kumparan
18 Oktober 2018 8:55

6 Seniman Bicara Soal Jilbab dalam Proyek Seni Perempuan Perupa 2018

Proyek Seni Perempuan Perupa 2018
Proyek Seni Perempuan Perupa 2018 (Foto: dok.Instagram @proyekseni)
Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), untuk keempat kalinya kembali menyelenggarakan program Proyek Seni Perempuan Perupa. Menggandeng enam seniman perempuan, pameran kali ini menyoroti fenomena jilbab baik secara personal, sosial maupun kultural.
ADVERTISEMENT
"Kami menganggap proyek seni perempuan perupa penting untuk diteruskan. Suatu saat bukan tidak mungkin proyek ini melibatkan perupa lintas gender. Namun saat ini kami masih ingin berpihak dan melihat bagaimana isu dan permasalahan-permasalahn perempuan direspon dan ditafsir oleh perempuan perupa. Bagaimanapun isu kesetaraan menjadi sangat penting untuk menjaga kualitas kehidupan," papar Irawan Karseno, Ketua DKJ sekaligus Anggota Komite Seni Rupa DKJ, dalam keterangan yang diterima kumparanSTYLE, Rabu (17/10).
Irawan Karseno membuka Proyek Seni Perempuan Perupa 2018 di Galeri Cipta II TIM
Irawan Karseno membuka Proyek Seni Perempuan Perupa 2018 di Galeri Cipta II TIM (Foto: dok.Instagram @jakartartscouncil)
Pameran bertajuk "Yang Tersingkap di Balik Jilbab" ini menghadirkan karya dari seniman perempuan seperti Dian Suci Rahmawati, Dyantini Adeline, Ferial Afiff, Lala Bohang, Ipeh Nur, dan Ratu R.Saraswati.
"Keenam seniman yang terlibat saat ini rata-rata memang memiliki kedekatan atau pengalaman tersendiri dengan jilbab. Dan dalam dua dekade terakhir ini, jilbab semakin populer di Indonesia. Perempuan dari kalangan remaja hingga orang tua yang memakai jilbab sering kita temui di segala aktivitas keseharian. Dari segi model jilbab juga berkembang amat pesat. Jika jilbab dulu pernah dilarang di Indonesia dan menjadi minoritas, saat ini pengguna jilbab menjadi mayoritas. Di sini kita mengamati bagaimana konstruksi-konstruksi sosial yang ada dapat membentuk perempuan yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial, polik dan budaya," papar Angga Wijaya selaku kurator Proyek Seni Perempuan Perupa 2018 kepada kumparanSTYLE di Galeri Cipta II TIM, Rabu (17/10).
Suasana pameran proyek seni perempuan perupa
Suasana pameran proyek seni perempuan perupa (Foto: Ratmia Dewi/kumparan)
Bersama Angga Wijaya selaku kurator Proyek Seni Perempuan, keenam seniman perempuan melakukan riset pameran sejak Juli hingga September 2018. Dari deretan karya yang dipamerkan terlilhat jelas bagaimana para perupa perempuan ini memandang jibab dalam keseharian mereka.
Ageming Ati Karya Dian Suci Rahmawati
Ageming Ati Karya Dian Suci Rahmawati (Foto: Ratmia Dewi/kumparan)
Misalnya saja dalam instalasi seni 'Kaffah', karya Ferial Afiff. Melalui istalasi lilin menyala yang saling terhubung dengan tali, ia mencoba menvisualisasikan pemikiran dari tokoh sufi perempuan legendaris, Rabi'ah al-Adawiyah. Ia sufi pertama yang memperkenalkan ajaran Mahabbah (cinta).
ADVERTISEMENT
Singkat cerita, suatu hari Rabi'ah menghadiahi tiga benda ke Hasan (ulama salaf yag terkemuka) yakni lilin, sebuah jarum, dan sehelai rambut.
Kaffah karya Ferial Afiff
Kaffah karya Ferial Afiff (Foto: Ratmia Dewi/kumparan)
"Bila saya memaknai ulang, lilin adalah tentang bagaimana keyakinan atas sang maha kuasa, dapat menerangi dan memberi dampak baik tanpa efek samping dan tanpa pamrih. Kemudian sehelai rambut di sini saya wakilkan dengan benang, tentang bagaimana semua usaha melakukan pendekatan spiritual, kesadaran pendekatan ini merupakan jalan panjang yang rutin sehingga lama kelamaan tidak terasa menjadi beban. Kira-kira begitu pula proses yang saya alami untuk menuju memutuskan memakai jilbab sejak 2016 lalu. Mewakili apa yang saya niat-pikir-lakukan kini," papar seniman kelahiran Jeddah 35 tahun yang lalu ini.
Jika diamati dengan saksama, pada badan lilin juga terselip rangkaian kata. Ferial menyisipkan beberapa lirik lagu kedalamnya. Semisal lirik lagu Unconditionally - Katy Perry.
ADVERTISEMENT
Bergeser ke karya selanjutnya, 'Unbothered' karya Lala Bohang. Suatu ruang kosong bertirai putih beralaskan pasir dan diisi dengan lampu di dalamnya terlihat amat menarik perhatian. Pengunjung datang silih berganti, memasuki ruang kosong bertirai tersebut dan seketika lampu di dalamnya menyala hingga mati begitu saja.
Melalui karya ini Lala Bohang mencoba mengandaikan jilbab sebagai sebuah ruang safe space dengan kepemilikan tunggal. Di dalam ruangan itu opini, persepsi diluar pemiliknya tidak memiliki kekuatan atau pengaruh karena jilbab merupakan perjalanan individu.
Unbothered karya Lala Bohang
Unbothered karya Lala Bohang (Foto: Ratmia Dewi/kumparan)
Oleh karena itu, bagi Lala, mencari pemahaman tunggal atas jilbab merupakan sebuah kesia-siaan karena segala kemungkinannya tidak terbatas, semua tergantung waktu dan letak jilbab itu berada serta di mana seseorang itu berdiri dan melihat.
ADVERTISEMENT
Pengalaman tersebut dituangkan oleh seniman kelahiran Makassar ini ke dalam ruang kosong bertirai karyanya.
Sejumlah karya lainnya di Proyek Seni Perempuan Perupa 2018 dapat pula Anda nikmati dalam pameran yang tengah berlangsung mulai 17 hingga 30 Oktober, pukul 11:00 - 20:00 WIB, di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan