Kumparan Logo
Nadiem Makarim
CEO goJek Nadiem Makarim melambaikan tangan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Perjalanan Nadiem Bangun Gojek hingga Gabung Kabinet Baru Jokowi

kumparanTECHverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Nadiem Makarim. Foto: REUTERS/Willy Kurniawan
zoom-in-whitePerbesar
Nadiem Makarim. Foto: REUTERS/Willy Kurniawan

Gojek resmi ditinggal oleh pendiri sekaligus CEO-nya, Nadiem Makarim. Keputusan itu diambil Nadiem setelah dirinya menerima jabatan menteri di dalam kabinet pemerintahan Jokowi periode 2019-2024.

"Sudah pasti posisi saya di Gojek sudah mundur, dan tidak ada keterlibatan sama sekali," ungkap Nadiem usai menemui Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (21/10).

"Terhitung hari ini sudah sama sekali tidak ada kewenangan atau posisi apa pun di Gojek," sambungnya.

Meski pengumuman yang diberikan Nadiem mengejutkan publik, sebagian orang mungkin sudah mengantisipasi hal tersebut. Menurut sumber internal kumparan di dalam Gojek, Nadiem sudah berpamitan dengan dengan orang-orang terdekatnya sejak pekan lalu.

CEO goJek Nadiem Makarim melambaikan tangan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Berawal dari Gojek

Bisa dibilang, kesuksesan Nadiem dengan Gojek membawanya ke kursi pemerintahan. Pria kelahiran Singapura, 4 Juli 1984, itu berhasil mengubah citra ojek bukan hanya sebagai jasa transportasi, namun juga layanan penyedia kebutuhan sehari-hari.

Keputusan Nadiem mendirikan Gojek bermula dari permasalahannya ketika naik ojek untuk berpergian. Nadiem adalah orang yang menggandrungi ojek untuk berpergian, namun dia melihat transportasi ini sulit untuk diakses oleh penumpang dan tidak ada standar tarif untuk jarak tertentu.

“Jadi ide awalnya adalah bagaimana menawarkan kendaraan bermotor yang paling cepat. Enggak cuma mengangkut orang, tapi juga mengirimkan barang dengan cepat," kata Nadiem dalam satu kesempatan.

Nadiem Makarim, Founder dan CEO GOJEK Global. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Nadiem tidak sendirian dalam merintis Gojek pada Oktober 2010. Dia ditemani dengan Kevin Aluwi dan Michaelangelo Moran.

Bisnisnya ini dimulai dengan modal pas-pasan. Perusahaan disebut Nadiem kesulitan untuk menarik investor. Dalam sebuah wawancara, Nadiem menuturkan bahwa pada awal Gojek berdiri, kantornya hanya berukuran 5 x 7 meter.

Tidak hanya itu, teknologi yang dipakai masih sangat sederhana. Gojek zaman dulu masih menggunakan call center, yang mengharuskan penumpang menelepon kantor Gojek sebelum perusahaan menghubungi ojek terdekat untuk menjemput mereka. Jumlah mitra pengemudinya kala itu baru hanya 20 orang.

Barulah sejak tahun 2015, Gojek memiliki aplikasi di smartphone. Alih-alih sekadar ojek online, Gojek telah berevolusi menjadi daily super app yang menyediakan segala kebutuhan pengguna melalui ekosistem layanan mereka.

Logo baru Gojek. Foto: Dok. Gojek

Bawa Gojek Jadi Startup Decacorn

Sejak saat itu pula, banyak investor mulai tertarik untuk bekerja sama dengan perusahaan. Menurut laporan Crunchbase, Gojek telah memiliki 28 investor sejak 2014 dengan total pendanaan yang sudah diraihnya mencapai 3,1 miliar dolar AS.

Dengan sokongan tersebut, Gojek mampu menembus status decacorn, gelar untuk startup yang valuasinya tembus 10 miliar dolar AS, per April 2019. Sebelumnya, perusahaan terlebih dahulu mendapatkan status unicorn, sebutan startup yang valuasinya mencapai 1 miliar dolar AS, pada Agustus 2016.

Selain itu, kebesaran Gojek juga dapat dilihat dari ekspansinya ke luar Indonesia. Saat ini mereka sudah membuka cabangnya di Vietnam dengan anak usaha bernama Go-Viet, Thailand dengan unit bisnis Get, dan Singapura dengan nama tetap Gojek.

Nadiem Makarim saat swa foto dengan driver Go-Viet di Hanoi. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Menarik untuk melihat masa depan Gojek setelah ditinggal oleh Nadiem. Nantinya, posisi yang ditinggal Nadiem bakal diisi oleh Andre Soelistyo yang sekarang menjabat sebagai Presiden Gojek dan Kevin Aluwi yang berperan sebagai co-Founder Gojek.

Sekarang, Nadiem sudah resmi masuk dalam kabinet Presiden Jokowi periode 2019-2024. Belum diketahui diposisi mana ia akan ditempatkan. Sumber kumparan menyebut, pria berusia 35 tahun itu akan menempati posisi Menteri Investasi dan Digital. Kementerian ini merupakan pos baru di nomenklatur pemerintahan.

Posisi Nadiem di kabinet baru akan terungkap pada Rabu (23/10) mendatang. Mari kita tunggu.