kumparan
8 Maret 2018 11:17

Melibas Derita demi Paras Jelita

Video
Satu sore di awal 2013, Dara Ninggarwati yang sedang makan di kantin kampus Fisipol UGM, Yogya, dikerubuti teman-temannya. Ia diejek habis-habisan karena melakukan sulam alis--salah satu tren kecantikan yang kian digemari kaum hawa.
ADVERTISEMENT
Kawan-kawan Dara kaget karena perempuan 25 tahun itu tiba-tiba muncul dengan alis tebal sempurna. Mereka yang telah lama mengenalnya, tahu betul wajah Dara hanya berhias alis tipis.
“Warna hitam (alisku) enggak bold, berantakan, dan enggak simetris,” kata Dara kepada kumparan, Rabu (7/3). Itu sebabnya sejak kecil ia selalu memilih gaya rambut berponi menutupi dahi. Supaya alis tipisnya tak terlihat.
Jadi, menghadapi ejekan teman-temannya usai dia sulam alis, Dara tak ambil pusing. Ledekan itu tak ada apa-apanya ketimbang beban pikiran soal alis tipis berantakan yang selama ini merundungnya dan membuatnya tampil tak percaya diri.
Sudah lama Dara membayangkan memiliki alis tebal. Ia yakin, alis lebat akan membuat kedua matanya lebih berbinar. Keinginan untuk beralis tebal kian kuat ketika Dara memasuki semester akhir perkuliahan, selangkah menuju dunia kerja.
ADVERTISEMENT
Dara memutuskan harus memperbaiki tampilan alis demi menunjang penampilannya di dunia profesional nanti. “Daripada aku operasi lipatan mata, ada cara yang tidak terlalu menyakitkan untuk membuat mata menjadi lebih hidup, yaitu alis.”
Setelah sulam alis, Dara begitu puas hati. Ia senang melihat alisnya jadi rapi dan lebat. Beginilah seharusnya!
Yang lucu, ujar Dara, seorang teman yang semula mengejek karena ia mempercantik diri lewat sulam alis, malah ikut-ikutan sulam alis. Yeah, tampil memikat memang menggiurkan bagi siapa pun, terutama para perempuan.

Dari teori psikologi evolusi, penampilan jadi salah satu indikator apakah seseorang mau berkenalan dan membina hubungan yang lebih serius dengannya.

- Pingkan Cynthia Belinda Rumondor, S.Psi, M.Psi, Psikolog

Kini tak cuma percaya diri yang didapat Dara. “Sulam alis juga membawaku ke peruntungan asmara. Senang sekali,” selorohnya.
ADVERTISEMENT
Apakah semudah itu? Oh tunggu dulu, alis yang ‘cetar’ bukan tanpa pengorbanan, bukan hadiah dari langit. Tapi diperoleh dengan pergi ke klinik kecantikan. Jadi, paling penting: siapkan dulu anggaran yang cukup.
Praktik sulam alis
Sulam alis. (Foto: Charles Brouwson/kumparan)
Sulam alis pertama Dara membuatnya merogoh kocek Rp 4 juta. Harga itu hasil diskon ulang tahun dari salon tempatnya merawat diri. Tanpa diskon, harga asli sulam alis di salon tersebut Rp 7 juta.
Kali kedua melakukan sulam alis, Dara mengambil ‘paket hemat’ yang jauh lebih murah. Saat itu ia ‘hanya’ menghabiskan Rp 1,5 juta. Tapi, harga menentukan derita. Semakin murah, semakin perih terasa.
Begini, sulam alis ialah menanam tinta pada bagian alis, atau menggambari kulit alis dengan tinta. Seperti tato, praktik sulam alis pun memunculkan rasa perih dan terbakar, sebab kulit bergesekan dengan jarum runcing.
ADVERTISEMENT
Nah, untuk menghilangkan rasa nyeri tersebut, cairan anestesi biasa dioleskan pada alis yang disulam. Itu sebabnya pada sulam alis pertamanya yang seharga Rp 4 juta (setelah didiskon), Dara tak merasa kesakitan. Ia nyaman saja, bahkan tertidur selama satu jam usai sulam alis.
Tapi pada kali kedua ketika ia mengambil harga Rp 1,5 juta, rasa perih benar-benar menerjang. Menurut Dara, “Rasanya seperti kalau lagi ditusuk ujung pensil fresh dari serutan, tapi berkali-kali.”
Namun tentu saja, rasa sakit akibat sulam alis itu mengalahkan rasa sakit hati saat diejek teman lantaran harus sulam alis dulu untuk tampil mempesona. Apalagi, terbukti seorang kawan menelan ludahnya sendiri dengan mengekor Dara sulam alis.
Demi paras jelita, Dara melibas derita.
ADVERTISEMENT
Ia memperoleh hasil memuaskan, yang membuatnya memutuskan untuk juga menyulam bibir. Agar bibirnya merah merona.
“Soalnya bibir bagian bawahku hitam padahal aku enggak ngerokok. Penting (untuk sulam bibir), karena malas saja di-judge orang. ‘Ih, perokok berat ya!’” kata Dara.
Rasa sakit pun kembali ia terjang. Setelah melakoni sulam bibir, Dara harus menutup separuh wajahnya pada bagian hidung ke bawah, karena bibirnya bengkak.
Tapi, tak masalah. Sebab setelah rasa sakit pergi, lagi-lagi hasilnya memuaskan.
Ilustrasi sulam bibir
Sulam bibir. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
Sulam alis dan sulam bibir hanya dua dari sekian banyak metode perawatan tubuh yang digandrungi banyak orang saat ini. Cakupan merawat tubuh ini luas, mulai dari yang membutuhkan waktu untuk berproses seperti diet dan olahraga, sampai cara instan seperti sulam alis dan sulam bibir itu.
ADVERTISEMENT
Kenapa harus susah-susah mempercantik diri? Ya tentu karena merasa tidak puas dengan tubuh atau wajah.
Mengutip data Statistic Brain yang dihimpun pada 2017, sebanyak 91 persen perempuan merasa tidak nyaman dengan tubuhnya dan berniat melakukan diet. Sementara 90 persen gadis berusia 15-17 tahun berniat mengubah bentuk setidaknya satu aspek fisiknya.
Tapi jangan salah, bukan hanya perempuan yang merasa penting untuk memperhatikan penampilan. Berdasarkan survei yang sama, 20 persen laki-laki mempertimbangkan melakukan operasi plastik di masa depan. Sementara perempuan yang berpikir untuk operasi plastik mencapai 40 persen.
Kebutuhan untuk tampil sempurna ini ditangkap oleh industri kecantikan melalui kehadiran ragam layanan. Mulai yang paling dasar seperti tersedianya produk makeup, sampai operasi plastik. Fasilitas-fasilitas tersebut bertebaran, dan bisa didapat dengan mudah di klinik kecantikan yang menjamur.
ADVERTISEMENT
Dunia medis ikut bergeliat dengan berkembangnya dermatologi estetis (aesthetic dermatology), yakni perawatan kulit, rambut, atau tubuh guna memperbaiki penampilan pasien, bukan untuk mengobati penyakit.
Asal punya anggaran, jalan menuju cantik memikat dan tampan menawan terbuka lebar. Alis bisa dilebatkan, kulit bisa dicerahkan, bibir bisa ditebalkan, hidung bisa dimancungkan, kerut wajah bisa dihilangkan, dan lain-lain. Pokoknya zaman sekarang, tidak ada yang tidak bisa.

Semua orang ingin be the best they can be. Ada banyak jalan menuju Roma. Pasien tidak usah terlalu concern dengan harga, karena tugas dokter adalah mendesain treatment plan yang terbaik untuk mereka based on individual needs. Jadi beda-beda untuk tiap orang.

- Dokter Gloria Noverina, Sp.KK.

Derita Demi Paras Jelita
Derita Demi Paras Jelita (Foto: Lidwina Win Hadi/kumparan)
Seperti Dara, Windy Iwandi yang seorang food blogger menjalani sulam alis dan operasi silikon di hidung agar lebih percaya diri di tengah tuntutan pekerjaan yang mengharuskannya berhubungan dengan banyak orang.
ADVERTISEMENT
“Misalkan saya enggak merawat diri, bagaimana mau menunjukkan diri ke orang lain,” ujarnya kepada kumparan.
Ragam layanan yang kini tersedia, menurut Windy, tak cuma membuat seseorang tampil lebih segar dan menarik, tapi juga memangkas waktu untuk makeup.
“Cewek misalnya paling susah bikin alis. Itu butuh waktu lebih lama daripada makeup lain kayak eyeshadow dan eyeliner, tapi paling penting,” tutur Windy.
Ia memutuskan untuk melakukan operasi hidung pada 2014 karena tak nyaman dengan bentuk hidungnya. “Batang hidungnya enggak ada, tapi bawahnya mancung banget. Jadi kayak Pinokio.”
Maka silikon dimasukkan ke batang hidung untuk memperoleh lekuk hidung sempurna.
Saat operasi berlangsung, Windy hanya merasa sakit ketika dokter melakukan suntik bius lokal. Namun usai operasi, ada efek samping yang mesti ditanggung hingga kini--tiga bulan setelah operasi.
ADVERTISEMENT
Bagian hidung yang ditanami silikon terasa ngilu, dan nyeri itu tak cuma sekali-dua kali menyerang, tapi sering. “Sampai sekarang, di ujung hidung kalau ditekan ke atas itu ngilu sedikit,” kata Windy.
Ngilu-ngilu sedikit itu konsekuensi logis, dan Windy menganggapnya lumrah. Rasa sakit adalah jalan yang mesti ditempuh menuju penampilan segar yang diharapkan dapat memperbaiki kualitas hidup.
“Tiap progress pasti ada penderitaannya kan,” ujar Windy.
Pasar Menjanjikan Industri Kecantikan
Pasar Menjanjikan Industri Kecantikan (Foto: Lidwina Win Hadi/kumparan)
Data MarkPlus tahun 2015 menunjukkan, klinik kecantikan menjadi salah satu industri yang paling direkomendasikan konsumen. Ia menempati peringkat ke-5 dengan skor 79, mengalahkan industri makanan cepat saji, operator seluler, dan gadget. Sementara Euro Monitoring mencatat, pertumbuhan produk kecantikan pada 2016 sebanyak 10,6 persen.
Gairah untuk memperbaiki penampilan juga merembet ke dunia medis. Cabang kedokteran dermatologi estetis yang fokus pada pada anatomi kulit manusia, berdenyut kencang, dipengaruhi keinginan pasien untuk terlihat lebih cantik.
ADVERTISEMENT
Tapi hati-hati, jangan sembarang minta cantik tanpa paham perawatan yang tepat. Dokter Gloria Noverina, Sp.KK. yang berpraktik di Beyoutiful Aesthetic Clinic, Gandaria, Jakarta Selatan, mengatakan banyak pasiennya meminta metode spesifik tanpa mengerti esensi dari penanganan tersebut.
Padahal, ujar Gloria, filler bibir, botoks, atau tanam benang, tidak bisa diputuskan begitu saja tanpa pertimbangan medis.
“Misalnya pasien datang ke klinik, ingin menanam benang (untuk mengencangkan kulit) karena ia merasa tampak tua dan kusam. Setelah kami asses (kaji), yang dibutuhkan oleh wajah kusamnya sebenarnya bisa lewat tindakan yang lebih simpel.”

Karena penampilan itu penting, maka orang cenderung menjaga. Tapi menjaga penampilan tak selalu mengubah. Menjaga kebersihan dan kerapian juga menjaga penampilan.

- Pingkan Cynthia Belinda Rumondor, S.Psi, M.Psi, Psikolog

ADVERTISEMENT
Gloria menegaskan, permak wajah bukan macam membeli barang. Sebab kulit memiliki struktur kompleks yang tidak bisa diutak-atik dengan sembrono.
“Estetis itu hanya istilah, tapi semua basisnya tetap medis. Kalau pun setelah diobati tampak lebih estetis dan lebih baik, itu efek samping yang tampak secara mata.”
Pasar Kosmetik di Indonesia
Pasar Kosmetik di Indonesia (Foto: Lidwina Win Hadi/kumparan)
Psikolog Pingkan Cynthia Belinda Rumondor, S.Psi, M.Psi, berpendapat bahwa obsesi terhadap penampilan sempurna bisa membuat seseorang menggebu-gebu meraih hasil, dan mengesampingkan dampak negatif yang mungkin timbul.
“Sangat mungkin kalau misalnya dia cemas terhadap bentuk tubuhnya, harga treatment, rasa sakit untuk treatment, itu faktor berikutnya. Yang penting ada perubahan bentuk tubuh untuk meredakan cemas. Kira-kira seperti itu jalan pikirannya,” ujar Pingkan.
Menurut dia, tak ada yang salah dengan memperhatikan penampilan. Sebab banyak orang, baik laki-laki maupun perempuan, kini hidup dengan tuntutan untuk berpenampilan baik di lingkungan mereka.
ADVERTISEMENT
Tetapi, beberapa orang cenderung menuruti keinginan hati untuk mengubah penampilan, meski sesungguhnya tak perlu-perlu amat.
“Misalnya, sulam alisnya berkali-kali. Atau sulam alis sekali enggak puas, lalu coba lagi dan coba lagi, sampai akhirnya dia sendiri merasa cemas dan terganggu pekerjaannya. Nah, itu baru masuk ke patologis (sakit) atau tidak normal,” ucap Pingkan.
Bila seseorang sudah masuk ke tahap kecemasan akut demi meraih fisik sempurna, maka berhati-hatilah. Sebab artinya ia mengalami body dysmorphic disorder alias penyakit mental lantaran merasa malu terus-menerus atas kekurangan pada tubuhnya.

Penampilan memang penting, tapi penting juga untuk menyayangi diri sendiri. Hidup itu luas. Jangan hanya fokus ke tubuh. Itu akan merugikan.

- Pingkan Cynthia Belinda Rumondor, S.Psi, M.Psi, Psikolog

ADVERTISEMENT
------------------------
Ikuti isu mendalam lain dengan mengikuti topik Ekspose di kumparan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan