Pelari Wanita Peraih Perak Olimpiade 2020 Ini Dicurigai Sebagai Pria

4 Agustus 2021 13:16
·
waktu baca 1 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Pelari Wanita Peraih Perak Olimpiade 2020 Ini Dicurigai Sebagai Pria (17411)
zoom-in-whitePerbesar
Peraih medali perak Christine Mboma tersenyum usai selesaikan Olimpiade 2020. Foto: REUTERS/Lucy Nicholson
ADVERTISEMENT
Olimpiade 2020 menjadi momen manis bagi atlet Namibia, Christine Mboma. Ia menyabet medali perak cabang olahraga atletik nomor lari 200 meter putri. Namun, seseorang menudingnya sebagai pria.
ADVERTISEMENT
Lomba final cabang olahraga atletik nomor 200 meter putri dilangsungkan pada Selasa (3/8). Mboma bersaing dengan tujuh atlet lain.
Pada akhirnya, Mboma finis kedua dan menyabet perak dengan catatan waktu 21,81 detik. Meski demikian, atlet 18 tahun itu memecahkan rekor dunia U-20 atletik.
Elaine Thompson-Herah asal Jamaika meraih emas (21,53 detik) dan Gabrielle Thomas asal Amerika Serikat merengkuh perunggu (21,87 detik).
Kemudian, komentar miring menyerang Mboma. Mantan pelari Polandia, Marcin Urbas, meragukan dirinya adalah wanita.
Pelari Wanita Peraih Perak Olimpiade 2020 Ini Dicurigai Sebagai Pria (17412)
zoom-in-whitePerbesar
Christine Mboma dari Namibia beraksi di Olimpiade Tokyo 2020. Foto: REUTERS/Aleksandra Szmigiel
"Saya ingin meminta tes menyeluruh pada Mboma untuk mengetahui apakah dia benar-benar seorang wanita," kata Urbas, dikutip dari Marca.
"Kelebihan testosteron Mboma dibandingkan peserta lain terlihat dengan mata telanjang. Dalam konstruksi, gerakan, teknik, sekaligus kecepatan, dan daya tahan," jelasnya.
ADVERTISEMENT
Urbas juga menyoroti kecepatan lari Mboma yang dinilai tak wajar. Ia membandingkan soal personal best (PB) atau raihan terbaik Mboma dengan dirinya dahulu.
"Dia memiliki parameter anak laki-laki berusia 18 tahun, pada usia itu PB saya adalah 22,01 dan dia telah melakukannya pada 21,97 di Tokyo. Dengan kemajuan dan peningkatan tekniknya, dia akan segera turun menjadi 21,00 detik di 200 meter dan 47,00 detik di 400 meter," tambah Urbas.
"Kami akan terus berpikir bahwa dia adil dan setara, dan itu adalah ketidakadilan yang jelas dan tak terpuji terhadap perempuan yang pasti perempuan," tandasnya.
***
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020