Tekno & Sains
·
9 Mei 2020 19:58

Bos Amazon Mengundurkan Diri untuk Bela Karyawan yang Dipecat

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Bos Amazon Mengundurkan Diri untuk Bela Karyawan yang Dipecat (100060)
Perusahaan e-commerce Amazon. Foto: Charles Platiau/Reuters
Amazon mendapat kritik dari para karyawannya. Para pegawai gudang mengecam perusahaannya karena tidak bisa memberikan perlindungan dan keamanan yang sepatutnya di tengah pandemi virus corona.
ADVERTISEMENT
Selain itu, mereka juga mengeluhkan kecilnya upah dan sulitnya mendapatkan hak cuti sakit yang harus mereka rasakan selama bertahun-tahun. Para pekerja gudang Amazon melakukan aksi protes mogok kerja pada Hari Buruh, Jumat (1/5) lalu, bersama dengan buruh gudang perusahaan lain, seperti FedEx dan Walwart.
Aksi itu mendapatkan dukungan dari para karyawan kantoran Amazon. Sayang, solidaritas ini ternyata tidak berarti apa-apa. Amazon justru melakukan pemutusan hubungan kerja alias PHK kepada mereka yang ikut aksi mogok kerja tersebut.
Kultur antikritik perusahaan membuat salah satu petinggi Amazon, Tim Bray, muak. Demi membela rekan kerjanya yang dipecat karena kritik perusahaan sendiri, Bray memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai VP Software Engineer Amazon.
Bos Amazon Mengundurkan Diri untuk Bela Karyawan yang Dipecat (100061)
Amazon Web Services. Foto: Salvador Rodriguez/Reuters
Pengumuman pengunduran diri itu ia sampaikan lewat posting-an di blog probadinya berjudul ‘Bye, Amazon’. Sosok yang cukup berperan dalam pengembangan teknologi software Amazon mengatakan, Jumat (1/5) lalu merupakan hari terakhirnya bekerja.
ADVERTISEMENT
Amazon memang dikelola dengan sangat baik dan mampu menunjukkan keterampilan yang sangat hebat dalam menemukan peluang dan mengolahnya secara berulang hingga mengeksploitasinya. Inilah kurangnya kepedulian tentang biaya manusia karena mementingkan pertumbuhan tanpa henti serta akumulasi dari kekayaan dan kekuasaan,” tulis Bray dalam posting-an di blognya.
Bray juga menyinggung soal kasus pemecatan di Amazon. Hal itu dialami oleh dua mantan desainer user experience (UX) yang memprotes perusahaan atas perlakuannya terhadap pekerja gudang, Emily Cunningham dan Maren Costa.
“Memecat orang yang mengkritik bukan hanya dampak dari kekuatan ekonomi makro, bukan juga unsur intrinsik dari fungsi pasar bebas. Ini adalah bukti adanya racun yang mengalir dalam budaya perusahaan. Saya memilih untuk tidak menyajikan atau meminum racun itu,” katanya.
ADVERTISEMENT
Bray juga menuliskan pengalaman menyenangkannya selama bekerja di Amazon. Namun, rasa bangga itu pudar setelah melihat perlakukan perusahaan terhadap karyawan yang memprotes kebijakannya.
“Dengan gaji raksasa teknologi dan pembagian saham, ini mungkin bisa menghasilkan jutaan dolar AS untuk saya. Apalagi, saya bisa bilang ini adalah pekerjaan terbaik saya bekerja bersama orang-orang yang sangat baik. Jadi saya cukup sedih,” cerita Bray.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)
***
Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.