kumparan
17 Maret 2018 8:12

Owi/Butet: Persatuan Indonesia di Arena Bulu Tangkis Dunia

Owi/Butet di Babak Kedua All England 2018 (Foto: Bergas Agung/kumparan)
"Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat istiadat, tetapi milik kita bersama. Dari Sabang sampai Merauke."
ADVERTISEMENT
Soekarno, Presiden Indonesia pertama itu, menyuarakan kalimat tadi untuk menjunjung tinggi persatuan. Indonesia, kita tahu adalah negeri yang amat kaya, negeri yang beragam.
Berbagai golongan, suku, hingga agama ada di Tanah Air. Karenanya, persatuan adalah kunci, meski memang belum semua bisa memaknai dan menghidupinya dengan sungguh-sungguh.
Di dunia olahraga, salah satunya dari arena bulu tangkis, persatuan itu mewujud dalam bentuknya yang paling jelas. Para atlet yang punya latar belakang berbeda; berbeda suku, berbeda agama, bisa bersatu bersama menghargai perbedaan demi Merah-Putih di dada dan kumandang Indonesia Raya yang lebih dari sekadar remeh-temeh seremonial.
Salah satu representasi terbaiknya kemudian datang dari ganda campuran terbaik Indonesia, Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir. Mereka bisa menjadi bukti bahwa Indonesia berutang banyak pada perbedaan. Di atas segala ribut-ribut tak penting soal perbedaan, keberagaman yang kentara dari Tontowi/Liliyana justru melahirkan kekuatan yang membuat mereka padu di atas lapangan.
ADVERTISEMENT
Lewat kalungan medali dan raihan gelar juara, Tontowi/Liliyana mendiamkan perdebatan-perdebatan busuk yang mengatasnamakan perbedaan. Lewat ayunan raket, Tontowi/Liliyana membikin hari-hari orang Indonesia penuh dengan semoga. Semoga menang, semoga meraih gelar juara, semoga bisa berjaya, semoga sanggup menyambung kembali apa-apa yang sempat terputus.
Owi dan Butet --begitu keduanya biasa disapa-- punya latar belakang berbeda. Owi adalah pria Jawa, beragama Islam. Sementara Butet, wanita kelahiran Manado dan beragama Katolik.
Namun, perbedaan itu tak membuat keduanya tercerai-berai. Sebelum berlaga, keduanya menjadi satu di dalam doa, meski yang mereka ucap dan percayai jelas berbeda.
Tiap kali berhasil menambah angka, mereka saling menepukkan telapak tangan. Bila salah satu dari mereka melakukan kesalahan, maka pundak kawannya itu bakal ditepuk-tepuk.
ADVERTISEMENT
Entah apa yang membikin keduanya tak pernah lupa untuk melakukan kedua hal ini. Barangkali kebiasaan menahun ini jadi pengingat bahwa di atas lapangan, keduanya adalah satu dan setara.
Ketika selesai memenangi pertandingan, mereka bersyukur bersama, meski ritualnya berbeda. Owi kerap bersujud, Butet langsung membikin tanda salib. Mereka tetap melangkah bersama-sama, karena tujuan yang mereka bawa memang sama: Mereka ingin mengharumkan nama Indonesia di pentas bulu tangkis dunia. Tujuan mereka sama: Indonesia.
Owi/Butet di Babak Kedua All England 2018 (Foto: Bergas Agung/kumparan)
"Ya, kami bangga. Apalagi Olimpiade kemarin (Rio de Janeiro 2016, red) kami memberi medali emas untuk Indonesia. Ya, kami menunjukkan bahwa perbedaan dari suku, ras, dan agama itu bukan sebuah masalah. Kami sama-sama membela Merah-Putih, Indonesia," kata Butet kepada kumparan dan beberapa media di Arena Birmingham.
ADVERTISEMENT
"Kami berjuang sama-sama. Di lapangan, kami sama, kami satu. Kami punya visi dan misi yang sama, untuk membela Merah-Putih. Jadi nggak ada perbedaan, mau dia (Owi) kulit hitam, saya putih, mau dia Jawa, saya Manado. Itu menurut saya tidak masalah, dan itu bukan alasan untuk kami bercerai-berai," tambah dia.
Persatuan Indonesia yang ditunjukkan Owi/Butet di lapangan bulu tangkis itu memang patut diberi apresiasi tinggi. Terlebih, ganda campuran peringkat dua dunia itu punya catatan menakjubkan dalam soal mengarumkan nama Indonesia.
Keduanya pernah memenangi berbagai gelar, dari mulai All England, Kejuaraan Dunia, hingga Olimpiade. Keduanya, meski berbeda latar belakang, pernah sama-sama membuat lagu Indonesia Raya berkumandang di berbagai negara dalam kesakralan yang teramat sangat.
ADVERTISEMENT
Lewat perbedaan, Owi/Butet juga berhasil membuat seluruh rakyat Indonesia, yang juga datang dari berbagai latar belakang, bersatu bersama bersorak mendukung mereka berlaga. Karena mereka adalah milik Indonesia, dan Indonesia adalah milik mereka.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan