kumparan
25 Sep 2018 20:05 WIB

Kampanye Positif Dove untuk Perempuan Indonesia

Para narasumber dalam acara Beauty Talkshow Dove #CantikSatukanKita (Foto: dok. Dove)
Dalam rangka merayakan keberagaman kecantikan perempuan Indonesia dan mendukung terciptanya lingkungan yang positif dan inklusif, Dove membuat gerakan kampanye bertajuk #CantikSatukanKita.
ADVERTISEMENT
Kampanye Dove kali ini dikemas dalam acara beauty talkshow yang menghadirkan perempuan-perempuan inspiratif, seperti Meutia Hatta, mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Butet Manurung, Pendiri Sokola Rimba, Sisi Asih, Influencer dan Pramugari Garuda Indonesia, serta Ira Noviarti, Personal Care Director Unilever Indonesia.
Tidak hanya itu, acara yang digelar hari ini (25/9) di Eastern Opulence Restaurant ini juga mengundang berbagai influencer yang didaulat sebagai model dari kampanye Dove #CantikSatukanKita.
Pada beauty talkshow tersebut, Dove menjelaskan bahwa di tahun 2017 mereka telah melakukan riset kepada 300 perempuan Indonesia yang diberi nama Indonesia Beauty Report 2017.
Hasil riset tersebut menunjukkan 84 persen dari perempuan Indonesia mengaku tidak menyadari betapa cantiknya diri mereka, 72 persen masih percaya bahwa untuk mencapai kesuksesan perempuan harus memenuhi standar kecantikan tertentu, dan 58 persen percaya bahwa kesuksesan bisa diraih berdasarkan penampilan.
Peserta dan narasumber kampanye Dove #CantikSatukanKita (Foto: dok. Dove)
Adanya media sosial ternyata tidak hanya membawa dampak positif, tetapi dampak negatif juga. Pada riset yang sama, ditemukan 38 persen perempuan Indonesia suka membandingkan diri dengan orang lain yang membuat mereka mengalami krisis kepercayaan diri.
ADVERTISEMENT
Selain itu, 92 persen perempuan Indonesia setuju jika setiap perempuan memiliki kecantikan yang berbeda-beda dan 86 persen setuju jika perempuan dapat tampil cantik di usia berapapun.
Riset tersebut menyimpulkan bahwa masih banyak perempuan yang meragukan kecantikannya sendiri karena adanya standar kecantikan tertentu. Dan hal itu terbukti menghambat perkembangan potensi diri para perempuan dan membuat mereka rentan terhadap perundungan.
Ira Noviarti, Personal Care Director Unilever Indonesia (Foto: dok. Dove)
“Tidak dapat dipungkiri bahwa industri kecantikan juga turut menciptakan persepsi tentang standar kecantikan. Padahal cantik itu tidak hanya berasal dari satu dimensi. Kecantikan dari dalam juga bisa memiliki efek yang besar bagi kecantikan fisik kita. Indonesia adalah negara yang paling merepresentasikan kecantikan yang beragam, maka dari itu kita harus merayakan dan mendukung keberagaman kecantikan,” ungkap Ira Noviarti, Personal Care Director Unilever Indonesia.
ADVERTISEMENT
Yang menarik dari peluncuran kampanye dari Dove hari ini adalah kehadiran Butet Manurung, aktivis dan Pendiri Sokola Rimba. Butet yang banyak menghabiskan waktu dengan masyarakat rimba, suku asli di Jambi bercerita mengenai definisi kecantikan dari kacamata para perempuan yang hidup di pedalaman rimba Jambi tersebut.
Menurut Butet, bagi perempuan rimba di Jambi, kecantikan bukanlah sekadar penampilan fisik saja, tetapi lebih tentang kemampuan mereka dalam melakukan sesuatu.
Butet Manurung, Pendiri Sokola Rimba (Foto: dok. Dove)
“Setiap masyarakat adat memiliki tingkat kecantikan tersendiri. Definisi cantik bagi mereka menurut saya lebih adil, karena mereka lebih menilai seseorang dari apa yang dilakukan, bukan dari apa yang terlihat atau secara fisik,” cerita Butet Manurung.
Inisiatif #CantikSatukanKita ini berhasil menjangkau 27 juta orang di Indonesia melalui berbagai platform komunikasi. Salah satunya, melalui partisipan perempuan Indonesia yang telah mengunggah foto diri bersama teman mereka di akun Instagram, sekaligus dengan cerita yang memuji penampilan temannya.
ADVERTISEMENT
Beberapa peserta juga telah berkolaborasi dengan fotografer muda perempuan Indonesia, Diera Bachir yang hasilnya dipamerkan pada acara puncak perayaan kampanye Dove #CantikSatukanKita hari ini.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan