kumparan
6 November 2018 19:00

Tersingkir di Babak Pertama, Fajar/Rian Mengaku Kalah 'Power'

Ganda putra, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, di babak pertama Fuzhou China Terbuka 2018. (Foto: Dok. PBSI)
Pertengahan Oktober lalu, PBSI kehilangan satu wakil ganda putra di Denmark Terbuka 2018. Saat itu, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto yang sudah menginjakkan kaki di Kota Odense batal berlaga di Odense Sports Park.
ADVERTISEMENT
Fajar terpaksa kembali ke Tanah Air karena ada keluarganya yang sakit, meninggalkan Rian yang tetap bertahan agar tidak didenda hingga tur Eropa berikutnya di Prancis Terbuka 2018. Maka, banyak yang begitu antusias menyambut Fuzhou China Terbuka 2018 awal November.
Ya, di turnamen Super 750 inilah Fajar/Rian kembali ke lapangan, menunjukkan taji mereka sebagai peraih perak nomor perorangan Asian Games 2018. Namun, panggung pertama pada Selasa (6/11/2018) di Haixia Olympic Sports Center, Fuzhou, sekaligus menjadi aksi terakhir mereka.
Fajar/Rian kalah straight game dari wakil Taiwan, Liao Min Chun/Su Ching Heng, dengan skor 18-21 dan 19-21, sekaligus menjadi wakil Indonesia pertama yang gugur di 32 besar.
Well, melihat statistik poin dua gim pertandingan selama 42 menit itu, Fajar/Rian sudah terseok-seok di gim pertama meski di atas kertas unggul sebagai peringkat delapan dunia.
ADVERTISEMENT
Rival yang merupakan nomor 12 dunia itu menyegel keunggulan 11-8 di interval gim bahkan jauh meninggalkan Fajar/Rian saat skor berubah 15-10.
Tertinggal lima angka, Fajar/Rian bangkit dan nyaris menyamakan kedudukan di skor 17-18. Hanya saja, keduanya tetap tertinggal 18-21 di gim pertama itu. "Kalah start karena mereka langsung menekan, kami kebanyakan angkat bola," kata Rian lewat keterangan resminya, Selasa (6/11).
Di gim kedua, Fajar/Rian sejatinya berpeluang memaksakan pertandingan lanjut hingga tiga gim. Di menit awal, juara Malaysia Masters 2018 ini unggul 8-5. Meski disamakan 9-9 hingga kembali tertinggal 10-15 seperti gim pertama, asa masih dipegang kala skor berubah tipis 16-17.
Hanya butuh satu angka untuk menggantung harapan. Sayangnya belum juga bangkit, Fajar/Rian terus tertinggal hingga 17-19. Pada akhirnya, gim kedua berakhir dengan skor 19-21. Tiket ke 16 besar pun lepas dari tangan Fajar/Rian.
ADVERTISEMENT
Apakah absennya mereka di Denmark dan Prancis Terbuka membuat permainan mereka tidak berkembang dan berujung kekalahan di Fuzhou? Bukan, setidaknya bukan menjadi hambatan utama merujuk komentar Fajar.
"Tidak ada perbedaan setelah absen di dua turnamen, touch-nya mungkin beda, tapi tidak banyak. Memang di pertandingan tadi kami banyak melakukan kesalahan sendiri," celoteh pemain asal Bandung itu.
"Lawan unggul di power, drive-nya cepat, kami banyak keteteran. Kalau ketemu lagi dengan mereka, dari pertama harus sudah siap, tadi kami kalah start, kami masih meraba permainan mereka, sedangkan mereka bisa langsung in," imbuhnya.
Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
Rian lebih menyesali hilangnya poin krusial di pengujung gim kedua. Meski awalnya sempat unggul —dan nyaris menyamakan kedudukan, setidaknya untuk menciptakan momentum--, tetap saja Liao/Su sulit dibobol.
ADVERTISEMENT
"Sebenarnya di game kedua kami sudah unggul, tapi tersusul jadi 16-11 dan kami agak goyang di sini. Saat tertinggal jauh, kami bisa menyusul lagi, tapi sayang di poin-poin akhir, bola yang harusnya mati tapi tidak bisa dimatikan," ujar Rian.
Tak berselang lama usai pertandingan Fajar/Rian, skuat Tanah Air kembali menelan kekalahan dari sektor ganda putra. Kali ini Berry Angriawan/Hardianto 'korbannya'. Wakil Indonesia peringkat 18 dunia ini bisa sengit mengimbangi Goh V Shem/Tan Wee Kiong (Malaysia) yang unggul di peringkat 13, meski berakhir dengan skor 20-22 dan 18-21 selama 38 menit.
Di gim pertama pun, Berry/Hardianto yang lebih dulu menyegel game point 20-19. Sementara di gim kedua, Berry/Hardianto yang tipis tertinggal 10-11 kehilangan momentum usai tertinggal cukup jauh 13-17.
ADVERTISEMENT
Berry Angriawan dan Hardianto di Blibli Indonesian Open 2018, Istora Senayan, Jakarta (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
"Kami sudah bisa unggul di game pertama tapi kami kurang tenang dan banyak melakukan kesalahan sendiri. Saat bisa menyakan kedudukan lagi, kami malah kurang tenang lagi," ucap Hardianto dalam keterangan resminya di laman PBSI.
"[...] Pengembalian kami banyak yang mengambang (tanggung) dan banyak mengarahkan bola ke atas, sehingga mudah untuk diserang lawan. Secara teknik kami harus memperbaiki bola sambungannya, harus lebih variatif," imbuh Berry yang juga mengaku permain mereka di babak pertama kurang tenang.
Dengan tersingkirnya Fajar/Rian dan Berry/Hardianto, tersisa Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan dan Wahyu Nayaka Arya Pankaryanira/Ade Yusuf Santoso yang masih akan bermain di babak pertama pada Fuzhou China Terbuka hari kedua, Rabu (7/11).
Adapun, ganda terbaik Indonesia juga dunia, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, yang menang di babak pertama sudah bisa beristirahat menunggu pertandingan lawan Kang Min Hyuk/Kim Won Ho (Korea Selatan) pada Kamis (8/11).
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan