Begini 3 Cara Kementerian Pariwisata Gaet 20 Juta Wisman di 2019

22 Desember 2018 7:34 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Turis Asal China (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Turis Asal China (Foto: Thinkstock)
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Masih ingat 2019 mendatang pemerintah menargetkan 20 juta wisatawan mancanegara (wisman)?
ADVERTISEMENT
Dalam pelaksanaanya, Kementerian Pariwisata selaku lembaga pemerintah yang diberikan tugas oleh pemerintah, harus bekerja keras dan mengeluarkan berbagai cara mewujudkannya. Salah satunya, mendatangkan 17 juta wisatawan mancanegara (wisman) di tahun 2018.
Dilansir dari keterangan resmi yang diterima kumparanTRAVEL, hingga di penghujung tahun, rupanya, Menteri Pariwisata Arief Yahya, mengatakan bahwa targetnya tercapai sebesar 95 persen atau berhasil mendatangkan 16,2 juta wisman. Ia mengungkapkan bahwa capaiannya tak menyentuh 100 persen, karena adanya bencana alam.
Menteri Pariwisata, Arief Yahya (Foto: Humas Kementerian Pariwisata )
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Pariwisata, Arief Yahya (Foto: Humas Kementerian Pariwisata )
Walau begitu, kabar baiknya adalah devisa yang diharapkan mampu menembus dan berhasil mencapai target.
Good news-nya perolehan devisa pariwisata tahun ini akan menempatkan posisinya sebagai penghasil devisa terbesar, mengalahkan atau sejajar dengan devisa Crude Palm Oil (CPO) sebesar 16 miliar dolar Amerika dan berada di urutan teratas,” kata Arief Yahya.
ADVERTISEMENT
Walau sudah berhasil mendapatkan devisa sesuai yang diharapkan, AY, sapaan akrabnya, juga masih mempunyai pekerjaan yang menanti. Ia harus mendatangkan wisman sekitar 3,8 juta agar berhasil mencapai 20 juta pada 2019 nanti.
Untuk itu, dirinya sudah menyiapkan senjata ampuh yang siap dilaksanakan tahun depan. Adapun jurus yang disebut super extra ordinary ini berupa Border Tourism, Tourism Hub, dan Low Cost Terminal (LCT).
Border Tourism merupakan suatu cara untuk mendatangkan wisatawan internasional dari negara tetangga yang letaknya dekat dengan Indonesia. Arief ingin menerapkan jurus ini, karena penduduk dari negara tetangga memiliki kedekatan (proximity) secara geografis, sehingga wisman lebih mudah, cepat, dan murah menjangkau destinasi di Indonesia.
“Kedua, mereka juga memiliki kedekatan kultural atau emosional dengan kita, sehingga lebih mudah didatangkan. Ketiga, potensi pasar Border Tourism ini masih sangat besar, baik dari Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, PNG, maupun Timor Leste,” jelasnya.
Sejumlah wisatawan melakukan aktivitas di Merlion Park Singapore. (Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah wisatawan melakukan aktivitas di Merlion Park Singapore. (Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan)
Sementara untuk program Tourism Hub merupakan strategi ‘menjaring di kolam tetangga yang sudah banyak ikannya’. Maksudnya adalah wisman yang berada di hub regional, seperti Singapura dan Kuala Lumpur ditarik untuk melanjutkan berlibur ke Indonesia.
ADVERTISEMENT
“Salah satu persoalan pelik pariwisata kita adalah minimnya direct flight dari originasi. Direct flight kita misalnya dari originasi China mencapai 50 persen, artinya 50 persen sisanya masih transit dari Singapura, Kuala Lumpur, atau Hong Kong," ujar Arief Yahya.
"Sementara negara tetangga seperti Thailand atau Malaysia direct flight-nya sudah mencapai 80 persen. Mendatangkan direct flight dari originasi bukanlah hal gampang. Saya minta direct flight dari India ke Bali tiga tahun enggak dikasih. Akan jauh lebih mudah jika kita “menjaring” di hub-hub regional yang sudah banyak wisatawannya,” lanjutnya.
Pesawat AirAsia (Foto: Instagram/@airasia_indo)
zoom-in-whitePerbesar
Pesawat AirAsia (Foto: Instagram/@airasia_indo)
Dalam perhitungannya Arief mengungkapkan jika ada peluang untuk menggaet wisman sekitar 11 juta lebih, dan peluang itu masih terbuka luas. Sementara itu, untuk program Low Cost Terminal (LCT), menurutnya bandara paling siap dikembangkan menjadi LCCT adalah Terminal 1 dan 2 Soekarno-Hatta.
ADVERTISEMENT
"Nantinya Terminal 1 diarahkan menjadi full LCCT penerbangan domestik, sedangkan Terminal 2 full LCCT untuk penerbangan domestik dan internasional. Di samping itu Bandara Banyuwangi juga sedang dikembangkan menjadi LCCT setelah melalui berbagai proses pembenahan." ungkapnya.
Penerbangan menggunakan Low Cost Carrier (LCC) menjadi senjata ampuh untuk mendorong pertumbuhan jumlah wisman. Sebab, maskapai berbiaya rendah menyumbang kontribusi peningkatan kunjungan wisman sebanyak 20 persen. Maka dari itu, LCT dibuat untuk mendorong untuk pertumbuhan LCC.
Bagaimana menurutmu?