kumparan
23 Maret 2018 7:15

Riset UI: Go-Jek Kurangi Angka Pengangguran di Indonesia

Layanan transportasi online Gojek. (Foto: Go-Jek Indonesia)
Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia atau LD FEB UI merilis hasil studi mereka tentang dampak kehadiran perusahaan transportasi panggilan Go-Jek terhadap perekonomian Indonesia. Hasil riset menunjukkan Go-Jek mampu mengurangi angka pengangguran.
ADVERTISEMENT
Paksi Walandouw, salah satu peneliti LD FEB UI, mengatakan tidak sedikit masyarakat kesulitan mendapatkan pekerjaan dengan modal ijazah SMA. Namun dengan keberadaan perusahaan penyedia jasa transportasi online ini, sumber daya masyarakat dengan jenjang pendidikan SMA bisa tertampung.
Penelitian yang dilakukan terhadap 3.315 mitra pengemudi di sembilan wilayah di mana Go-Jek beroperasi, terdapat di antaranya 75 persen mitra pengemudi merupakan lulusan SMA. Sementara 15 persen lain memiliki ijazah perguruan tinggi atau sekolah tinggi, sedangkan sisanya memiliki ijazah SD atau SMP saja.
Tak hanya membuka lapangan kerja baru, Go-Jek juga berhasil meningkatkan pendapatan mitra pengemudi hingga kisaran 44 persen setelah bergabung dalam jaringannya.
Dalam survei, rata-rata pendapatan mitra pengemudi Go-Jek sebesar Rp 3,48 juta per bulan. Angka tersebut 1,25 kali lebih besar daripada rata-rata upah minimum kota di sembilan wilayah survei (Bandung, Bali, Balikpapan, Jabodetabek, Yogyakarta, Makassar, Medan, Palembang, dan Surabaya) sebesar Rp 2,8 juta.
Pasukan pengemudi ojek online GO-JEK. (Foto: www.instagram.com/gojekindonesia/)
Menurut Paksi, kehadiran Go-Jek pada masyarakat Indonesia telah menyebabkan disruptive force yang berdampak positif terhadap kemajuan di bidang sosial dan ekonomi Indonesia.
ADVERTISEMENT
"Sebagaimana semua disruptive force, akan ada pergeseran di dalam konsumsi dan ketenagakerjaan pada masa awal, namun diperkirakan pergeseran-persegeran tersebut tidak akan berlangsung lama sehingga manfaat netto keberadaan Go-Jek pada perekonomian akan terus meningkat di masa depan," kata Paksi, dalam acara pemaparan hasil riset tersebut di kawasan Menteng, Jakarta, Kamis (22/3).
Penelitian berjudul 'Dampak Go-Jek Terhadap Perekonomian Indonesia' ini dilaksanakan pada Oktober sampai Desember 2017 lalu. Selain mitra pengemudi roda dua, studi ini juga melibatkan 3.465 konsumen dan 806 UMKM mitra Go-Jek sebagai responden.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan