kumparan
26 September 2018 19:03

Tugas Berat di Balik Tiga Gelar Trio Jonatan-Anthony-Ihsan

Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting mendapat emas di cabang olah raga bulu tangkis Asian Games 2018, Selasa (28/8/2018). (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
Ada yang dianggap menurun, ada yang tengah mencari jati dirinya, ada juga yang berkembang dengan belajar dari pengalaman pahit. Tiga kondisi itulah yang muncul dalam perjalanan karier 'Three Musketeers' tunggal putra PBSI.
ADVERTISEMENT
Bukan senjata api, hanya raket di tangan yang menjadi senjata andalan mereka untuk menaklukkan kompetisi bulu tangkis dunia. Ya, kita berbicara tentang Jonatan Christie, Ihsan Maulana Mustofa, dan Anthony Sinisuka Ginting.
Kali ini, komentar diberikan oleh pelatih kepala tunggal putra PBSI, Hendry Saputra. Lewat kacamatanya, didapat bagaimana progres Jonatan, Anthony, dan Ihsan. Ketiganya sama-sama merengkuh titel jawara di musim ini, dengan level yang berbeda-beda, dan dengan tugas berat di baliknya.
Diawali dari Jojo --sapaan Jonatan, yang mengangkat nama sektor tunggal putra Indonesia usai menyegel emas nomor perorangan Asian Games 2018 Agustus lalu. Untuk menjadi juara, Jojo mengalahkan Chou Tien Chen (Taiwan) di final.
Nama Jonatan pun dielu-elukan seantero negeri. Namun, jalan Jojo tak mulus setelahnya. Di babak pertama Jepang Terbuka 2018, Selasa (11/9/2018), tepat dua pekan setelah Jojo menjuarai Asian Games, ia kalah dari Prannoy H.S. (India).
ADVERTISEMENT
Lanjut ke turnamen berikutnya yakni China Terbuka 2018, Jojo melewati rintangan pertama lawan Kanta Tsuneyama (Jepang). Akan tetapi, napasnya hanya lebih panjang satu babak. Ia terhenti di babak kedua, dikalahkan Ng Ka Long Angus (Hong Kong).
Atlet bulutangkis tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie saat berlatih di PBSI, Jakarta, Jumat (31/8/2018). (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
Dari keterangan resmi Hendry Saputra di laman resmi PBSI, memang penampilan tunggal peringkat 15 dunia yang kini tengah berjuang di Korea Terbuka itu dianggap menurun. Apa alasannya?
"Jonatan memang menurun dari segi prestasi, karena dia di Asian Games 'kan juara. Setelah Asian Games, ada masanya fisik, mental, dan fokusnya menurun," hanya itu penjelasan Hendry soal turunnya performa Jojo.
Di SK Handball Stadium, Seoul, kabar terbaru dari Jojo adalah ia lolos ke babak kedua Korea Terbuka untuk melawan Hu Yun (Hong Kong), Kamis (27/9). Berbicara Korea Terbuka, turnamen Super 500 itu pun erat kaitannya dengan Anthony Ginting.
ADVERTISEMENT
Usai Jojo, pemain asal Cimahi itu sendiri kembali mengharumkan sektor tunggal putra PBSI dengan gelar prestisius di China Terbuka Super 1000, atau selevel All England. Di China, Anthony menaklukkan dua andalan tuan rumah, Lin Dan dan Chen Long.
Pun tunggal terbaik dunia, Viktor Axelsen, serta Chou Tien Chen, ikut dilibasnya. Sementara juara Indonesia Open 2018 Super 1000, Kento Momota (Jepang), dibuat tunduk dua gim langsung.
Anthony Sinisuka Ginting juara China Terbuka 2018 usai kalahkan Kento Momota (Jepang). (Foto: Dok. PBSI)
"Saya tidak kaget Anthony bisa melewatinya. Karena tiap pemain sehebat apa pun, pasti punya kelemahan, apakah Anthony bisa memanfaatkan ini? Sebagai contoh, Shi Yuqi (China) ketemu Momota tidak bisa berkembang. Anthony waktu lawan Shi Yuqi di Asian Games, fisiknya tidak menunjang, jadi kalah. Ini yang terus kami pelajari," papar Hendry.
ADVERTISEMENT
Hendry menganggap, titik balik Anthony memang berawal dari penampilannya di final beregu Asian Games, Rabu (22/8) saat melawan Shi Yuqi itu. Di pengujung gim ketiga, Anthony kram paha kiri. Ia memaksakan berdiri hingga beberapa kali jatuh bangun di lapangan.
Bisa ditebak, Anthony kalah. Tetapi, ia keluar lapangan dengan memenangi hati publik Tanah Air. Meski selanjutnya di nomor perorangan Anthony terhenti di semifinal, perjuangannya tetap mendapat aplaus karena sebelumnya lebih dulu menundukkan Momota dan Chen Long.
"Setelah itu (Asian Games) kami diskusi, dia pelajari video permainannya. Kemajuannya sudah ada, dia sudah bisa mengatur fokus, bisa atur tempo main, dan bisa merancang apa yang dia mau," puji Hendry.
Aksi Ihsan Maulana di Piala Thomas 2018. (Foto: Dok. PBSI)
Berbicara pejuang ketiga, ada Ihsan yang baru saja merengkuh titel pertama lewat gelar di Bangka Belitung Indonesia Masters 2018 Super 100, Minggu (23/9). Menurut sang pelatih, Ihsan tengah berusaha mengembalikan kepercayaan diri yang sempat surut usai cedera.
ADVERTISEMENT
"Awal menurunnya penampilan Ihsan karena dia kena cedera, tiga bulan nggak main, absen di tiga-empat pertandingan. Ini tidak gampang untuk seorang pemain. Ihsan pernah jadi yang terbaik di antara Anthony dan Jonatan, sekarang dia sedang mengejar kembali," kata Hendry.
"Dia butuh waktu untuk itu, tren penampilannya sudah membaik. Setelah ini, kami akan coba lagi untuk Ihsan. Semoga gelar juara ini (Super 100) bisa meningkatkan rasa percaya dirinya lagi," imbuhnya.
Sayang, pemain asal Tasikmalaya ini baru saja terhenti di babak pertama China Terbuka 2018, Rabu (26/9). Ihsan harus pulang dini hanya dengan melakoni sekali pertandingan usai kalah straight game 18-21 dan 14-21 dari peraih perak perorangan Asian Games 2018, Chou Tien Chen.
ADVERTISEMENT
Lantas, bagaimana perjalanan trio tunggal putra ini ke depan? Ihsan tersingkir, masih ada Anthony yang tengah berusaha menjadi juara bertahan di Korea Terbuka setelah merebut gelar musim lalu, serta ada tugas bagi Jojo untuk membuktikan diri di single event.
"Selalu ada ujian bagi tiap pemain setelah menjadi juara, apalagi setelah Asian Games, banyak harapan kepada Anthony dan Jonatan. Tiap atlet pasti punya tujuan, selagi tujuan itu belum tercapai, ya dia harus berjuang terus. Kalau jatuh, ya, fight back," pesan Hendry.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan