kumparan
4 Juli 2018 7:06

Perjalanan Tik Tok Asal China: Dibuat untuk Gantikan Musical.ly

Aplikasi Tik Tok. (Foto: Jofie Yordan/kumparan)
Ketenaran aplikasi media sosial berbasis video musik, Tik Tok, telah menjadi fenomena baru di kalangan milenial Indonesia. Kini ketenaran itu dihadapkan pada kenyataan pahit setelah pemerintah Indonesia memutuskan untuk memblokirnya.
ADVERTISEMENT
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) membuat keputusan untuk memblokir Tik Tok karena mengadung banyak konten negatif, terutama bagi anak-anak. Kemkominfo juga telah menerima sejumlah laporan dan aduan dari masyarakat soal konten-konten yang dianggap meresahkan.
Pemblokiran telah dilakukan sejak Selasa siang (3/7) setelah Kemkominfo berkoordinasi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
"Iya betul, Tik Tok diblokir. Ada 8 DNS dari Tik Tok yang diblokir," ujar Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, dalam pernyataan kepada kumparan.
Aplikasi video Tik Tok. (Foto: Bytemod)
Aplikasi Tik Tok memang tergolong baru di Indonesia. Tik Tok pertama kali diluncurkan pada September 2016 oleh perusahan teknologi yang berbasis di China, ByteDance.
ByteDance didirikan oleh Zhang Yiming dan dikenal sebagai perusahaan teknologi yang mengedepankan teknologi kecerdasan buatan dalam distribusi kontennya.
ADVERTISEMENT
Dimiliki ByteDance, Tik Tok dan Musical.ly Bakal Melebur
ByteDance juga memiliki aplikasi yang serupa dengan Tik Tok, yaitu Musical.ly. Aplikasi ini tentu tak asing di telinga milenial Indonesia yang gemar membuat konten video musik lipsync.
Musical.ly sendiri berasal dari Los Angeles, Amerika Serikat. Didirikan oleh Lous Yang dan Alex Zhu. Aplikasi mendapat sambutan yang positif secara global.
Pada 10 November 2017, Musical.ly menandatangani perjanjian yang menyatakan mereka bersedia dibeli dan merger dengan ByteDance. Transaksi pembelian Musical.ly oleh ByteDance dijadwalkan rampung pada akhir November 2017.
Aplikasi Tik Tok. (Foto: Jofie Yordan/kumparan)
Manajemen Tik Tok Indonesia sempat mengumumkan bahwa Tik Tok dirancang untuk melebur dengan Musical.ly. DailySocial melaporkan, peleburan ini diharapkan bisa mendongkrak lebih banyak pengguna dari kalangan generasi Z untuk jadi kreator konten, termasuk di Indonesia. Peleburan ini rencananya bakal diumumkan pada 2018.
ADVERTISEMENT
Selain Tik Tok dan Musical.ly, ByteDance juga mengelola platform portal berita dan informasi dari publik yang ternama di China. Namanya Toutiao. Ini adalah platform berita yang mengandalkan kecerdasan buatan untuk menyuguhkan konten kepada pembacanya.
Kembali kita membahas Tik Tok. Aplikasi ini Tok melesat sejak diluncurkan. Tercatat pada Juni 2018, jumlah penggunanya telah mencapai 150 juta. Ia juga menjadi paling banyak diunduh di iOS pada kuartal pertama 2018, dengan perkiraan 45,8 juta unduhan.
Pemblokiran di Indonesia
Tik Tok melakukan ekspansi ke Indonesia sejak September 2017 dengan harapan meraih keuntungan dan respons yang baik dari para generasi milenal yang sedang tumbuh.
Harapan itu menjadi kenyataan. Sejumlah akun pengguna Tik Tok jadi sorotan, misalnya akun Nuraini dan Bowo Alpenliebe.
ADVERTISEMENT
Sosok Bowo Alpenliebe menjadi viral di media sosial lantaran aksinya lipsync di Tik Tok dan menggelar acara meet and greet di kawasan Kota Tua, Jakarta, pada Mei lalu. Bowo diketahui masih berusia 13 tahun.
Bowo artis Tik Tok (Foto: IG @bowo_alpenliebeindonesia)
Namun, hal ini diiringi juga dengan sejumlah kontroversi. Tik Tok pernah menjadi sorotan ketika netizen membahas kata kunci "aplikasi goblok" di Google Play Store yang mengarahkan kepada aplikasi tersebut.
Netizen yang budiman menilai konten yang ada di aplikasi Tik Tok kurang mendidik bagi anak-anak. Di sinilah muncul keresahan hingga akhirnya muncul desakan publik dan petisi di Change.org agar Kemkominfo memblokir Tik Tok.
Kontroversi yang ditimbulkan oleh Tik Tok berujung pada pemblokiran oleh Kemkominfo. Pemblokiran ini bisa disebut cuma sementara karena Kemkominfo memberi waktu bagi Tik Tok untuk membersihkan konten negatif dari platform-nya.
Aplikasi video Tik Tok. (Foto: Bytemod)
Jika Tik Tok bersedia untuk bersih-bersih konten, membuka kantor di Indonesia, dan merekrut karyawan lokal untuk memantau dan memfilter konten, bisa jadi Kemkominfo akan membuka blokir tersebut dan Tik Tok bisa beroperasi lagi secara normal.
ADVERTISEMENT
"Sebenarnya platform live streaming seperti Tik Tok bagus untuk mengekspresikan kreativitas, namun jangan disalahgunakan untuk hal yang negatif. Setelah bersih dan ada jaminan untuk menjaga kebersihan kontennya, Tik Tok bisa kami buka kembali," kata Menkominfo Rudiantara.
Sekarang, bola berada di pihak Tik Tok. Mereka tinggal pilih mau ikut aturan dari regulator, atau tidak. Tik Tok masih punya kesempatan untuk melanjutkan popularitasnya dan memberi panggung bagi para penggunanya yang mulai meraih ketenaran.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan