kumparan
28 November 2018 15:59

Inspirasi Womanpreneur: Rina Trisnawati, CEO Sociopreneur TinTin Chips

Pendiri Tintin Chips Rina Trisnawati (Teh Rina)
Pendiri Tintin Chips Rina Trisnawati (Teh Rina) (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Berbisnis untuk keuntungan sendiri bisa saja. Tapi kalau tidak bermanfaat untuk orang lain, buat apa?"

- Rina Trisnawati, Founder TinTin Chips

ADVERTISEMENT
Kalimat di atas meluncur spontan dari mulut Teh Rina, begitu sapaan akrabnya, sembari meneguk segelas es teh tawar yang ada di hadapannya. Sejak empat tahun lalu, kesibukan perempuan 49 tahun yang berprofesi sebagai karyawan swasta ini bertambah.
Selain bekerja, Rina aktif mengembangkan bisnis kukis atau biskuit rumahan miliknya yang dikenal dengan nama TinTin Chips. Bermodalkan oven tangkring dan bahan baku seharga Rp 600 ribu, Rina merintis TinTin Chips dari dapur rumah ibunya. Nama TinTin sendiri diambil dari nama ibunya.
Tak disangka, bisnis kecil-kecilan yang dijalani Rina di tengah kesibukannya sebagai karyawan berbuah manis. TinTin Chips laris manis, hingga menggelitik hati kecil Rina untuk berbuat sesuatu. Hatinya rindu untuk membantu anak-anak berkebutuhan khusus yang tak mendapat penanganan yang layak.
ADVERTISEMENT
Sebuah ide mulia pun muncul di benaknya. Rina mengajak adiknya, Wulan Dianasari, yang aktif di organisasi Ikatan Keluarga Anak Difabel (IKADK) untuk membantu kaum ibu yang memiliki anak penyandang disabilitas.
Tintin Chips bertransformasi jadi sociopreneur yang konsisten membiayai terapi anak-anak difabel yang 'dititipkan' Tuhan kepadanya. Di rumah produksinya yang terletak di Bandung, TinTin Chips secara khusus menyediakan area penitipan anak. Ini bertujuan agar para ibu tetap bisa mengawasi anaknya saat bekerja.
TinTin Chips terus berkembang. Omsetnya pun berkembang mencapai ratusan juta.
Hingga setahun lalu, TinTin Chips dipinang maskapai Garuda Indonesia untuk dijual sebagai camilan andalan rute penerbangan internasional. Konsumen Rina pun kebanyakan berasal dari luar negeri.
TinTin Chips yang mulanya hanya menjual biskuit rasa Dark Chocolate, Greentea, Coffee, Cinnamon, dan Yam Cookies, kini berkembang dengan meluncurkan kreasi baru, yaitu keripik kentang Salted Egg dan Rengginang. Semuanya dibuat dengan bahan berkualitas, tanpa pengawet dan MSG.
Pendiri Tintin Chips Rina Trisnawati (Teh Rina)
Pendiri Tintin Chips Rina Trisnawati (Teh Rina) (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
Pada rubrik Inspirasi Womanpreneur kali ini, kumparanSTYLE berkesempatan berbincang dengan Rina Trisnawati. Selama satu jam penuh, kami membahas lika-liku perjalanan kariernya merintis TinTin Chips. Simak percakapan kami di bawah ini!
ADVERTISEMENT
Teh Rina dulunya menempuh pendidikan sekretaris di AMIK Bandung. Bisa cerita sedikit tentang perjalanan karier Anda sebagai karyawan swasta?
Pertamanya saya bekerja di kursus bahasa Inggris Yayasan LIA, di Bandung dan bekerja di sana selama tujuh tahun di sana. Lalu saya pindah ke perusahaan tekstil yang tekanannya sangat tinggi. Saat itu saya tidak tahan dan bekerja cuma tujuh bulan.
Lalu saya mencari pekerjaan di Jakarta, penuh perjuangan karena sempat dibatalkan sepihak meski sudah tanda tangan kontrak. Untungnya, tiba-tiba saya ditawarkan pekerjaan oleh saudara saya, disuruh interview di sebuah perusahaan trading. Saya sempat bekerja di sana, sampai bertemu dengan bos yang sekarang, seorang akuntan publik. Saya sudah bekerja sejak 2002, mulai dari berdiri hingga saat ini. Tapi sebentar lagi saya akan pensiun, dan ingin fokus ke TinTin Chips.
ADVERTISEMENT
Di tengah kesibukan Anda sebagai karyawan, dari mana munculnya ide bisnis untuk merintis TinTin Chips?
Jadi dari dulu saya memang terkenal senang jualan. Dan di Bandung terkenal kalau orang Jakarta datang, suka belanja oleh-oleh makanan, seperti brownies. Makanan Bandung hampir selalu jadi tren di Jakarta.
Banyak oleh-oleh yang membuat wisatawan antre, saya kagum dan berpikir enak sekali kalau bisa punya bisnis seperti itu. Saya baca sejarah jatuh bangun bisnisnya, saya paham bahwa kalau berbisnis harus mau berjuang dan memang tidak mudah.
Mulanya saya bercita-cita ingin jualan makanan yang dari Bandung bisa dibawa ke Jakarta. Bagaimana caranya? Saya mulai dengan jualan segala macam makanan, apa saja saya jual, seperti keripik dan kerupuk.
ADVERTISEMENT
Sampai saya diledek bos saya, 'kamu bisa jual apa saja, batu bara juga bisa'. Untungnya bos saya memahami bisnis ini dan sampai saat ini, dia enggak marah saya kerja sambil jualan. Malah saya dikasih fleksibelitas bekerja beberapa kali seminggu saja.
Bagaimana prosesnya hingga TinTin Chips berdiri tegak seperti saat ini?
Pada 2014, saya ikut kelas inkubator tentang bagaimana cara memulai bisnis. Saat itu saya sudah berniat jualan cookies dan mulai merancang model bisnis serta mempersiapkan segala keperluannya.
Saat itu, untuk desain kemasan saya dibantu oleh teman saya, seorang desainer grafis. Dikasih secara cuma-cuma, gratis. Saya merasa sangat terbantu.
Teh Rina bisa jelaskan misi mulia yang diemban TinTin Chips untuk membantu ibu yang memiliki akan difabel?
ADVERTISEMENT
Saat pesanan mulai banyak, saya tawarkan ide tersebut ke adik saya. Kebetulan adik saya berkecimpung di dunia filantropi yang mengurus anak-anak difabel. Saya ingin mencarikan donasi untuk anak-anak ini agar bisa mendapatkan terapi.
Daripada mengharapkan donasi dari orang lain, lebih baik kita menjual karya. Kukis ini dijadikan produk untuk dijual, supaya enggak malu minta donasi (uang) terus, jadi kalau tergerak membantu tinggal beli produknya saja.
Lalu gayung bersambut, akhirnya terlaksana. Dibuatlah cooking class untuk ibu-ibu yang memiliki anak difabel, sambil anaknya juga dibawa saat bekerja. Kami mengajari cara bikin kukis.
Pendiri Tintin Chips Rina Trisnawati (Teh Rina)
Pendiri Tintin Chips Rina Trisnawati (Teh Rina) (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
Luar biasa. Lalu bagaimana ceritanya TinTin Chips akhirnya bisa dijual di maskapai Garuda Indonesia?
Mereka yang memilih sendiri. Waktu itu ada dari tim Aerofood dari Garuda Indonesia, mencari ke komunitas wirausaha ke Smesco. Mereka mengumpulkan para peserta dan mengkurasi produk-produknya. Saya waktu itu tidak hadir, hanya kirim produk ke sana. Seminggu kemudian saya ditelepon, diminta datang ke sana. Lalu dijelaskan sistemnya, konsinyasi dan harus sediakan beberapa ratus produk karena di setiap pesawat harus ada minimal tiga.
ADVERTISEMENT
Di Garuda Indonesia rute internasional, TinTin Chips dijual USD 7 atau sekitar Rp 100 ribuan. Kalau online di sini jualnya Rp 60 ribu. Setengahnya akan disumbangkan untuk membiayai terapi anak-anak difabel.
Apa kiat jitu TinTin Chips untuk bertahan di tengah persaingan bisnis yang ketat?
Saya dibekali ilmu SEO dari Google Indonesia. Saya belajar Google Bisnisku, setelah dulu cuma bermimpi ingin jadi perempuan inspiratif yang tampil dalam video WomenWill-nya Google. Alhamdulillah sekarang mimpi saya terwujud satu-per satu.
Belajar cara memasarkan produk secara online, yang sangat membantu perkembangan bisnis saya. Sekarang saya jadi paham untuk menggunakan kata kunci ‘makanan sehat’ di Google untuk TinTin Chips.
Jadi kita enggak boleh malas dan berhenti belajar. Terus update ilmu pengetahuan dan inovasi. Lihat saja saya yang sudah ibu-ibu, masih mau belajar teknologi.
ADVERTISEMENT
Adakah hambatan dalam menjalankan TinTin Chips?
Ya hambatan pasti ada, itu biasa. Kendalanya adalah biaya kemasan yang cukup mahal, kalau mau murah harus produksi dalam jumlah sangat besar.
Selain itu ada saja orang yang berkomentar negatif tentang sociopreneur ini dan bilang kalau harga TinTin Chips terlalu mahal.
Ya saya anggap angin lalu saja, meski kadang suka heran sama saudara sebangsa, bukannya mendukung, malah berlaku sebaliknya.
Bersama TinTin Cips, apakah Teh Rina merasa sudah membawa perubahan positif bagi sekitar? Sudah puaskah dengan pencapaian selama ini?
Saya belum puas. Belum cukup, karena ingin mereka (anak-anak difabel) menjadi lebih baik lagi. Tapi ada kemajuan setelah mereka ikut terapi, mereka bisa berjalan, enggak harus dipangku lagi. Saya sangat senang, ya terharu. Tapi bagi saya pencapaian ini belum banyak, baru 10 persen saja.
ADVERTISEMENT
Sebenarnya saya bisa saja berbisnis untuk diri sendiri, tapi kalau enggak bermanfaat untuk orang lain, buat apa? Kita harus banyak memberi, baru akan mendapat hasilnya.
Apa mimpi berikutnya yang ingin Teh Rina wujudkan?
Saya bercita-cita ingin punya pabrik sendiri dan mendirikan TinTin Chips Mart untuk mewadahi produk-produk lokal lainnya. Meski itu prosesnya panjang, tapi saya percaya keajaiban bisa terjadi.
Kalau untuk rencana go international, sebenarnya sudah ada yang minta Titin Chips untuk dijual di luar negeri, tapi izinnya susah dan harus melewati aturan di negara itu. Ada teman di Amerika sudah minta, cuma terhalang aturan saja, harus melalui beberapa tahap.
Saat ini TinTin Chips mau masuk supermarket, semua sedang dipersiapkan dengan baik. Akan ada di Ranchmarket, Foodhall, dan Grandlucky. Saya juga mau masuk ke Bali, karena di sana pintu menuju market asing.
Pendiri Tintin Chips Rina Trisnawati (Teh Rina)
Pendiri Tintin Chips Rina Trisnawati (Teh Rina) (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
Ada pesan khusus yang ingin Teh Rina sampaikan kepada jutaan perempuan Indonesia yang juga ingin berkarya?
ADVERTISEMENT
Sebenarnya banyak perempuan di luar sana punya rencana berbisnis, tapi mungkin kebanyakan mikir dan terus beralasan ‘menunggu momen yang tepat’. Tapi untuk saya, just do it saja. Lakukan saja, karena kalau kebanyakan mikir pasti enggak akan jadi. Toh jalannya pasti akan terbuka, meski ujian di depan banyak juga.
Meski Anda merupakan ibu rumah tangga, tetap harus berkarya. Karena Anda bisa mengaktualisasi diri, juga membantu perekonomian keluarga.
Menjadi ibu rumah tangga tidak salah, kok. Tapi kalau memang punya passion dan bakat, ingin mandiri secara ekonomi, kenapa enggak?
---
Simak cerita perempuan inspiratif lainnya di topik sheinspiresme.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan