kumparan
15 Oktober 2019 19:31

'Tol Langit' Palapa Ring Bikin Tarif Internet Jadi Sama di Semua Kota?

Direktur Utama BAKTI, Anang Latief
Direktur Utama BAKTI, Anang Latief. Foto: Kominfo
Jaringan serat optik internet cepat Palapa Ring atau yang dikenal 'tol langit' akhirnya rampung dan sudah diresmikan langsung oleh presiden Joko Widodo di Istana Negara, Senin (14/10). Salah satu upaya adanya Palapa Ring adalah menciptakan satu tarif internet yang sama antara daerah Indonesia Barat, Tengah, hingga Timur.
ADVERTISEMENT
Tetapi, apakah hal tersebut bisa terjadi? Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti), Anang Achmad Latif, tidak menjelaskan dengan tegas akan terciptanya tarif internet satu harga bisa dilaksanakan.
Menurutnya, sejauh ini adanya jaringan Palapa Ring bisa menciptakan harga layanan internet yang lebih terjangkau. Harga internet antar daerah di Indonesia tidak akan berbeda jauh, antara Jakarta dan Papua atau daerah lainnya, dengan kualitas yang sama.
"Kualitas layanan internet bisa akan sama antara Jakarta dan Papua. Jaringan 4G-nya enggak KW jika ada di Papua, bisa kirim gambar atau video call. Intinya dengan kualitas yang sama dan harga yang ditawarkan akan terjangkau," jelasnya di Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9, Jakarta, Senin (15/10).
Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9
Diskusi Media 'Menghitung Dampak Palapa Ring' Forum Merdeka Barat (FMB) 9 di Kominfo, Selasa (15/10). Foto: Bianda Ludwianto/kumparan
Menurut Anang, saat ini masih ditemukan perbedaan tarif data internet dengan harga di setiap daerah dengan rentang harga yang jauh lebih mahal di Indonesia Timur. Perbedaan ini muncul karena infrastruktur yang kurang baik dan biayanya yang mahal.
ADVERTISEMENT
Sementara dari kacamata operator, tarif internet satu harga akan sulit dilakukan meski sudah ada jaringan Palapa Ring. VP Regulatory Management Telkomsel, Andi Agus Akbar, mengatakan dalam skema yang ada saat ini, hitungan tarif satu harga jadi sulit dilakukan.
Andi menambahkan, Palapa Ring Timur memang berdampak pada pengurangan cost atau biaya pembangunan jaringan transmisi hingga maksimum 30 persen. Namun, untuk pembangunan jaringan hingga sampai ke konsumen butuh investasi infrastruktur lain dengan biaya yang cukup besar.
"Tidak mungkin. Jadi gini, ya, saya sudah jelaskan tadi yang di hemat itu di transmisi. Transmisi itu beralih dari satelit yang lalu turun ke fiber optik yang disiapkan itu 30 persen. Kemudian ada biaya pembangunan jaringan sampai ke pengguna ini juga memerlukan biaya yang besar. Kalau satu harga maka akan butuh subsidi lagi yang besar," jelasnya.
Andi Agus Akbar, VP Regulatory Management Telkomsel
Andi Agus Akbar, VP Regulatory Management Telkomsel. Foto: Bianda Ludwianto/kumparan
Perbedaan pembangunan di wilayah Jawa dan Papua juga menjadi pertimbangan harga. Pembangunan infrastruktur di Pulau Jawa lebih murah dibandingkan Papua. Itu mengapa Palapa Ring disebutnya bisa meringankan beban operator untuk menggelar jaringan di Papua.
ADVERTISEMENT
"Di Papua penggunanya jarang, infrastruktur mahal jadi enggak mungkin sama kaya di Jawa, enggak mungkin pasti lah, tidak logic, mau di subsidi berapa? Tapi dengan harga yang turun sedikit (berkat Palapa Ring), dia merasakan lebih bagus kualitasnya, itu yang perlu kita jaminkan," ungkapnya.
Saat ini, Telkomsel terlibat dalam uji coba Palapa Ring Timur. Rencananya ada 449 site layanan seluler yang akan digelar operator, yang terdiri dari 204 site di Papua, 89 site di Papua Barat, 107 site di Maluku, dan 49 site di Nusa Tenggara.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan