atau, jangan sampai lawan mencium kelemahan dalam kartu-kartu yang kadung dikeluarkan gamer.
Jika gim-gim MOBA biasanya dimainkan dalam tim, maka sistem pertandingan game kartu kebanyakan adalah satu lawan satu.
Oke, paham? Baiklah, mari kita bahas tentang apa yang menarik dari Clash Royale ini.
Game ini, sebagaimana yang kami sebutkan di awal, berhasil meleburkan unsur-unsur MOBA dan game kartu. Game ini sifatnya satu lawan satu, dan dua gamer di Clash Royale harus bersaing untuk meruntuhkan kastil raja satu sama lain. Namun, sebelum bisa sampai di situ, mereka harus menghancurkan Tower terlebih dahulu.
ADVERTISEMENT
Nah, untuk menghancurkan menara itulah diperlukan kartu. Tiap gamer dipersilakan memilih lima kartu dalam dalam deck-nya sebelum pertandingan dimulai. Di sini, gamer bisa langsung menurunkan kartunya kapan pun.
Namun, mengeluarkan kartu dalam game ini tak bisa asal-asalan. Sebab, seorang gamer harus menunggu sampai elixir-nya terisi sesuai dengan yang dibutuhkan tiap kartu. Dan butuh kecermatan untuk mengenali tiap-tiap karakternya demi menghasilkan kerusakan yang besar terhadap lawan.
Video
Misalnya, karakter Skeleton. Karakter ini boleh saja mudah mati, tapi Skeleton butuh elixir paling sedikit, jumlahnya banyak, dan sangat lincah untuk menyakiti Tower atau Kastil Raja lawan. Sementara, Giant membutuhkan elixir yang banyak dan daya hidup yang lama plus impak kerusakan yang besar, tapi begitu lamban.
ADVERTISEMENT
Namun, tak hanya soal kartu saja yang harus dipikirkan gamer dalam game ini. Perkara waktu juga penting. Tiap pertandingan hanya dibatasi tiga menit, dan jika hasilnya seimbang, maka akan ditambah satu menit ekstra. Sehingga, dalam waktu yang singkat dan elixir yang terbatas, gamer harus berpikir caranya menang.
Tantangan-tantangan yang ada di Clash Royale inilah yang membuat game ini pantas diperlombakan di Asian Games 2018.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan