kumparan
15 April 2019 17:31

Pentingnya Support System Dukung Perempuan dalam Berkarier

Acara CEO Talks di The Sultan Hotel, Jakarta, Rabu (10/4). Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Saat ini kesetaraan gender di dunia kerja masih menjadi tantangan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Padahal, kesetaraan gender diakui dapat memberikan dampak yang baik secara luas. Oleh karena itu, berbagai inisiatif dilakukan untuk mendorong agar perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang nyaman bagi karyawan yang memiliki multi peran, serta mendukung perubahan untuk tercapainya kesetaraan gender di dunia kerja.
ADVERTISEMENT
Mengapa kesetaraan gender menjadi hal yang sangat penting? Karena hasil penelitian Bank Dunia mengungkapkan bahwa tingkat kesejahteraan secara global dapat meningkat 21,7 persen jika kesetaraan gender diimplementasikan. Sebaliknya, human capital wealth secara global akan mengalami kerugian mencapai 160,2 triliun dolar AS akibat adanya kesenjangan gender.
Menanggapi hal ini, di acara CEO Talks yang diadakan oleh Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) dan Investing in Women pada Rabu (10/4) lalu, Sumiyati, Inspektur Jenderal Kementerian Keuangan, mengatakan jika budaya di Indonesia menjadi salah satu faktor mengapa perempuan belum bisa setara secara menyeluruh.
Inspektur Jenderal Kemenkeu Sumiyati dalam acara CEO Talks di The Sultan Hotel, Jakarta, Rabu (10/4). Foto: Nugroho Sejati/kumparan
“Indonesia memiliki banyak suku, dengan budaya, latar belakang, agama, dan adat kebiasaan yang berbeda satu sama lain. Dan di negara ini masih menganut budaya patriarki. Maka seringkali yang dikedepankan adalah laki-laki. Bahkan dari kecil kalau makan, makanan yang banyak selalu disediakan untuk laki-laki. Lalu jika kondisi ekonomi terbatas, yang disekolahkan dulu adalah laki-laki, yang perempuan belakangan. Nah, ini tampaknya sudah dianggap sebagai hal yang biasa. Ini yang harus kita ubah,” ungkap Sumiyati yang hadir menggantikan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang sedang berada di Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
Sejak kecil, bahkan sejak dalam kandungan, perempuan dan laki-laki seharusnya sudah diperlakukan dengan setara. Mulai dari imunisasi hingga biaya sekolah yang dikeluarkan untuk laki-laki dan perempuan itu tidak berbeda. Lalu mengapa perempuan harus mengalami ketidaksetaraan?
“Perempuan tidak dilahirkan untuk cuci piring atau mengambil rapor saja. Kita dilahirkan sama (dengan laki-laki). Kalau kodrat kita sebagai perempuan memang sudah dari sananya tidak bisa dilakukan oleh laki-laki, namun untuk yang lain-lain seperti pekerjaan domestik harusnya bisa dikerjakan bersama,” ungkap Sumiyati yang mengaku mendapatkan dukungan penuh dari suami dan keluarga dalam berkarier dan berprestasi.
Tak hanya itu, menurut Sumiyati, peran laki-laki juga menjadi hal penting untuk mendukung kemajuan perempuan dan dalam menciptakan lingkungan kerja yang setara.
Acara CEO Talks di The Sultan Hotel, Jakarta, Rabu (10/4). Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Ia mencontohkan, di Kementerian Keuangan banyak sekali perempuan yang mendaftar dan memiliki kinerja yang sangat baik. Namun masalah mulai muncul ketika mereka menikah dan memiliki anak. Ada yang suaminya bekerja di luar kota atau di luar negeri, kemudian mereka harus mengurus anak, dan melakukan urusan domestik lainnya. Hal ini menurut Sumiyati membuat perempuan berpikir bahwa mereka tidak perlu berkarier atau tidak lagi memiliki keinginan untuk naik tingkat.
ADVERTISEMENT
Saat itulah supporting system atau dukungan dari laki-laki dan lingkungan sekitar paling dibutuhkan oleh perempuan. “Menurut pengalaman, tampaknya yang harus lebih banyak diedukasi bukan hanya perempuan saja, tetapi laki-lakinya juga. Karena laki-laki yang mempunyai pasangan pekerja itu membutuhkan komitmen yang konsisten sepanjang masa,” tuturnya.
Selain itu, menurut Sumiyati ketika perempuan sudah diberikan kesempatan dan peluang, mereka harus bisa bertanggung jawab dan membuktikan bahwa mereka mampu menjalani perannya.
Work life balance harus benar-benar dijaga. Sehingga anak-anak dan keluarga tidak perlu dikorbankan.
“Saya ingin perempuan Indonesia adalah perempuan yang memiliki sayap. Bisa terbang kesana kemari namun tetap bisa hadir di tengah-tengah keluarga ketika dibutuhkan. Meskipun tidak hadir secara fisik, namun dengan komunikasi yang bagus, anak-anak keluarga dan suami tidak kehilangan,” tutup Sumiyati dalam pidatonya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan