kumparan
18 Agustus 2017 17:34

Mengintip Persiapan 2 Desainer Indonesia Sebelum Tampil di KLFW RTW

AirAsia Runway Ready Designer Search 2017 (Foto: Luthfa Nurridha/kumparan)
Jeanne Indriani dan Shella Merina menjadi dua desainer muda yang terpilih mewakili Indonesia dalam ajang AirAsia Runway Ready Designer Search 2017. Mereka berdua akan berhadapan dengan finalis dari 9 negara ASEAN lainnya seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Myanmar, Kamboja, Laos, Vietnam, dan Brunei dalam Grand Finale AARRDS 2017 yang digelar pada acara Kuala Lumpur Fashion Week Ready to Wear 2017 (KLFW RTW) di Pavillion, Kuala Lumpur, hari ini.
ADVERTISEMENT
Saat berbincang dengan kumparan, baik Jeanne dan Shella mengaku jika mereka sudah semaksimal mungkin mempersiapkan semuanya untuk acara ini. Mereka telah siap untuk bersaing dengan finalis dari negara ASEAN lainnya dengan busana yang akan mereka persembahkan.
Shella misalnya, mengangkat tema Visaless, perempuan yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di ESMOD ini akan menghadirkan koleksi yang terinspirasi dari keseragaman negara ASEAN. Biru, merah, kuning, dan putih menjadi beberapa warna yang akan diaplikasikan oleh Shella ke dalam busana semi street style miliknya.
Shella Merina, salah satu finalis AARRDS 2017 (Foto: Andari Novianti/kumparan)
"Awalnya tema besar untuk kompetisi ini kan ASEAN. Aku research dulu ASEAN apa dan ketemu persamaan dari negara-negara ASEAN, yaitu bebas visa. Makanya aku pilih tema VISALESS," cerita Shella saat berbincang dengan kumparan di Hotel Pullman, Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (17/8).
ADVERTISEMENT
"Jadi perempuan tidak hanya akan terlihat mature, tetapi juga terasa bebas, bold, dan nyaman. Aku juga akan main di detail stripes, visible, dan ada sentuhan print stempel passport," lanjutnya.
Jeanne Indriani, salah satu finalis AARRDS 2017. (Foto: Andari Novianti/kumparan)
Sementara itu, finalis asal Indonesia lainnya, Jeanne menuturkan jika dirinya justru mengambil tema Bhineka Tunggal Ika untuk koleksinya ini. Keseragaman yang ada di Indonesia menjadi inspirasi perempuan berusia 20 tahun itu.
"Kan di Indonesia banyak keseragaman, mau menjunjung satu kesatuan. Jadi, related ke semuanya," terangnya.
Jeanne juga mengungkapkan bahwa nantinya busana yang akan dipamerkan dalam kompetisi ini lebih banyak menggunakan anyaman, dengan siluet yang lebih modern dan oversized. "Aku juga pakai bahan linen jadi kesannya lebih tradisional. Di sini aku mau mencampurkan antara modern dan tradisional," ujarnya.
ADVERTISEMENT
Antrean di depan registrasi masuk KLFWRTW 2017 (Foto: Andari Novianti/kumparan)
Saat ditanya apa tantangan terbesar kedua finalis ini, mereka kompak menjawab bahwa sedikitnya waktu yang didapatkan menjadi sebuah tantangan sendiri. Mereka mengungkapkan jika selama persiapan menuju Grand Final ini, mereka harus mengulang ngeprint kain hingga beberapa kali.
"Kita nyelesain semuanya cuma sebulan. Banyak tantangan yang dihadapi, mulai dari cari kain, ngulang ngeprint kain, ngecek volume busana, sampai ngulang jahit pakai tangan," tutur Shella.
Pramugari AirAsia berpose di backdrop KLFWRTW (Foto: Andari Novianti/kumparan)
Hal senada juga diungkapkan Jeanne, bahkan dirinya harus mengulang menjahit baju 3 baju. "Sama seperti Shella, tantangannya mulai dari beli kain, cek volume harus benar. Aku bahkan ngulang 3 baju yang jahitnya lama," tutup perempuan yang juga tengah magang di rumah mode Tri Handoko itu.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan