kumparan
3 Juli 2019 19:58

Penguatan Karakter, Kiat agar Atlet Junior Tak Kandas di Level Senior

Maskot ASEAN School Games 2019 diambil dari Warak Ngendhog yang mencerminkan nilai persatuan dalam keberagaman. Foto: Karina N. Shabrina/kumparan
Para peraih emas SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade, tak serta-merta muncul sebagai atlet andal. Mereka berjalan setapak demi setapak, memulai perjalanan dari level junior.
ADVERTISEMENT
Bertepatan ASEAN Schools Games 2019 ke-11 yang digelar di Kota Semarang, Jawa Tengah, 17-25 Juli mendatang, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) berupaya fokus meningkatkan pembinaan atlet sejak dini.
ASEAN Schools Games sendiri merupakan multiajang olahraga terbesar se-Asia Tenggara bagi atlet usia pelajar. Atlet-atlet junior dari 10 negara ini bakal bertanding di sembilan cabang olahraga (cabor) dengan 117 nomor.
Menurut Chef de Mission (CdM) Kontingen Indonesia, Yayan Rubaeni, tujuan utama penyelenggaraan ASEAN School Games 2019 adalah pembinaan atlet usia muda.
Kesuksesan transisi atlet junior ke senior memang menjadi target pemerintah. Selama ini, kata Yayan, Kemenpora sudah memiliki berbagai sistem pembinaan di 34 provinsi.
"Ada Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar Daerah (PPLPD), Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP), dan Pusat Pendidikan Olahraga Pelajar (PPOP). Mayoritas (pendanaan) dari APBN sebagai sentra persiapan atlet muda," ucap Yayan dalam Rapat Koordinasi Persiapan ASEAN School Games 2019 di Gedung PPITKON Kemenpora, Rabu (3/7/2019).
ADVERTISEMENT
"Setelah kami menyiapkan kantong di tiap provinsi, setiap klub (olahraga) bisa memanfaatkannya. Sekolah juga kami dorong punya klub olahraga sekolah, berbeda dengan ekstrakulikuler," imbuhnya.
Menpora Imam Nahrawi (kanan) menghadiri seremoni peluncuran logo dan maskot ASEAN School Games 2019 Semarang di Wisma Kemenpora, Jakarta, Selasa (25/6). Foto: Karina N. Shabrina/kumparan
Keberadaan panggung kompetisi juga tak lepas dari perhatian. Selama ini Pekan Olahraga Pelajar Wilayah (Popwil) hingga Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) menjadi salah dua kompetisi yang juga digunakan untuk menempa atlet-atlet junior.
Sayangnya, beberapa nama yang mentereng di level junior kerap 'punah' alias tidak muncul kembali di level senior. Salah satu penyebabnya adalah soal komitmen untuk terus menjadi atlet.
"Hampir semua cabang olahraga kendalanya ada di transisi 18 tahun (ke senior). Saya ambil contoh tenis. Hampir setiap tahun ada petenis junior mampu tembus 50 dunia, tapi (ketika) atlet tersebut masuk ke senior, hampir semua--dalam tanda kutip--gagal," tutur Yayan.
ADVERTISEMENT
"Analisis (di) cabang lain pun sama. Banyak faktor, di antaranya internal keluarga, lanjut atlet apa tidak (jadi atlet). Maka penguatan karakter, semangat, dan motivasi kami kuatkan agar potensi bisa keluar," tegasnya.
Di ASEAN School Games 2019, panitia menyiapkan program pembentukan karakter bekerja sama dengan Quantum Champions serta program sharing bersama mantan atlet nasional. Tujuannya adalah membangun emosional dan mental atlet sejak dini.
"(Harapannya) mereka bisa mengelola diri, emosi, keberanian mengambil keputusan, dan keberanian melawan atlet dari negara lain," kata Yayan.
Program sharing menghadirkan atlet berprestasi seperti Suryo Agung, mantan pemegang rekor tercepat di Asia Tenggara; Sinta Berliana Heru, peraih emas taekwondo di SEA Games; hingga Neneng Nurossi Nurasjati.
ADVERTISEMENT
Kontingen Indonesia di ASEAN Schools Games bakal bertumpu kepada 183 atlet yang didominasi usia 17-18 tahun, termasuk di antaranya empat atlet termuda berusia 14 tahun.
Mereka ditargetkan meraih 36-38 emas agar Indonesia bisa finis sebagai juara umum musim ini. Harapan terbesar berada di cabor atletik (target 8-10 emas) dan renang (12-14 emas).
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan