kumparan
27 April 2019 14:32

Perjalanan Digital Detox Adjie Santosoputro Melawan Candu Media Sosial

Adjie Santosoputro, praktisi kesehatan mental. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
Denting notifikasi bertubi-tubi terdengar dari smartphone di ujung tempat tidur. Adjie Santosoputro segera meraih dan menatap layar smartphone. Ia bahagia melihat tulisan yang ia bagi di media sosial dapat banyak perhatian dan pujian dari pembaca.
ADVERTISEMENT
Adjie menjadikan media sosial sebagai wadah untuk merasa diakui dan dihargai atas karya dan berbagai tulisannya yang inspiratif. Itu berlangsung sejak tahun 2012 ketika dia mulai menulis tentang psikologi di blog. Likes, Retweet, Follower, adalah hal penting yang mendefinisikan diri Adjie di luar sana.

“Saya pengin yang saya bagikan itu diakui. Pengakuan itu diwujudkan dalam Likes. Semakin banyak yang Likes berarti saya diakui,” ungkap Adjie.

Dia menjadi lebih sering memegang smartphone. Membuka dan terus membuka aplikasi media sosial. Semata untuk melihat respons publik atas apa yang dia bagi.
Adjie Santosoputro, praktisi kesehatan mental. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
Suatu hari, hanya sedikit denting notifikasi yang terdengar. Semakin memerhatikan Likes dan Retweet yang ia dapat, semakin resah Adjie melihat penambahan angka yang tidak seberapa. Itu terjadi bukan satu dua hari saja. Adjie gelisah dengan kondisi ini. Di luar itu, dia juga sering kali merasakan penurunan kualitas pada pekerjaannya sehari-hari.
ADVERTISEMENT
Adjie mengakui dirinya telah kecanduan media sosial. Ada yang tak beres dengan kondisi ini karena mulai mengganggu ketenangan. Dia sangat paham dengan hal itu, secara dirinya adalah seorang psikolog.
Adjie lulus dari jurusan psikologi Universitas Gadjah Mada pada 2006. Bidang ini terus didalami. Sejak 2010 dan sampai sekarang, Adjie sering diundang untuk berbagi tentang mindfulness. Tiga buku tentang psikologi sudah dia tulis: "Sejenak Hening", "Sadar Penuh Hadir Utuh", dan "Merawat Bahagia".
Terjebak dalam candu media sosial tidak pandang bulu. Siapa saja bisa terjebak di dalamnya, tidak terkecuali seorang psikolog yang sering berbagi tentang kesehatan mental.
Kondisi diperparah ketika dia merasa kehilangan raganya dalam dunia nyata. Wujudnya hadir, namun pikirannya melanglang buana di dunia maya. Ia jarang ikut merasakan kegembiraan saat kumpul bersama teman-teman karena terlalu larut memikirkan “foto yang saya post tadi itu sudah berapa yang Like, ya?”
Ilustrasi sosial media. Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
Adjie juga mulai membandingkan dirinya dengan orang lain. Jiwa kompetitif bergejolak kuat. Merasa tidak lebih baik dari orang lain membuat hatinya sakit. Psikisnya jadi gampang cemas. Mudah sedih. Mudah marah. Kemudian dikaitkan dengan latar belakang dan masa lalu yang tidak melulu menyenangkan.
Adjie tak mau ini terus berlarut. Dia memutuskan untuk melakukan digital detox atau menahan diri dalam memakai perangkat elektronik, media sosial, dan internet. Itu dia lakukan selama 30 hari.
Berhenti dari kebiasaan mengecek media sosial bukan hal yang mudah baginya. Banyak kesulitan yang ia rasakan di fase awal digital detox, seperti merasa hampa. Ada kalanya ia ingin membuka media sosial lagi di saat masa-masa digital detox tersebut. Tapi ia berhasil menahan diri.
ADVERTISEMENT
Jerat candu media sosial sukses ia lawan setelah 30 hari 'masa tenang' tersebut. Adjie mengaku digital detox itu tidak membuatnya benar-benar terlepas sepenuhnya dari media sosial, tapi kini ia bisa lebih fokus dengan apa yang ada di dunia nyata.
“Ketika kita terlalu lama bersosial media, maka kita akan jadi tergesa-gesa. Dan ketika tergesa-gesa, kita akan jauh dari kebijaksanaan. Karena kebijaksanaan itu akan muncul ketika kita meluangkan waktu untuk pause (rehat sejenak),” ujar Adjie.
Adjie Santosoputro, praktisi kesehatan mental. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
Selama masa digital detox itu, Adjie memposisikan diri bukan memusuhi internet. Tentu di era digital seperti sekarang, Adjie masih butuh akses internet untuk berbagai hal dalam kehidupannya, di luar media sosial. Tapi ia tidak berlebihan dalam berinternet, sewajarnya saja hanya untuk kebutuhan penting.
ADVERTISEMENT
Berhenti sepenuhnya dari media sosial memang sulit. Apalagi jika melihat data yang mengatakan rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu 3 jam 26 menit untuk aktif di media sosial. Data ini dirilis dalam riset Global Digital Reports 2019 yang dilakukan platform analisis HootSuite dan agensi pemasaran We Are Social pada Januari lalu.
Riset itu juga mengungkap dari total 268,2 juta penduduk di Indonesia pada tahun 2018, ada sekitar 150 juta di antaranya telah menggunakan media sosial. Dengan demikian, angka penetrasi media sosial sudah sangat tinggi sekitar 56 persen.
Menurut sosiolog Roby Muhamad, manusia saat ini memang sulit dilepaskan dari media sosial. Banyak orang yang menggunakan media sosial sebagai kebutuhan sehari-hari. Media sosial dianggap menjadi wadah pas yang untuk memenuhi kebutuhan psikologi manusia, baik informasi, legitimasi, dan aktualisasi diri.
ADVERTISEMENT
“Orang senang dibicarakan orang. Orang senang dilihat orang. Itu standar psikologi yang sudah ada ribuan tahun pada manusia. Nah, sekarang ada cara cepat untuk mendapatkan perhatian orang, itu yang membuat candu dan mengalahkan akal sehat,” tuturnya saat ditemui kumparan, Rabu (24/4).
Ilustrasi menggunakan sosial media. Foto: Shutter Stock
Dalam penelitian lain yang bertajuk "Internet, Social Media Addiction Linked to Mental Health" dan digarap oleh Dabi-Ellie Dube, ditemukan bahwa semakin lama seseorang bermain di dunia media sosial, maka semakin rentan pula dirinya terhadap isu kesehatan mental.
Penelitian ini diperkuat dengan hasil eksperimen studi lainnya, yakni mereka yang ada di umur 19-32 tahun yang bergabung menjadi responden dan menjadi pengguna sosial media secara intens 2,7 kali lebih rentan merasakan depresi dibandingkan dengan mereka yang lebih jarang memeriksa media sosial.
ADVERTISEMENT
Berbagai bentuk emosi pun rentan terbentuk ketika seseorang terlalu lama terpapar dengan media sosial, seperti perasaan rendah diri, cemas, depresi, merasa kehilangan teman, merasa inferior, susah fokus, hingga kecanduan terhadap media sosial itu sendiri.
Kini, Adjie telah berhasil membebaskan diri dari candu media sosial. Hidupnya jadi lebih tenang tanpa perlu berpikir keras tentang postingan di akun media sosialnya. Tak ada lagi kecemasan soal jumlah Like, Retweet, atau komentar yang ia dapat dari postingannya.
Ia menegaskan, bukan teknologi yang sepatutnya disalahkan atas rasa candu terhadap media sosial, melainkan bagaimana pengendalian diri kita sendiri.

"Ada hal yang membantu kita dengan kecanggihan teknologi, dengan social media, internet, itu ada aspek-aspek yang membantu kita, tapi kitanya sebagai manusia perlu mengendalikan diri supaya tidak kecanduan, tidak berlebihan menggunakannya," jelasnya.

ADVERTISEMENT
Simak ulasan lengkap konten spesial Melawan Candu Media Sosial di kumparan dengan topik Melawan Candu Media Sosial
Video
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan