kumparan
14 Juli 2017 14:36

Mereka yang Mengobarkan Bendera Perang Melawan Hoax

Tiga Sosok Melawan Hoax
Tiga Sosok yang vokal melawan hoax. (Foto: Aditya Panji, Muhammad Fikrie/kumparan)
Berita palsu dianggap sebagai musuh demokrasi. Siapa saja bisa jadi korban dan tanpa sadar turut menyebarkan hoax. Terima kasih Tuhan, ada segelintir orang yang sangat sadar dengan bahaya hoax dan tidak mau berdiam diri begitu saja. Di sejumlah negara, ada segelintir individu yang rela meluangkan waktunya untuk melakukan pengecekan fakta sampai dengan melakukan verifikasi langsung dengan pihak yang dikaitkan dalam konten hoax. Ada juga lembaga yang dengan sadar maju di garda terdepan memantau hoax dan meluruskan kabar. Kerja keras mereka kemudian mendapatkan dukungan dari berbagai pihak dan pemerintah lalu jadilah ia sebuah gerakan masif. Individu yang dengan lantang mengobarkan bendera perang melawan hoax itu juga terjadi di Indonesia. Mari kita mulai kisah ini dari Tanah Air kita tercinta. Indonesia: Septiaji dan Mafindo 2017 adalah tahun dimulainya kita semua melawan konten hoax yang makin lama semakin mengkhawatirkan. Perang melawan hoax ini diinisiasi oleh Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) yang di belakangnya ada Septiaji Eko Nugroho (39 tahun). Aji, begitu ia biasa disapa, adalah warga yang bekerja sebagai pengusaha di Wonosobo. Dia sejak tahun 2016 telah bergerak untuk memerangi hoax dan semangatnya ini disampaikan hingga ke kota-kota besar lain seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Semarang. Komunitas anti hoax berawal dari sebuah grup diskusi di Facebook, yang khusus mencari dan melakukan klarifikasi terhadap konten hoax. Orang-orang di dalamnya kemudian sepakat untuk membentuk komunitas yang lebih serius untuk melakukan literasi media ke sekolah sampai kampus, kemudian desa sampai kota. Mafindo saat ini mengaku sedang membangun sebuah sistem teknologi yang kelak bisa memberi petunjuk soal konten yang benar dan yang palsu. Komunitas ini juga telah mendapat dukungan dari Polri, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Dewan Pers, Aliansi Jurnalis Independen. "Kami juga akan bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi terkait dengan isu-isu korupsi, dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk konten hoax terkait kesehatan," kata Septiaji dalam sebuah konferensi di Singapura, Kamis (13/7).
ADVERTISEMENT
Video
Keseriusan Septiaji dan teman-teman untuk memerangi hoax bahkan sudah mencapai ke tahap merekrut profesional yang akan mengecek fakta. Menurut rencana, Mafindo akan merekrut empat orang karyawan penuh waktu yang setiap hari akan bertugas melakukan pengecekan fakta atas kabar burung yang beredar di media sosial, pesan instan, dan Internet. Mafindo disebut Aji telah memiliki 100 relawan aktif yang dengan senang hati mengecek fakta, tetapi itu dilakukan para relawan jika mereka punya waktu luang. Oleh karena itu, pengecekan fakta menurutnya, harus dilakukan oleh profesional yang memang punya tugas dan tanggung jawab tersebut. Thailand: Inisiasi Jurnalis TV Gerakan melawan hoax di Thailand sudah disampaikan lewat sebuah video, infografis, bahkan memakai sistem bot di aplikasi pesan instan. Gerakan besar ini, bisa lah disebut berawal dari seorang jurnalis televisi bernama Peerapon Anutarasoat (38).
Peerapon Anutarasoat
Peerapon Anutarasoat melawan hoax di Thailand. (Foto: Aditya Panji/kumparan)
Peerapon sejak 2015 hingga sekarang bekerja di stasiun televisi Thai News Agency MCOT. Dua tahun lalu, dia menginisasi dibuatnya sebuah program yang khusus melakukan klarifikasi atas kabar-kabar burung yang bertajuk "Sure-gorn-Share" yang jika diartikan dalam bahasa Inggris adalah: Make sure before sharing. Program ini tayang perdana pada Maret 2015 di Channel 9 (MCOT) dan masih bertahan sampai kini. Di Negeri Gajah Putih, ternyata banyak sekali beredar konten hoax yang berkaitan dengan kesehatan. Kondisi ini cukup berbeda dengan Indonesia, yang kebanyakan konten hoax-nya adalah terkait dengan isu politik, lalu SARA (suku, ras, dan antar golongan), menurut riset Masyarakat Telematika Indonesia.
ADVERTISEMENT
Jika ada kabar burung yang beredar di masyarakat Thailand, Peerapon dan tim akan bergerak cepat untuk menanyakan kebenaran hal tersebut kepada narasumber atau lembaga yang terkait. Sekarang, program ini bukan cuma tayang di televisi, tetapi juga diterbitkan di media sosial YouTube melalui akun TNAMCOT, lalu lewat akun SureAndShare di Facebook, Twitter, dan Instagram.
Video
MCOT mengatakan saat ini sudah ada 400 konten video dan lebih dari 100 infografis yang mereka buat untuk meluruskan informasi yang salah. MCOT juga mengklaim konten mereka telah meluruskan 80 persen informasi salah di antara orang-orang Thailand. Usaha Peerapon dan TNAMCOT tidak berhenti sampai di situ. Mereka membuat sistem bot di aplikasi Line yang memungkinkan warga setempat mendapatkan jawaban atas sebuah kabar yang belum terkonfirmasi. Line sendiri merupakan aplikasi pesan instan terbesar di Thailand. "Warga akan mendapatkan jawaban berupa 'Sure' untuk kabar yang benar, dan jawaban 'Fake' jika berita itu terindikasi palsu," kata Peerapon kepada kumparan di Singapura, Kamis (13/7). Jepang: Social Listening Team Pada Oktober 2013, sebuah proyek baru dimulai oleh kantor berita NHK asal Jepang. Mereka mendirikan kelompok baru bernama Social Listening Team yang disingkat sebagai SoLT. Tim ini dipimpin oleh Yoshinori Adachi yang menjabat sebagai senior manajer jaringan berita dan digital. SoLT bekerja memantau linimasa Twitter dan Facebook selama 24 jam sepekan, 365 hari per tahun. Dari sana tim berusaha untuk mendengarkan suara-suara dari pengguna media sosial sekaligus menyisir jika ada berita palsu. NHK memiliki jaringan jurnalis yang kuat di seantero Jepang. Ketika terjadi suatu peristiwa penting, jurnalis bisa segera menyambangi lokasi kemudian melakukan peliputan untuk mengumpulkan data dan verifikasi berita. Walaupun tujuan utama adalah memberikan berita ke ruang redaksi, tetapi informasi dari jurnalis di lapangan itu aktif dilaporkan ke tim SoLT yang akan meluruskan rumor, klaim, ataupun cerita palsu. Dengan cara seperti ini NHK berupaya tetap menyampaikan informasi yang tetap kredibel melalui media sosial.
Yoshinori Adachi
Yoshinori Adachi melawan hoax di Jepang. (Foto: Aditya Panji/kumparan)
Ketiga orang yang mendedikasikan dirinya melawan hoax ini menemukan bahwa ada hoax yang memang disebar ketika sebuah insiden baru saja terjadi. Mereka pun menemukan ada pula pihak yang melakukan daur ulang informasi untuk kemudian menjadikannya sebuah hoax, misalnya dengan memanfaatkan foto atau video lawas untuk direproduksi kembali bersama informasi yang salah sehingga ia menyebabkan sebuah ketakutan baru. Semangat pengecekan fakta yang dilakukan orang individu ini harus terus dijaga dan membutuhkan dukungan dari pihak-pihak lain, terutama dari media massa yang seharusnya lebih aktif dalam menangkal hoax. Tim di kumparan (kumparan.com) sendiri memiliki program konten bertajuk "Hoaxbuster" yang secara aktif memverifikasi kabar burung yang beredar di media sosial atau pesan instan. Ada hoax yang disebar dengan motivasi politik, untuk mempengaruhi opini publik terhadap suatu isu, dan saat ini diketahui pula bahwa ada hoax yang sengaja diproduksi oleh pihak lain untuk mencari keuntungan finansial. Jangan mudah percaya dengan kabar yang mengatakan makan jengkol bisa mengecek kesehatan ginjal, karena jengkol itu sendiri mengandung asam jengkolat yang justru bisa mengkristal dan membentuk batu ginjal. Hoax memang jahat!
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan