Tekno & Sains
·
18 Agustus 2020 17:28

Irama dari Halmahera: Ketika Inspirasi Berjumpa Simpati

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Irama dari Halmahera: Ketika Inspirasi Berjumpa Simpati (125)
Kalawai Rap, grup musik asal Halmahera. Foto: Dok. Sony Hatibin

“Kami punya kegelisahan yang sama. Kerusuhan terjadi lagi di Tobelo. Kalau demo terlalu mainstream, maka kami bikin lagu saja.”

- Victor, Kalawai Rap

Kerusuhan Maluku tahun 1999–2000 menorehkan luka mendalam bagi warganya, tak terkecuali Sony. Kedua orang tuanya terbunuh dan ia mengungsi. Di sana, ia bertemu anak-anak lain sesama korban konflik Maluku. Di antaranya ada Victor, Melky, dan Deny.
Ketika itu, keempatnya masih kecil. Mereka lantas tumbuh bersama resah. Tiap kali melihat perbedaan menyulut percik konflik, mereka langsung gelisah.
Dari pergolakan batin keempatnya itu muncullah Kalawai, grup musik rap dengan lirik-liriknya yang tajam menyuarakan kegelisahan.
Lirik tajam menikam itu pas benar dengan nama mereka: Kalawai.
Irama dari Halmahera: Ketika Inspirasi Berjumpa Simpati (126)
Kalawai Rap, grup musik asal Halmahera. Foto: Dok. Sony Hatibin
Kalawai adalah senjata khas Maluku. Orang-orang Halmahera zaman dulu menggunakannya sebagai alat untuk bela diri. Kalawai juga biasa dipakai nelayan untuk berburu ikan. Itu sebabnya ia bernama kalawai—“Kala” bermakna “tikam”, dan “wai” bermakna “air”.
Jadi, dengan kalawai, nelayan Maluku membuat tikaman-tikaman di air untuk menangkap ikan.
Tapi, Kalawai yang satu ini bukan hendak menikam ikan di air laut. Mereka ingin menikam perbedaan, permusuhan, dan kesenjangan sosial—lewat musik rap.
“Kami ingin menyuarakan perdamaian. Kami ingin menyampaikan pesan dan kritik membangun untuk daerah kami, Halmahera, dan lebih luas lagi untuk Indonesia,” kata Sony.
Lagu perdana mereka, “Peace for Halmahera”, kental menyuarakan jeritan perdamaian itu.
Video

Dari Halmahera ke Salatiga

Meski anggotanya sama-sama berasal dari Maluku, Kalawai justru terbentuk di Salatiga, Jawa Tengah, pada Agustus 2012.
Ketika itu Sony Kristian Hatibin, Victor Lodewyk, Melky Molle, dan Raden Harist Hatibin (Deny) sama-sama berkuliah di Salatiga. Dan di satu warung pisang goreng di sudut Salatiga, mereka sepakat berkarya bersama demi satu Maluku.
Inspirasi-inspirasi mereka pun bertemu teknologi yang memudahkan jalan mereka untuk berkarya. Waktu itu, Sony dan kawan-kawan memanfaatkan internet untuk mencari informasi seputar rap; dari tren rap hingga fesyennya.
“Internet banyak membantu kami dalam membuat lagu, sebab kami perlu mencari referensi musik, tutorial, sampel instrumen, sampai gaya rap dari dalam maupun luar negeri,” ujar Sony.
Browsing baginya jadi lebih lancar dengan kartu SimPATI dari Telkomsel di ponsel. Sejak zaman masih 3G sebelum tahun 2014, jaringan Telkomsel sudah kuat di Maluku. Kemudian era 4G, koneksi internet Telkomsel kian cepat dan makin memudahkan orang-orang macam Sony untuk mencari referensi dalam berkarya. Memutar video YouTube pun tak ada buffering lagi.
Biasanya, setelah mencermati berbagai referensi di jagat maya, Sony dan Kalawai memilah-milah mana bahan yang mau mereka gunakan untuk kemudian dikombinasikan dengan gaya orisinal mereka selaku pemuda Maluku.
“Ambil gaya rap luar, lalu kolaborasikan dengan lirik daerah,” kata Sony. Kalawai memang tak ragu berlagu dalam bahasa Halmahera.
Sampai sekarang, Sony tetap rajin browsing dan jaringan Telkomsel lah yang dia percaya untuk mencari informasi tersebut.
“Karena saya aktif ngerap walau sekarang sudah kerja. Saya update siapa rapper-rapper baru Indonesia, cari tahu rapper mana yang lagi booming. Jadi saya banyak nonton YouTube,” ujarnya dalam obrolan Minggu siang (16/8).
Lewat internet Telkomsel pula, Kalawai mengunggah karya-karyanya sehingga bisa dinikmati banyak orang—dari Halmahera sampai Belanda. Lagu-lagu Kalawai bisa anda nikmati di sini:
“Internet membuat pesan perdamaian yang kami sampaikan lewat lagu-lagu kami bisa didengar banyak orang di mana pun mereka berada. Semakin banyak orang bisa mengenal Halmahera dan berbagai isu sosial yang ada di sana,” tutur Sony.
Halmahera—dan Maluku secara keseluruhan—memang terkenal dengan para musisinya. Ambon di Maluku sampai dinobatkan UNESCO menjadi salah satu Kota Musik Dunia.
“Di daerah kami—Halmahera—dan sekitarnya, banyak anak-anak muda yang juga punya karya musik seperti kami. Mereka lihat di internet banyak musisi lokal yang sukses bermusik, sehingga itu menjadi inspirasi dan motivasi mereka dalam berkarya,” kata Sony.
Ia yakin, teknologi akan membuka lebih banyak kesempatan bagi anak-anak muda di timur Indonesia. “Dengan informasi yang lebih mudah diakses lewat ponsel, banyak inspirasi dapat digali untuk berkreasi,” ujarnya.
Irama dari Halmahera: Ketika Inspirasi Berjumpa Simpati (127)
Kalawai Rap, grup musik asal Halmahera. Foto: Dok. Sony Hatibin
Sampai saat ini, lagu-lagu Kalawai masih terus relevan, termasuk pada momen 17 Agustus yang mengingatkan kita akan pentingnya persatuan.
Filosofi lagu perdana Kalawai, “Peace for Halmahera”, menurut Sony pas benar untuk Indonesia. Sebab, Maluku adalah Indonesia.
Maluku harus terus bersatu, seperti juga Indonesia yang di masa pandemi ini harus bersatu dan bergerak maju bersama.
Sony sendiri sudah mengikhlaskan kemalangan yang menimpa keluarganya pada kerusuhan Maluku. “Sudah cukup … Kalau beta seng memaafkan, maka dendam itu akan terus sama-sama dengan beta.”
Torang samua sio basudara Baku pegang tangan mari bersatu
Video
Artikel ini merupakan bentuk kerja sama dengan Telkomsel