7 Kota Terunik di Dunia, dari Pakai Masker Seumur Hidup Hingga Surga Penjahat

13 Agustus 2020 6:55 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Kowloon Walled City, Hong Kong Foto: Greg Girard
zoom-in-whitePerbesar
Kowloon Walled City, Hong Kong Foto: Greg Girard
ADVERTISEMENT
Kota bukan hanya soal identitas dan bagian dari syarat administrasi. Sebab, sebuah kota selalu hadir menyelipkan daya tariknya tersendiri. Mulai dari kontur alam, sejarah, kebiasaan dan adat masyarakat yang tinggal di dalamnya menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan.
ADVERTISEMENT
Menariknya, di antara sekian banyak kota yang unik tersebut, ada yang sampai mendapat predikat aneh karena berbagai alasan, lho. Ada yang mewajibkan penduduknya memakai masker gas seumur hidup, hingga dihuni hanya oleh kaum hawa saja.
Dihimpun dari berbagai sumber, berikut kumparan rangkum tujuh kota terunik di dunia.

1. Setenil de las Bodegas, Spanyol

Kota Setenil de las Bodegas di Spanyol yang berdiri di bawah tebing Foto: Shutterstock
Salah satu kota di negeri Matador ini dibangun di bawah tebing. Adalah Setenil de las Bodegas, sebuah kota kecil yang berada di kawasan selatan Spanyol. Kota ini berlokasi di Provinsi Cadiz, daerah otonomi Andalusia.
Setenil de las Bodegas dibangun di tengah tebing batu basalt, kerenanya kota ini disebut-sebut sebagai 'kota yang terhimpit batu'. Penduduk kota Setenil de las Bodegas telah bermukim di kota ini sejak zaman Kekhalifahan Almohad pada abad ke-12.
ADVERTISEMENT
Apabila dilacak sejak zaman manusia gua, maka diperkirakan manusia telah tinggal di Setenil lebih dari 25 ribu tahun lalu. Sayangnya, banyak bukti kehidupan yang kini telah terhapus.
Kota kecil Setenil de las Bodegas populer karena pemukimannya yang berada di antara batu tebing Foto: Shutterstock
Bahkan kabarnya, pada abad pertama masehi, Setenil de las Bodegas pernah diduduki Pasukan Roma ketika masa invasi. Sementara itu, ketika diduduki bangsa Moor (penduduk Arab yang menguasai dan tinggal di Spanyol), kawasan ini dijadikan sebagai benteng.
Namun, ketika pasukan Katolik dari Spanyol berhasil menyerang dan mengambil alih, kawasan tebing dijadikan pemukiman bagi penduduk biasa. Tak ada lagi benteng perang, tinggal pemukiman bagi masyarakat setempat.
Nama Setenil berasal dari frasa Latin Romawi, yakni "Septem Nihil" atau "Seven Times No". Frasa ini kemungkinan memiliki keterkaitan dengan invasi yang dilakukan bangsa Roma di masa lalu.
ADVERTISEMENT

2. Neft Daslari, Azerbaijan

Neft Daslari, kota di atas kilang minyak di Azerbaijan Foto: Dok. Wikimedia Commons
Di tengah Laut Kaspia, tepatnya 55 kilometer dari bibir pantai Azerbaijan, berdiri sebuah kota apung Bernama Neft Daslari. Seluruh bangunan kota ini berada di atas pulau buatan yang sekaligus menjadi kilang minyak terbesar di Azerbaijan.
Bahkan, menurut Guiness Book of World Records, Neft Daslari atau yang dikenal dengan Oil Rocks merupakan kota di atas kilang minyak tertua di dunia.
Hal tersebut tak lepas dari Azerbaijan yang selama ini memang dikenal sebagai negara yang kaya sumber daya minyak. Bahkan pada awal abad ke-3 dan ke-4, ditemukan fakta bahwa di sana sudah terdapat pengeboran minyak bumi dan perdagangan sumber daya alam tersebut.
Dilansir Amusing Planet, pengeboran modern dimulai sekitar tahun 1870, setelah Rusia menaklukkan wilayah itu. Pada awal Perang Dunia I, sumur minyak Azerbaijan sudah memasok 175 juta barel minyak per tahun atau sekitar 75 persen dari produksi minyak di seluruh negara itu.
ADVERTISEMENT
Selain jadi kilang minyak terbesar, kota ini memiliki fondasi yang terbilang unik. Seluruh jaringan platform minyak dan pulau-pulau buatan ini saling terhubung melalui jembatan trestle sejauh 300 km.
Bahkan, salah satu fondasinya adalah tujuh kapal yang tenggelam, termasuk di antaranya tanker minyak pertama di dunia. Selama beberapa dekade, di sana muncul 2.000 platform pengeboran terbesar.
Saat platform ini tercipta, pekerja mulai membangun pertokoan, perumahan, lapangan sepak bola, perpustakaan, restoran, dan bioskop. Mereka juga membawa bibit tanaman dari darat untuk ditanam di atas pulau buatan tersebut.
Saat itu, terdapat sekitar 5.000 orang tinggal di sana yang merupakan pekerja dan keluarganya. Namun, seiring berjalannya waktu, Neft Daslari mulai ditinggalkan, karena runtuhnya Uni Soviet dan penemuan ladang minyak baru di tempat lain.
ADVERTISEMENT

3. Miyakejima, Jepang

Ilustrasi penduduk Miyakejima, Jepang. Foto: Twitter: Sarah Crowley
Miyakejima merupakan sebuah pulau yang berada di Jepang dan diklaim sebagai kota paling berbahaya untuk ditinggali. Pulau yang berada dalam kawasan Taman nasional Fuji-Hakone-Izu ini merupakan bagian dari Kepulauan Izu dan berada 180 kilometer dari pulau utama Jepang, Honshu.
Pulau ini memiliki sebuah gunung berapi aktif di bagian tengahnya yang disebut Gunung Oyama. Gunung ini telah meletus beberapa kali sepanjang sejarah. Pada 14 Juli tahun 2000, gunung ini meletus dengan rangkaian letusan yang cukup besar.
Tidak hanya mengeluarkan material vulkanik, gunung ini juga mengeluarkan gas sulfur-oksida (belerang) dalam jumlah banyak. Karena kondisi yang semakin parah, 3.600 penduduk Pulau Miyake dievakuasi dari pulau itu untuk menghindari keracunan gas.
Ilustrasi Miyakejima, Jepang. Foto: Shutter stock
Gunung Oyama masih terus melakukan aktivitas vulkanik dan gas beracun yang merembes dari dasar-dasar tanah. Pulau Miyake kemudian menjadi pulau paling beracun di Jepang.
ADVERTISEMENT
Tahun 2005, saat semua aktivitas Gunung Oyama telah berhenti dan situasi kembali stabil, warga pulau Miyake diizinkan pulang kembali, meski gas beracun masih seringkali mengancam.
Namun, mereka harus mematuhi protokol kesehatan yang diberlakukan oleh pemerintah setempat. Seluruh warga baik orang dewasa dan anak kecil harus selalu membawa dan memakai masker gas agar terlindung dari paparan gas beracun.

4. Noiva Do Cordeiro, Brasil

Desa Noiva do Cordeiro di Brasil yang sebagian besar dihuni wanita. Foto: Instagram @noivadocordeiro
Sebuah desa di Noiva do Cordeiro yang terletak di Belo Vale, Brasil, terbilang unik. Bagaimana tidak, jika desa lain penghuninya beragam, di desa ini justru penduduknya semua perempuan.
Dilansir National Post, kota ini dihuni 600 penduduk yang semuanya adalah perempuan. Desa terpencil di sekitar perbukitan Belo Vale, tepatnya di negara bagian Minas Gerais, Brasil ini kebanyakan dihuni oleh para wanita berusia 20 hingga 35 tahun.
ADVERTISEMENT
Beberapa wanita di Noiva de Cordeiro memang ada yang sudah menikah dan memiliki keluarga, hanya saja para suami mereka harus bekerja jauh dari rumah dan hanya diperbolehkan kembali di akhir pekan. Begitu pula dengan setiap anak laki-laki yang berusia di atas 18 tahun.
Desa Noiva do Cordeiro di Brasil yang sebagian besar dihuni wanita. Foto: Instagram @noivadocordeiro
Walau demikian, para penduduk setempat pun merasa desanya menjadi lebih baik. Salah satu penduduk bernama Rosalee mengatakan bahwa ketika ada suatu permasalahan atau hal yang tidak sesuai, mereka akan menyelesaikan dengan cara wanita pada umumnya dan lebih menghindari konflik.
Sebagian besar wanita di desa ini bekerja di bidang pertanian. Noiva do Cordeiro diperkirakan didirikan oleh seorang wanita bernama Maria Senhorinha de Lima yang dicap sebagai pezina setelah meninggalkan seorang lelaki yang terpaksa dia nikahi.
ADVERTISEMENT

5. Slab City, Amerika Serikat

Mobil yang menjadi tempat tinggal penduduk di Slab City Foto: Shutter Stock
Banyak warga AS kesulitan menghadapi tingginya biaya hidup di kota, sehingga sebagian memilih pindah ke wilayah terpencil yang fasilitasnya sangat minim. Salah satu daerah itu adalah Slab City di gurun Sonora, California.
Slab City dikenal sebagai tempat seniman, pensiunan dan warga miskin tinggal permanen sejak tahun 1960-an. Dilansir berbagai sumber, berlokasi di sekitar Gurun Sonora, Slab City dihuni sekitar 150 penduduk. Tidak ada pajak, biaya sewa, maupun aturan di kota ini.
Karenanya, kota ini sering kali disebut sebagai tempat terakhir di Amerika, di mana kebebasan bisa didapat dengan begitu mudah. Slab City yang dibangun sekitar tahun 1960-an ini dulunya merupakan basis pelatihan tentara AS.
Van yang menjadi tempat tinggal penduduk di Slab City Foto: Shutter Stock
Seiring berjalannya waktu, kota ini menjadi rumah bagi kaum hippi, orang-orang yang mengalami kesulitan finansial, hingga mereka yang ingin merasakan kebebasan.
ADVERTISEMENT
Tidak ada rumah-rumah penduduk permanen di Slab City seperti di kota pada umumnya. Para penduduk justru tinggal di dalam sebuah mobil van, rumah-rumah semi permanen, bahkan gubuk yang dibuat sedemikian rupa layaknya sebuah kamp.
Oleh sebab itu, para penduduk menggantungkan hidupnya dari fasilitas-fasilitas umum terdekat. Untuk air minum saja, mereka harus pergi ke kota terdekat seperti Niland, yang berada beberapa kilometer jauhnya.

6. Kowloon Walled City, Hong Kong

Kowloon Walled City, Hong Kong Foto: Greg Girard
Hong Kong merupakan destinasi wisata yang menyimpan banyak keunikan. Salah satunya, Kowloon Walled City, tempat terpadat di bumi.
Memiliki luas 2.600 meter persegi, Kowloon Walled City menjadi rumah bagi setidaknya 55.000 jiwa dan menampung tumpukan 350 bangunan. Rata-rata satu bangunan memiliki 10 hingga 14 lantai dan diisi 10.700 rumah. Hal itulah yang membuat kawasan ini menjadi tempat paling padat penduduk di dunia.
ADVERTISEMENT
Banyak blok menara tinggi dan sempit di kota itu saling berhimpitan, dan membuat seluruh area tampak seperti satu struktur. Bangunan itu dibangun tanpa campur tangan seorang arsitek.
Kowlood Walled City Hong Kong Foto: Greg Girard
Meskipun ada puluhan ribu orang yang bermukim di daerah ini, Kowloon Walled City hanya memiliki 1 lift saja. Bahkan, untuk sampai di beberapa wilayah yang tertumpuk di belasan lantai ini, tukang pos harus memanjat dinding kota tersebut.
Kowloon Walled City juga dikenal sebagai wilayah tanpa hukum yang banyak ditinggali oleh keturunan bajak laut dan kriminal kelas berat yang tidak diakui oleh masyarakat. Maka tak heran jika Kowloon Walled City dikenal sebagai surganya para penjahat.
Lima kelompok geng Triad juga sempat menguasai area tersebut sebagai lahan penjualan narkoba. Pada tahun 1933, beberapa bangunan kawasan tersebut dihancurkan oleh Pemerintah China agar para penduduk ilegal tidak kembali menempati daerah itu.
ADVERTISEMENT
Sisi kelam Kowlood Walled City pun perlahan-lahan mulai berakhir. Kini, jalan Kowloon menjadi kawasan pusat perbelanjaan murah meriah yang wajib dikunjungi wisatawan yang berkunjung ke Hong Kong.

7. Manshiyat Naser, Mesir

Suasana kota Manshiyat Naser di Mesir. Foto: Getty Images
Manshiyat Naser adalah sebuah kota sampah yang berada di pinggiran Bukit Moqattam di wilayah Kairo. Dilansir Culture Trip, kawasan seluas 5,54 km persegi itu dihuni 262 ribu orang yang berprofesi sebagai zabbaleen atau pemulung.
Penduduk setempat memanfaatkan limbah bekas masyarakat Kairo untuk bertahan hidup. Mereka mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah, membawanya pulang, lalu melakukan daur ulang.
Di Manshiyat Naser, sampah bisa kamu temukan di mana-mana. Hampir setiap titik daerahnya berisi sampah, baik di tepi rumah, sudut jalan, hingga atap, kamu bisa menemukan berkarung-karung sampah.
ADVERTISEMENT
Selain kumuh dan kotor karena penuh dengan sampah, Manshiyat Naser juga mengalami kesulitan di infrastruktur, seperti saluran pembuangan, listrik, dan air.
ADVERTISEMENT
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona).
***
Saksikan video menarik di bawah ini: