kumparan
7 November 2017 19:55

Marie Curie, Satu-satunya Perempuan yang Meraih Nobel Dua Kali

Marie Curie (Foto: Wikimedia Commons)
Tepat satu setengah abad yang lalu, 7 November 1867, seorang bayi perempuan lahir di Kota Warsawa. Saat si bayi lahir, kota yang kini merupakan ibukota Polandia itu, masih merupakan wilayah Kerajaan Rusia.
ADVERTISEMENT
Nama bayi itu adalah Marie Salomea Skłodowska .
Kedua orang tua Marie adalah guru. Mereka sangat menekankan pentingnya pendidikan bagi putri mereka. Alhasil, Marie pun tumbuh sebagai gadis yang cerdas dan penuh rasa ingin tahu.
Pada 1891, saat usianya masih 24 tahun, Marie pindah ke Paris, Prancis, untuk melanjutkan studinya. Di sana ia bertemu dengan Pierre Curie, lelaki yang kemudian menikahinya. Sejak saat itu, namanya lebih dikenal sebagai Marie Curie.
Pierre dan Marie sama-sama merupakan ilmuwan yang memiliki ketertarikan pada bidang penelitian radioaktif.
Pada 1898, pasangan suami istri itu menerbitkan laporan ilmiah terkait penemuan unsur radioaktif polonium dan radium. Dua unsur ini merupakan dua unsur radioaktif pertama yang ditemukan. Khusus polonium, unsur ini berhasil diisolasi pada tahun itu juga.
ADVERTISEMENT
Polonium diambil dari nama Polandia, tempat kelahiran Marie Curie. Sedangkan nama radium diambil kata ray yang dalam bahasa Latin modern disebut “radius” dan dalam bahasa Prancis disebut “radium”. Kata ray ini dimaksudkan atas kekuatan radium dalam memancarkan energi dalam bentuk sinar ray.
Pada 1903, bersama Henri Becquerel, pasangan suami-istri Curie dianugerahi Hadiah Nobel Fisika. Marie dan Pierre disebut berkontribusi besar karena telah melakukan penelitian luar biasa terhadap fenomena radiasi yang pertama kali ditemukan oleh Becquerel pada 1896.
Marie dan Pierre Curie (Foto: Wikimedia Commons)
Tiga tahun berselang, Marie terpaksa menjanda. Pada 19 April 1906, Pierre meninggal dalam sebuah kecelakaan.
Namun meski sang pendamping hidupnya telah tiada, Marie tetap giat melanjutkan berbagai penelitian. Rasa ingin tahunya yang besar terhadap radioaktif mengantarkannya pada penemuan-penemuan baru berikutnya.
ADVERTISEMENT
Pada 1910 Marie sukses mengisolasi radium dan mewujudkan unsur radioaktif itu dalam bentuk logam murni. Keberadaan elemen radioaktif itu pun semakin terbukti tanpa keraguan lagi.
Selain berhasil mengisolasi unsur radium, Marie juga sukses mendokumentasikan sifat-sifat dari unsur radioaktif itu beserta senyawa-senyawanya.
Pada 1911 ia dianugerahi Hadiah Nobel Kimia atas penemuannya terhadap unsur polonium dan radium, keberhasilannya mengisolasi radium, dan ketekunannya mendeskripsikan sifat-sifat dan senyawa-senyawa elemen tersebut.
Dengan Hadiah Nobel Kimia itu, maka Marie Curie menjadi orang pertama yang pernah meraih Hadiah Nobel dua kali. Hingga saat ini, ia merupakan satu-satunya perempuan yang pernah meraih Hadiah Nobel dua kali.
Akibat sering meneliti dan terpapar unsur-unsur radioaktif, Marie terkena penyakit aplastic anemia. Aplastic anemia adalah penyakit langka yang menyebabkan sumsum tulang tidak menghasilkan cukup sel darah, mulai dari sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit.
ADVERTISEMENT
Akibat penyakit tersebut, pada 4 Juli 1934, Marie akhirnya mengembuskan napas terakhirnya.
Meski raganya telah tiada, jasa-jasa Marie Curie selalu dikenang dunia hingga kini. Senyawa radioaktif yang ia teliti merupakan sumber radiasi yang penting, baik dalam percobaan ilmiah maupun bidang-bidang lain seperti industri, geologi, hingga kedokteran, seperti misalnya untuk mengobati tumor.
Tak hanya meninggalkan jejak karya yang luar biasa, perempuan yang senantiasa menyebarkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan ini juga meninggalkan generasi-generasi yang luar biasa cemerlang.
Marie memiliki dua anak. Anak pertamanya, Irène Curie, juga berhasil berhasil meraih Nobel. Pada 1935 Irene bersama suaminya, Frederick Joliot, dianugerahi Hadiah Nobel Kimia atas keberhasilan mereka menemukan radioaktivitas buatan.
Irene dan Marie Curie (Foto: Wikimedia Commons)
Adapun anak kedua Marie, Ève Denise Curie, juga tak kalah brilian. Ia adalah seorang jurnalis yang pernah menulis buku biografi ibundanya berjudul Madame Curie dan buku reportase perang berjudul Journey Among Warriors.
ADVERTISEMENT
Sejak tahun 1960-an ia memutuskan untuk bekerja di UNICEF untuk menolong anak-anak dan para ibu di negara-negara berkembang.
Pada 1965, saat menjadi direktur UNICEF, Eve berhasil meraih Hadiah Nobel Perdamaian bersama suaminya H.R. Labouisse.
Seandainya Marie Curie masih hidup, maka hari ini ia genap berusia 150 tahun. Selamat ulang tahun, Madame Marie!
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan