kumparan
17 April 2018 17:09

Dr. Yuliati Herbani: Perempuan Jangan Ragu Memilih Profesi Peneliti

Dr. Yuliati Herbani
Dr. Yuliati Herbani (Foto: L'Oreal)
Dr. Yuliati Herbani (38) sudah jatuh cinta dengan dunia sains dari kecil. Ia awalnya tertarik pada bidang nuklir, namun akhirnya memutuskan untuk mengambil jurusan Fisika di Institut Pertanian Bogor (IPB). Pada masa kuliah ia mulai tertarik pada laser dan membuat skripsi tentang interaksi laser dengan partikel.
ADVERTISEMENT
Lulus kuliah, ia langsung diterima bekerja sebagai peneliti di Pusat Penelitian Fisika LIPI. Tidak puas sampai di situ, Dr. Yuliati melanjutkan kuliah tingkat Magister di bidang Fisika di Universitas Queensland, Australia dan terus mengambil gelar doktor pada bidang Laser Applied Material Science di Universitas Tohuku, Jepang pada tahun 2011.
Berbagai gelar pun pernah diraihnya. November 2017 lalu ia terpilih sebagai salah satu peneliti perempuan Indonesia yang memenangkan L’Oreal For Women in Science, salah satu penghargaan bergengsi untuk peneliti perempuan.
Dr. Yuliati Herbani
Dr. Yuliati Herbani (Foto: L'Oreal)
Untuk berkompetisi dalam penghargaan ini, Dr. Yuliati mengajukan penelitiannya mengenai alternatif penanganan terhadap kanker melalui nanopartikel dengan sistem laser. Jadi harapannya, di masa depan pengidap kanker dapat mencoba alternatif lain untuk mematikan sel-sel kanker selain dengan kemoterapi.
ADVERTISEMENT
“Saya ingin berkontribusi lebih kepada perempuan, yang rentan terhadap kanker serviks dan kanker payudara yang menjadi penyebab kematian tertinggi pada perempuan. Dengan memanfaatkan keunggulan dari masing-masing nanopartikel, diharapkan adanya efek sinergi dengan efek samping minimal untuk terapi kanker yang saat ini masih dalam tahap uji klinis,” ujarnya pada saat inaugurasi L’Oréal For Women in Science, awal November 2017 lalu.
Untuk merayakan Hari Kartini 21 April ini, kumparanSTYLE (kumparan.com) memilih Dr. Yuliati sebagai salah satu perempuan yang patut menjadi teladan dalam mewujudkan cita-cita Kartini untuk memajukan perempuan Indonesia. Kami mengobrol hangat bersama Dr. Yuliati mengenai penelitiannya, kesibukannya mengasuh anaknya yang masih balita dan keinginannya untuk menginspirasi lebih banyak perempuan Indonesia menjadi peneliti seperti dirinya.
ADVERTISEMENT
Simak obrolan kami dengan Dr. Yuliati Herbani berikut ini.
Banyak data yang mengungkapkan bahwa sains belum menjadi bidang yang diminati banyak perempuan. Apakah kondisinya sama di lingkungan Anda bekerja?
Kalau dari statistik, di tempat saya di jurusan Fisika, persentasenya sudah hampir 50:50. Mahasiswa yang saya bimbing jumlahnya juga cukup berimbang antara laki-laki dan perempuan.
Jadi sepertinya sudah ada peningkatan dalam minat perempuan ke sains. Anda sendiri sempat tidak didukung oleh keluarga ketika memilih sains. Apa sebabnya?
Lebih ke pekerjaan sebagai penelitinya sih. Dulu saya ditanya, jadi peneliti nanti kerjanya seperti apa? Memang mau meneliti apa sih?
Orangtua saya inginnya saya jadi guru atau dosen, karena kan katanya amal ibadahnya sampai sampai akhir hayat. Sebagai peneliti hasilnya tidak bisa kelihatan langsung, sementara sebagai dosen atau guru bisa terlihat, misalnya melalui jumlah mahasiswa yang sudah kita didik. Tapi semakin lama mereka semakin bisa menerima, terutama pada saat inaugurasi L’Oreal For Women in Science waktu itu. Mereka bilang, ‘Oh jadi peneliti itu ada ya yang menghormati dan menghargai.’
Dr. Yuliati Herbani
Dr. Yuliati Herbani (Foto: L'Oreal)
Bagaimana ceritanya Anda ikut berkompetisi di L’Oreal For Women in Science?
ADVERTISEMENT
Sebenarnya saya sudah ingin ikut dari 2013. Kebetulan ada rekan saya yang juga sudah ikut, tapi saya selalu merasa belum siap. Dan ternyata waktu itu saya juga sudah tidak bisa ikut karena keterbatasan usia. (Waktu itu batas usia peserta L’Oreal For Women in Science adalah 35 tahun yang kemudian diganti menjadi 40 tahun)
Ketika saya tahu ada perubahan, saya pikir inilah kesempatannya. Karena tahun ini saya masuk usia 39 tahun, jadi saya bertekad untuk ikut. Ini adalah penghargaan prestigious, sesuatu yang sangat luar biasa di kalangan peneliti perempuan. Jadi setidaknya dalam hidup saya, saya pernah menjadi bagian dari ini. Tidak hanya mengenai penghargaan dan hadiahnya, namun ini juga menjadi ajang perluasan networking, dan alhamdulillah saya terpilih.
Dr. Yuliati Herbani
Dr. Yuliati Herbani (Foto: L'Oreal)
Sebagai ilmuwan perempuan, ada tantangan tertentu selama penelitian atau dalam proses belajar?
ADVERTISEMENT
Sebelum menikah, rasanya tidak ada. Setelah menikah dan punya anak, tentu manajemen waktunya semakin terasa diperlukan. Dengan anak yang masih balita dan suami harus sering melakukan perjalanan dinas ke luar kota, sehari-hari saya harus mengatur segala sesuatu sendiri. Jadi itu yang sulit. Saya masih menomorsatukan anak dan keluarga daripada pekerjaan saya, tapi begitu saya kembali di pekerjaan, saya akan totalitas lagi di situ.
Tapi kalau terkait gender tidak ada?
Kalau di Fisika sebenarnya masih ada. Bidang Fisika masih didominasi laki-laki. Pernah ada suatu masa kantor kami dipimpin oleh laki-laki, sehingga semua jajaran pemimpinnya juga laki-laki dan semua keputusan diambil oleh mereka. Tapi sekarang pemimpinnya perempuan, sehingga ada banyak juga jajaran pemimpin di bawahnya yang perempuan
ADVERTISEMENT
Menurut Anda apakah kita perlu terus meningkatkan jumlah peneliti perempuan?
Sangat, sangat perlu. Pendekatan perempuan dan laki-laki terhadap masalah kan berbeda. Cara kita melihat perspekstif terhadap suatu masalah jadi lebih balance dengan adanya peneliti perempuan dan laki-laki.
Sejauh ini apa yang sudah Anda lakukan untuk mempromosikan bidang sains ke mahasiswa Indonesia?
Di Fisika LIPI, kami sering mengadakan road show ke berbagai universitas untuk mempresentasikan hasil penelitian kami. Dari ajang tersebut kami menyaring mahasiswa-mahasiswa yang bisa kami bimbing untuk tugas akhir mereka atau menyaring kolaborasi sesama peneliti atau dosen. Untuk acara seperti ini, peneliti-peneliti yang jenjangnya masih muda diundang oleh manajemen untuk ikut program ini.
Tahun lalu saya belum ikut road show ini, tapi untuk ke depannya saya pasti ikut sehingga bisa mendorong mahasiswa untuk terus mendalami dunia penelitian. Selain itu saya juga kadang ikut seminar yang diundang oleh universitas lain untuk mempresentasikan hasil penelitian saya.
ADVERTISEMENT
Ada sosok yang menginspirasi Anda dalam mencapai impian Anda hingga saat ini?
Ibu saya. Ibu saya sudah meninggal sebenarnya, tapi saya ingin mempersembahkan prestasi saya kepada beliau. Ibu saya meninggal karena stroke semasa saya kuliah S1. Walaupun itu bukan kanker, tapi pengalaman ibu yang meninggal karena stroke menginspirasi saya untuk melakukan penelitian yang bisa saya kontribusikan pada dunia medis.
Dengan kesibukan Anda di pusat penelitian dan sebagai ibu dan istri, masih ada waktu untuk diri sendiri? Apa yang Anda lakukan di waktu luang?
Di akhir pekan saya pasti menghabiskan waktu dengan suami dan anak. Kebetulan, karena suami sering ke luar kota, kami seringkali hanya bisa bertemu pada akhir pekan. Kami biasa jalan ke mall atau ke tempat rekreasi.
Dr. Yuliati Herbani
Dr. Yuliati Herbani (Foto: Retno Wulandhari Handini/kumparan)
Apa pesan yang ingin Anda sampaikan kepada perempuan yang ingin menekuni dunia sains dan menjadi ilmuwan?
ADVERTISEMENT
Jangan takut, kesempatan semakin terbuka lebar ke depannya. Semakin banyak apresiasi-apresiasi dari pemerintah dan perusahaan seperti L’Oreal misalnya untuk memberikan dukungan, beasiswa, research grand, dan lainnya. Beasiswa di universitas-universitas juga sudah banyak yang dikhususkan untuk perempuan. Jadi, perempuan jangan ragu memilih menjadi peneliti.
---
Simak cerita perempuan inspiratif lainnya hanya di topik sheinspiresme.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan