Tekno & Sains
·
31 Juli 2021 19:18
·
waktu baca 2 menit

Siapa Sariamin Ismail? Pejuang Sastra yang Tampil di Google Doodle Hari Ini

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Siapa Sariamin Ismail? Pejuang Sastra yang Tampil di Google Doodle Hari Ini (830095)
searchPerbesar
Doodle potret Sariamin Ismail di Google. Foto: Google
Google menampilkan sosok Sariamin Ismail lewat sketsa Google Doodle hari ini. Sariamin Ismail digambarkan sedang menulis di atas kertas dan dihiasi dedaunan membentuk tulisan Google.
ADVERTISEMENT
Ilustrasi ini merupakan buah tangan dari seniman tamu Indonesia, Ayang Cempaka. Google Doodle kali ini spesial dipersembahkan untuk memperingati hari kelahiran Sariamin di tahun 1909.
Hari ini tepat 112 tahun yang lalu Sariamin lahir dan memulai kisahnya menjadi guru, hingga sastrawan di bawah bayang-bayang pemerintah kolonial Belanda.

Siapakah Sariamin Ismail?

Sariamin lahir di Talu, Sumatera Barat, Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Sariamin kecil begitu tertarik terjun di dunia sastra melalui puisi sejak usia 10 tahun.
Saat umur 16 tahun, karya-karya Sariamin mulai terkenal dan terbit di surat kabar lokal. Menginjak usia dewasa, beliau memutuskan untuk menjadi guru setelah lulus pendidikan guru di Meisjess Normaal School tahun 1925.
Sariamin mengajar di berbagai kota di seluruh nusantara seperti Padangpanjang, Bengkulu hingga wilayah paling barat Indonesia yakni Aceh. Bakat menulis sejak kecil tak ditinggalkannya sampai beberapa dekade berikutnya.
ADVERTISEMENT
Karya-karya yang ditulisnya, membuat sosoknya populer dan cukup dikenal dalam jajaran sastrawan angkatan pujangga baru. Ia terbiasa menulis dengan banyak nama sebagai nama samaran. Alasannya sederhana, nama itu digunakan untuk menghindari kejaran pemerintah kolonial Belanda.
"Ismail adalah seorang penulis aktif pada saat suara perempuan Indonesia disensor dan menggunakan banyak nama samaran untuk menghindari penganiayaan dari otoritas lokal," tulis Google dalam situs resminya.
Siapa Sariamin Ismail? Pejuang Sastra yang Tampil di Google Doodle Hari Ini (830096)
searchPerbesar
Sariamin Ismail. Foto: Wikimedia Commons
Sariamin menelurkan beberapa novel. Salah satu yang terkenal adalah Kalau Tak Untung (1933) dengan nama pena Selasih. Karya ini membuatnya tercatat sebagai novelis perempuan pertama di Indonesia.
Novel tersebut terinspirasi dari beberapa kejadian nyata selama hidupnya. Pertama soal kisah tunangannya yang memilih untuk menikahi wanita lain. Novel tersebut juga mengisahkan dua sahabat kecilnya yang saling mencintai namun tak bisa bersatu.
ADVERTISEMENT
Berikut beberapa karya yang dibuatnya selama masa hidupnya:
  • Kalau Tak Untung (1933)
  • Pengaruh Keadaan (1937)
  • Puisi Baru (1946; antologi puisi)
  • Rangkaian Sastra (1952)
  • Seserpih Pinang Sepucuk Sirih (1979; antologi puisi)
  • Panca Juara (1981)
  • Nakhoda Lancang (1982)
  • Cerita Kak Murai, Kembali ke Pangkuan Ayah (1986)
  • Ungu: Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia (1990)
Selain menulis Sariamin juga aktif dalam beberapa organisasi sebelum kemerdekaan. Mengutip Antara, Sariamin sempat menjabat posisi ketua di Jong Islamieten Bond bagian wanita untuk wilayah Bukittinggi.
Di Padangpanjang, beliau juga pernah didapuk menjadi ketua cabang SKIS dan menulis untuk majalah Soeara Kaoem Iboe Soematra. Majalah ini dikelola oleh perempuan.
Sariamin Ismail tutup usia di Pekanbaru, Riau pada 15 Desember 1995 di usianya yang ke-86 tahun.
"Terima kasih telah menginspirasi generasi baru wanita untuk menggunakan suara mereka," ucap Google.
ADVERTISEMENT